Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 41 Y & A


__ADS_3

Melihat ekspresi Madhuri seketika Yash langsung marah besar.


"Apa ibu ingin membunuh ayah secara perlahan? Bagaimana seorang istri tidak memiliki inisiatif untuk melakukan pertolongan pertama untuk suami nya?"


Yash jelas berang, laki-laki tersebut mulai marah dengan apa yang dilakukan oleh wanita dihadapan nya itu.


Bisa dia lihat ayah mertuanya tidak baik-baik saja, mereka telah memasang alat bantu pernapasan, bahkan orang-orang telah mencoba melakukan penyelamatan pertama terhadap laki-laki tersebut.


Dia pikir bagaimana mungkin ada type istri seperti Madhuri yang melarang seorang suami yang sekarat berada di rumah sakit.


"Begini Yash, aku tidak melarang mereka untuk melakukan perawatan di rumah,tapi tidak dirumah sakit"Madhuri seketika merasa tidak enak, dia langsung berusaha meralat dan menjelaskan semuanya pada Yash.


"Bibi pasti bercanda"


Alessia bicara dengan cepat sembari menatap tajam bola mata wanita dihadapan nya itu.


Mendengar ucapan Alessia seketika Madhuri memasang wajah masam nya.


"Bagaimana cara mereka menangani pasien dirumah? Tidak kah bibi menggunakan logika bibi? kita harus menggunakan logika ketika akan melakukan sesuatu, memikirkan resiko kedepan dan apa yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu yang berada di luar kapasitas dokter, dirawat dirumah jelas tertuju pada pasien dengan rawat jalan yang tidak dalam kondisi yang kritis, apa bibi tidak bisa melihat bagaimana kondisi paman saat ini? Kecuali bibi sengaja mempercepat waktu kematian, aku pikir itu akan menjadi alasan masuk akal untuk bibi melarang mereka membawa dan melakukan prosedur operasi untuk paman"


Ucap Alessia kemudian, dia bicara dengan cara yang begitu tenang sembari menatap wanita yang ada di hadapannya tersebut sambil menaikkan ujung alisnya.


Mendengar kata-kata Alessia yang panjang dan lebar jelas saja membuat Madhuri terlihat marah.


"Kau pikir aku berniat untuk membunuh suami ku?"


Tanya nya dengan nada tinggi.


"Bagaimana bisa orang-orang tidak berprasangka seperti itu? Ucapan awal bibi bertanya kepada para pelayan siapa yang berani memanggilkan dokter, apa itu tidak terdengar seperti seolah-olah bibi sengaja agar tidak ada pertolongan pertama dan berikut yang terjadi kepada suami bibi"Alessia bicara memberikan penekanan diiringi tanda tanya besar.

__ADS_1


"Itu jelas menyiratkan bibi sedang menghalangi proses penyelamatan"


Alessia langsung melirik kearah para tim dokter.


"Kau.."


Madhuri jelas marah, tapi dia mencoba untuk menahan amarahnya.


"Bukankah tugas dokter melakukan penyelamatan? Yang harus di utamakan keselamatan sang pasien, urusan keluarga itu akan menjadi urusan belakangan, kalian bekerja untuk keselamatan orang-orang bukan bekerja untuk nyonya Khadafi, jika keluarga pasien menolak pengobatan dalam keadaan mampu, aku pikir kalian berhak melaporkan keluarga atas laporan pembunuhan berencana" Setelah berkata begitu Alessia langsung membuang pandangannya, dia kembali menatap kearah nyonya Madhuri, membuat wanita tersebut mengeram kesal.


Wanita itu menggenggam erat telapak tangan nya, dia benar-benar marah saat ini tapi dia kehilangan kata-kata nya untuk menjawab ucapan pintar dari mulut Alessia.


Baginya gadis itu terlalu sering ingin mencari gara-gara dengan nya, dulu dia pernah berusaha menjebak gadis tersebut, awalnya masih mudah memainkan peran untuk menampilkan wajah seribu pada Alessia, tapi seiring berjalannya waktu gadis itu menjadi semakin pandai dalam memainkan peran nya, belum lagi suaminya terlihat begitu menyukai Alessia yang pandai dan ahli dalam banyak hal.


Belakangan Alessia semakin menjadi ancaman besar untuk mereka karena diam-diam suaminya mulai membawa masuk Alessia ke Khadafi company, memperkenalkan Alessia sebagai Putri angkat nya dan mulai mengajarkan Alessia soal banyak hal.


"Apa kau sedang berencana menyingkir kan putri mu sendiri dan menggantikan nya pada calon istri muda mu itu?" Madhuri bicara penuh kemarahan, dia meninggikan suaranya, menatap suaminya dengan jutaan kecurigaan.


"Apa kau pikir aku menyukai daun muda? Dia sudah seperti menantu ku, dia bahkan aku Anggap seperti anak ku sendiri"


Tuan Khadafi bicara dengan santai, dia beranjak mencoba meninggalkan istri nya.


"Putri mu? Karena itu aku bilang, kau sedang ingin menyingkir Diana dan menggantikan nya dengan Alessia? Anak sialan tidak tahu diri itu?"


Wanita tersebut menarik kasar tangan suaminya, dia kemudian menarik kesal kerah baju Khadafi.


"Dimana sopan santun mu sebagai seorang istri Madhuri?"Tuan Khadafi jelas langsung melotot tajam menatap istrinya tersebut, dia secepat kilat berusaha melepaskan kedua tangan Madhuri dari leher nya.


"Aku telah kehilangan sopan santun ku sejak kamu perubahan mu dalam beberapa tahun terakhir, kau benar-benar seakan-akan menjauhi ku dan Diana tanpa alasan yang jelas"

__ADS_1


"Aku sedang sibuk dengan perusahaan, tekanan kerja semakin besar dimana Diana membuat kekacauan pada perusahaan karena kesalahan nya kemarin, kau tahu berkat Alessia semua menjadi mulai stabil"


"Alessia, again...again.. Alessia again... Aku benci saat kamu mengucapkan nama gadis pelacur itu.."


"Madhuri..."


Itu kali pertama dia mendengar Khadafi meneriaki nama nya selama pernikahan mereka.


"Sekali lagi kau menyebut nya pelacur, aku akan memastikan melempar mu pergi sejauh mungkin bersama Diana dari Manhattan"


"Apa?"


Madhuri jelas terbelalak kaget mendengar ucapan suami nya.


"Kau berani mengancam ku?"


"Ini bukan ancaman Madhuri, tapi ini adalah peringatan dari ku, kau pikir aku tidak tahu jika kau pernah beberapa kali mencoba mencelakai Alessia bersama Diana dibelakang ku dan Yash!" Saat tuan Khadafi berkata begitu seketika Madhuri terlihat gemetaran.


"Apa?"


"Bahkan kau mencoba untuk mencelakai nya dengan mempermainkan rem mobil nya, apa kau pikir aku buta? Kau salah besar, Madhuri"


Dan wanita itu tanpa sadar memundurkan langkahnya.


"aku..."


"Bawa dia ke rumah sakit sekarang juga, Dokter"


Suara Alessia seketika membuyarkan ingatan Madhuri.

__ADS_1


__ADS_2