Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 42 Y & A


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxx


Pusat kota.


Alessia terlihat mengejar langkah para dokter di hadapannya ketika mereka sudah berada di rumah sakit xxxxxxx pusat kota, dengan sedikit kesulitan karena Heels nya gadis itu berlarian kearah depan, dia tidak begitu peduli bagaimana rasa kakinya saat ini, yang dia pedulikan jika tuan Khadafi baik-baik saja.


Yash yang berada dibelakang nya terlihat menatap kaki Alessia yang berlarian terseok-seok sejak tadi, pada akhirnya laki-laki tersebut dengan cepat mengejar langkah Alessia, dia langsung menarik tangan gadis tersebut secara refleks hingga membuat Alessia terkejut dan masuk ke dalam pelukannya.


"Eh...?"


Seketika Alessia memejamkan bola matanya karena merasa tubuhnya dipeluk oleh seseorang dengan refleks, kemudian dalam hitungan detik secepat kilat Alessia langsung kembali membuka bola matanya.


"Yash?"


Dia tercekat, mencoba memundurkan tubuhnya karena malu, Alessia pikir kenapa Yash menarik diri nya.


"Lepas sepatu mu"


Yash bicara cepat, dia kemudian membuka sepatu nya.


"Ya?"


Gadis itu jelas terkejut.


"Kaki mu terluka"


Laki-laki tersebut bicara dengan datar, meninggal kan sepatu nya agar di gunakan oleh Alessia.


Sejenak Alessia membeku, Menatap punggung Laki-laki tersebut yang berjalan menjauhi Dirinya hanya menggunakan kaos kaki mendominasi berwarna hitam nya.


Tidak ada rasa Canggung dan malu yang terlihat dari gerakan laki-laki tersebut.


Alessia sejenak menatap sepatu Yash, dia kemudian mengulum senyuman tertahan nya, ingin melonjak bahagia tapi malu dengan orang-orang disekitar nya.


Jangan ditanya bagaimana jantung nya berdebar-debar saat ini, meskipun masih dingin dan datar, minimal laki-laki itu memiliki sedikitttt...yah sedikit perhatian untuk dirinya dan itu mampu membuat jantung nya berdetak dengan irama yang tidak beraturan.


Alessia buru-buru melepaskan heels nya, dia kemudian mencoba menggunakan sepatu laki-laki tersebut.


Besar.


Lagi wajah nya memerah, dia mencoba menepuk-nepuk wajah nya untuk beberapa waktu, melirik ke kiri dan ke kanan nya sembari terus mengeluarkan semburat merah di balik pipi indah wajah cantik nya.

__ADS_1


Gadis tersebut kembali melangkah kan kakinya secara perlahan sambil menjinjing sepatu heels miliknya, meskipun rasanya aneh menggunakan sepatu laki-laki yang besar tapi ada satu sensasi bahagia terasa di dalam hatinya, dia menggunakan sepatu orang yang dia cintai.


Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang melayang-layang di dalam dirinya.


Alessia terus berjalan menuju kearah depan, menuju ke arah ruang operasi di mana tuan Khadafi harus lewati saat ini.


Entah berapa lama mereka menunggu proses operasi selesai, yang jelas waktu seolah-olah berjalan sangat lamban, dia duduk di ruang tunggu bersama Yash, duduk bersebelahan sembari menetap ke arah depan pintu ruang operasi yang ada di ujung sana.


Entah berapa lama mereka saling berdiam diri tidak bicara antara satu dengan yang lainnya, memilih membisu dan sibuk dengan pemikiran masing-masing, sejenak bola mata gadis itu menatap sepatu yang dia gunakan kemudian dia menetap ke arah dua kaki Yash yang menggunakan kaos kaki mendominasi berwarna hitam.


Dia kembali mengulum senyumannya saat dia melihat laki-laki itu menggerak-gerakan telapak kakinya untuk beberapa waktu.


Terlihat lucu dan ah... Entahlah, sejenak Alessia langsung melirik ke arah Yash, bola mata laki-laki itu tampak menatap lurus ke arah depan dengan fokus.


Gadis itu menelisik wajah Yash dari arah sisi kirinya, bisa dia lihat wajah karismatik yang sangat dewasa dan matang tersebut terlihat menatap serius ke arah depan.


Wajah itu tidak banyak berubah, masih sama seperti dulu dimana mereka sering bertemu, hanya terlihat jauh lebih tua dan dewasa tapi sifatnya telah banyak berubah, tidak seramah dan selembut dulu.


