
Mansion utama Kadhafi
kamar utama Madhuri.
"Akkhhhhhh"
Pranggggg.
Pranggggg.
"Sialan, brengsek, bajingan"
Wanita tersebut terlihat begitu sangat marah, dia memecahkan seluruh barang yang ada di kamarnya tanpa harus berpikir dua tiga kali bahkan dia terus memaki dan mengumpat dari balik bibir berwarna merah menyala miliknya.
Seorang laki-laki terlihat duduk di sebuah kursi sofa sudut yang ada di kamar tersebut, usianya sekitar 50 tahunan, kacamata yang membingkai mata laki-laki itu ke arah Madhuri yang terlihat begitu marah dan emosi dengan keadaan.
"Berhentilah melakukan hal yang bisa merugikan mu, Madhuri"
__ADS_1
Laki-laki itu bicara dengan cepat sembari mencoba untuk menghela kasar nafasnya.
Dia tahu setiap kali wanita itu marah temperamental nya sangat sulit untuk dikendalikan bahkan mulutnya tidak bisa dikontrol sama sekali. Madhuri sangat buruk ketika kehilangan mood dan menampilkan kemarahan nya.
"Kau lihat bagaimana bisa gadis sialan itu mencoba mengatur ku? Dia membawa suamiku tanpa izin dariku"
Oceh nya dengan perasaan penuh kemarahan, merasa dia telah di tindas oleh para sialan di sekitar nya. Apa yang di rencanakan Seolah-olah akan gagal, padahal bukan seperti itu keinginan nya.
"Jangan khawatir Soal apapun, kita bisa mengaturnya dengan baik meskipun dia berada di rumah sakit"
"Selangkah lagi kita sampai pada titik target, kenapa harus terlihat begitu panik hanya karena ada gadis tersebut? Dia hanya orang biasa yang kebetulan masuk menjadi istri Yash berkat pilihan Hana, di mana Madhuri Yang licik dan pintar ketika dia menyingkirkan banyak orang di masa lalu? Bagaimana bisa kamu dikalahkan oleh gadis muda yang tidak berdaya seperti itu"
Lanjut laki-laki itu lagi sembari berjalan hingga tepat berada di belakang Madhuri, dia kemudian memeluk wanita itu secara perlahan lantas berbisik di balik telinga Madhuri.
"Sedikit lagi kita akan mendapatkan hak Diana di sini, jangan khawatirkan soal apapun"
Lagi dia membujuk, memejamkan bola matanya dan menikmati pelukan yang dia ciptakan.
__ADS_1
Mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Madhuri ikut memejamkan bola matanya, wanita tersebut berusaha menetralisir perasaan dan emosi nya yang menggebu-gebu.
"Yah sedikit lagi setelah Diana mendapatkan keinginannya, setelah kita mendapatkan semuanya"
Ucap Madhuri secara perlahan.
"Mari buang ego tinggimu sayang, pergilah menuju ke rumah sakit saat ini dan tunjukkan berapa besar perhatiannya serta cintamu pada laki-laki tersebut"
Laki-laki itu kembali berbisik kemudian membiarkan dagu yang berada di bahu kanan Madhuri.
"Ketika semua orang lengah, itu akan menjadi waktumu untuk menyelesaikan dan menuntaskan semua misi, dengan begitu semua urusan akan selesai dan segala sesuatu milik Khadafi akan jatuh ke tanganmu dan juga Diana"
Setelah berkata begitu laki-laki tersebut menyeringai licik, dia kemudian membiarkan bibirnya masuk ke Cerug leher wanita yang ada di hadapannya itu.
Hal tersebut membuat Madhuri sejenak kembali memejamkan bola matanya, menikmati satu sensasi indah dan juga melayang-layang dari laki-laki tersebut.
Senyumannya menyungging ke atas, dan dia pikir apa yang diucapkan laki-laki itu ada benarnya.
__ADS_1