Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Wanita bermasalah


__ADS_3

Begitu wanita itu menyeruak masuk di antara semua orang, ikut duduk di antara semua orang, suasana seketika menjadi sedikit enggan.


Orang-orang langsung malas bicara.


Rubi terlihat sibuk dengan sarapan nya, memutar bola mata nya sejenak kemudian kembali fokus pada makanan nya.


Xena langsung menyuapi Rubi dengan makanan nya, meladeni sang gadis kecil yang terus merengek sejak tadi, seolah-olah gadis kecil itu menampilkan wajah tidak suka pada nenek muda yang baru saja tiba.


Mama mertua Elvitania terlihat sibuk meletakkan sarapan di atas piring Elvitania, sesekali dia melebarkan senyumannya pada sang menantu.


Hairam Sejak tadi terus memperhatikan Elvitania dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya, sembari menyesap kopinya laki-laki itu terus menikmati pemandangan di depannya.


Dia suka ekspresi polos Elvitania, wajah indah alami dengan alis lebat, hidung mancung dan bibir yang menggairahkan.


"Bukankah sangat disayangkan saat menantu keluarga Azzura tidak menyapa bibi ke dua nya?"


Suara bibi kedua tiba-tiba memecah suasana.


Wanita itu seolah-olah sengaja untuk mencari masalah.


Mendengar ucapan bibi kedua seketika semua orang menghentikan gerakan tangan mereka.


Awal nya Elvitania menghentikan gerakan tangannya.


"Bukankah itu terdengar tidak sopan, menantu?"


Lanjut wanita itu lagi, bola mata nya Seketika menatap Elvitania dengan pandangan tidak suka.


"Dia hanya sedikit pendiam bi, belum terbiasa dengan silsilah keluarga kita"


Xena bicara cepat, mencoba mencairkan suasana.


Mendengar sang keponakan bicara, wanita itu langsung menoleh.


"Pendiam? belum terbiasa?"

__ADS_1


Wanita itu bertanya sambil menatap Xena dengan pandangan hampir membunuh.


"Karena itu aku bilang, liez jauh lebih pantas menjadi menantu keluarga Azzura ketimbang Merlin atau perempuan ini, aku heran apa yang dilihat Sherkan dari perempuan ini"


Barisan kalimat yang begitu tajam meluncur dari balik bibir wanita tersebut.


Elvitania memejamkan bola matanya sejenak.


"Kenapa bibi membicarakan perempuan lain terhadap kakak ipar? itu terdengar mengerikan"


Rubi bicara sambil menghentikan kunyahan nya.


"Liez? aku tiba-tiba kehilangan selera makan saat mendengar nama itu keluar dari bibir bibi"


Tambah Rubi.


"Wajar saja jika kakak tidak menyukai nya, bibi tidak lupa bukan? dia tidur di kamar yang sama dengan kakak sepupu?"


Seketika bola mata Rubi mengarah ke arah laki-laki yang sejak tadi memandangi wajah Elvitania.


Setelah berkata begitu Rubi langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Aku tiba-tiba merasa kenyang, mom"


Setelah berkata begitu, gadis itu secepat kilat menggeser kursi nya dan beranjak pergi dari hadapan meja makan.


"Hahhh?"


Mendengar ucapan kemenakan nya, wanita itu mendengus tidak percaya, dia langsung menoleh ke arah Mama Sherkan.


"Begitu cara kakak mendidik putri kakak?"


Wanita itu meninggikan suaranya.


"Dia semakin berani menjawab ucapan ku"

__ADS_1


Mama mertua Elvitania terlihat menghela nafasnya pelan.


Seketika suasana menjadi menegang.


Elvitania menghela kasar nafasnya, dia fikir kenapa di rumah orang kaya selalu saja ada yang bermasalah dengan otak mereka.


Demi menghindari situasi yang semakin tidak terkendali, Dia kemudian berdiri secara perlahan, lantas ingin membungkukkan tubuhnya di hadapan wanita itu.


Tapi tiba-tiba bahu nya di Sentuh oleh seseorang, membuat Elvitania tersentak kaget, dia menoleh ke belakang secara perlahan.


Sherkan terlihat memberikan senyuman paling simpul yang pernah dia lihat, meskipun dia benci laki-laki itu menyentuh nya, tapi sentuhan dibahu nya menjadi sebuah kode keras agar Elvitania tidak membungkuk kan tubuhnya pada wanita yang ada dihadapan nya.


Perempuan itu diam, membuang pandangannya kemudian secara perlahan dia duduk saat Sherkan menekan bahunya dengan lembut meminta dia kembali duduk.


"Apa ada yang membuat bibi tidak nyaman?"


Tanya Sherkan tiba-tiba, menatap tajam kearah sang bibi kedua, seolah-olah habis melihat macan, wanita itu langsung mengubah ekspresi nya.


"Ah istri mu tidak menyapa ku"


"Benarkah?"


Sherkan menoleh ke arah Elvitania untuk beberapa waktu, bisa dia lihat istri nya hanya menundukkan kepalanya.


"Tidak heran dia tidak menyapa, bukankah bibi tidak hadir di penikahan kemarin? dia jelas tidak mengenal bibi"


Ucap Sherkan kembali menatap sang bibi, dia mulai duduk tepat disamping Elvitania.


"Tidak biasa nya bibi kemari, apa ada hal khusus yang ingin bibi bicarakan dengan ku?"


Tanya nya pada wanita itu.


"Apakah ini soal uang?"


Tambah nya lagi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Sherkan, Seketika wanita itu menggenggam erat telapak tangan nya.


__ADS_2