Karena itu saat pertemuan pertama dia berpikir wajah laki-laki itu benar-benar tidak asing untuk dirinya.


Berapa tahun dia menunggu waktu seperti ini? Berapa lama dia pernah bermimpi untuk bisa duduk di tempat yang sama dengan laki-laki tersebut.


Alessia membatin pelan.


Gadis tersebut kembali menyentuh Kalung nya yang selalu dia sembunyikan di balik pakaian nya.


"Tumbuhlah dewasa dengan cepat, kau tahu? Kau adalah istri impian ku"


Alessia kembali mengulum senyuman nya, mengingat kata-kata konyol yang selalu di impikan seorang anak-anak karena jatuh cinta pada pangeran impian nya.


"Benarkah?"


Bola mata kecil itu menatap lawan bicaranya dengan tatapan berkaca-kaca penuh harap.


"Yah, kau adalah istri impian ku"


"Bagaimana jika paman jatuh cinta pada orang lain dan menikahi orang lain?"


"Itu artinya dia memiliki sifat yang dominan seperti diri mu"


"Paman akan melupakan ku?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan pernah melupakan mu"


Seketika Alessia mencoba menyadarkan lamunan nya,dia memukul lembut kepala nya dengan tangan kanannya.


"Yash, aku bisa menjaga tuan Khadafi, tidak kah kamu harus pergi ke perusahaan?"


Gadis itu bertanya dengan cepat, menatap Laki-laki disamping nya dengan tatapan hangat.


Mendengar suara Alessia yang memanggil dirinya, seketika Yash langsung menoleh dengan cepat.


Sejenak netra mereka bertemu antara satu dengan yang lainnya, saling menatap di mana bola mata mereka seolah-olah saling memasukkan diri lawannya di dalam sana, pemikiran mereka berdua berkacak menjadi satu, sibuk dengan rasa mereka masing-masing.


Entah berapa lama netra itu bertemu, Yash mencoba menelisik wajah Alessia, menatap dalam gadis itu dalam kebisuan yang membelenggu, ada satu rasa yang sulit untuk dia ungkapkan, ada satu tanya yang begitu sulit untuk dia lesatkan, ada satu beban yang terus menggerogoti Palung hatinya paling dalam,dan entahlah wajah di hadapannya itu belakangan mengganggu dirinya.


Bukan seperti kemarin dimana rasa marah dan benci menyatu menjadi satu, tapi sesuatu yang tidak bisa dia mengerti apa keinginan hati.


Laki-laki tersebut langsung menyadarkan pandangan nya, dia buru-buru langsung bicara.


"Aku sudah minta Ehran untuk menyelesaikan semuanya,Kanina juga akan ikut mengurus semua nya bersama Letty"


Ucap Yash lagi lantas membuang pandangannya.


"Jika lelah kembalilah ke mansion, jangan memaksakan diri untuk tetap berada disini"


Setelah berkata seperti itu keheningan kembali terjadi di antara mereka berdua, Yash memilih tidak bicara sama sekali, bola matanya tetap fokus menatap ke arah depan gimana kekhawatiran jelas mengantar dirinya saat ini.


Laki-laki tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja, tidak tahu kenapa tapi pesan seseorang kemari cukup mengganggu dirinya.


Laki-laki itu menghela pelan nafas nya lantas dia menyadarkan dirinya ke belakang kursi tunggu tersebut, dia memilih memejamkan bola matanya sejenak dan menenangkan pemikirannya.


"Aku melihat Alessia kemarin di apartemen xxxxxxx, membawa bocah berusia berusia sekitar 2 tahunan dan seorang wanita tua di sampingnya, anehnya saat aku menyapa Alessia, perempuan itu malah mengerutkan keningnya dan bertanya aku siapa"


"Itu jelas membuatku bingung Yash, apa Alessia memiliki keluarga? Atau dia memiliki saudara kembar yang serupa dengan dirinya? Sebab sejauh ini Alessia selalu berkata dia hidup seorang diri tanpa keluarga di sekitarnya"


"Dia memang mirip Alessia tapi aku yakin perempuan itu bukan istrimu"


Sejenak laki-laki itu membuka bola matanya, dia melirik kearah Alessia untuk beberapa waktu.


Sebenarnya siapa kamu?.


Batin Yash Didalam hati nya.

__ADS_1


__ADS_2