Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Saling melengkapi "Kewajiban bukan kebaikan"


__ADS_3

Mansion utama Sherkan


Keesokan harinya


Begitu mobil berhenti di halaman yang terbentang luas dihadapan semua orang, Sherkan secara perlahan membuka pintu mobil nya, memutar arah menuju ke arah dimana Elvitania duduk, membuka pintu mobil dari arah sisi Elvitania kemudian secara perlahan meraih tubuh sang istri nya dan mengangkat perempuan itu menuju ke dalam.


Bibi Saimah berlarian tergopoh-gopoh menyambut barang-barang milik tuan nya, dia bergerak mengangkut barang-barang di tangan nya sambil mengikuti sang tuan nya yang membàwa istri nya menuju ke dalam.


Rubi dan Mama Sherkan terlihat keluar dari dalam mobil yang berbeda, mereka berjalan perlahan mengikuti langkah Sherkan yang menggendong Elvitania menuju ke arah dalam.


"Aku bisa mencoba berjalan sendiri"


Elvitania bicara cepat ke arah suami nya, dia fikir mungkin dia bisa mencoba berjalan sendiri, cukup tidak enak hati membiarkan Sherkan menggendong nya hingga ke dalam.


Apalagi dia malu dilihat oleh Mama mertua nya dan Rubi.


"Bukan masalah, kamu masih cukup kesulitan untuk berjalan hmmm"


Jawab Sherkan pelan.


Dan seperti biasa laki-laki itu terus dengan sabar memperlakukan dirinya kayaknya seorang istri yang begitu di istimewa kan.


Mama Sherkan terlihat langsung melesat menuju ke arah dapur, mencoba mengambil air minum di bantu oleh Rubi dan mengeluarkan beberapa jenis obat disana.


Mereka fikir sebaiknya Elvitania mengkonsumsi obat nya di pagi hari.


Di atas Begitu bibi Saimah membukakan pintu kamar mereka, Sherkan langsung melangkah masuk ke dalam kamar membàwa Elvitania menuju ke arah kasur mereka.


Laki-laki itu meletakkan tubuh Elvitania secara perlahan, membenahi bantal penyanggah tubuh agar punggung dan kepala Elvitania terasa nyaman.


Bibi Saimah meletakkan barang-barang bawaan dari rumah sakit ke satu sudut lemari, membawa beberapa barang lainnya menuju ke arah bawah.


"Aku akan mempersiapkan air hangat nya untuk mandi"


Ucap Sherkan cepat, laki-laki itu berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi, langsung menyiapkan handuk dan air hangat untuk sang istri nya, memastikan seluruh perlengkapan sudah siap dan sang istri nyaman untuk membersihkan dirinya.


Setelah itu laki-laki itu langsung keluar dari arah kamar mandi, mendekati istri nya dan mulai menggendong Elvitania menuju ke arah kamar mandi.


Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan laki-laki itu mulai melepaskan satu persatu pakaian sang istri nya.


Sejenak Elvitania memperhatikan wajah Sherkan yang terlihat begitu fokus mengurusi dirinya, sesekali bisa dia lihat senyuman dan tatapan hangat di berikan Sherkan kepada dirinya.


Entahlah terkadang Elvitania merasa sesuatu yang begitu hangat menjalar didalam hatinya, dia selalu berfikir bagaimana bisa dia mendapat suami seperti Sherkan.


Laki-laki itu sedikit pun tidak pernah mengeluh atau berkata lelah.

__ADS_1


Ditengah kesibukan nya yang padat, selalu me nomor satukan diri nya.


Setelah selesai melepaskan pakaian nya, Sherkan kemudian secara perlahan meletakkan tubuh Elvitania ke atas bath tub 🛁.


"Aku bisa melakukan nya sendiri"


Ucap Elvitania pelan.


"Bukan masalah, berbaliknya aku akan menggosok punggung kamu"


Sherkan bicara sambil Meraih sabun cair yang ada di sisi kanan nya, dia mengambil sponge mandi kemudian meletakkan sabun di dalam nya.


Memastikan busa sabun nya banyak dan mulai membalikkan tubuh Elvitania secara perlahan.


"Air nya tidak begitu panas?"


Tanya Sherkan sambil menggosok pelan punggung Elvitania.


Perempuan itu menggelengkan perlahan kepalanya.


"Ini pas"


Jawab perempuan itu pelan.


Sherkan terlihat mengembangkan senyuman nya.


Ditengah kegiatan tangan Sherkan yang sibuk menggosok punggung Elvitania, tiba-tiba Elvitania berkata.


"Terima kasih banyak"


Ucap nya pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Untuk apa?"


Sherkan mengerutkan keningnya.


"Karena begitu baik pada ku"


Sejenak Sherkan menghentikan gerakan tangannya, dia diam untuk beberapa waktu kemudian tiba-tiba laki-laki itu memeluk lembut leher Elvitania.


"Ini bukan kebaikan Elv, tapi didalam pernikahan ini memang satu kewajiban seorang suami terhadap istri nya"


Bisik Sherkan pelan.


"Berlaku baik dan menghargai pasangan hidup mereka"

__ADS_1


"Sejati nya laki-laki adalah pemelihara perempuan, karena Allah telah membuat beberapa dari mereka untuk mengungguli yang lain nya"


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berfikir"


Ar-Rum ayat 21.


Ucap Sherkan lagi lantas melepaskan pelukannya.


Dia kembali menggosok punggung Elvitania secara perlahan sambil melanjutkan kembali kata-kata nya.


"Satu hari saat aku kesulitan dan sakit, kamu juga satu-satunya yang bakal dengan ikhlas segenap hati mengurusi diriku, bukan perempuan lain"


Setelah berkata begitu Sherkan mengembangkan senyuman nya, dia kemudian mulai membalikkan tubuh Elvitania dan menggosok kedua tangan Elvitania secara bergantian.


Perempuan itu diam, manatap suaminya untuk beberapa waktu dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Iya dia lupa, sejatinya mereka adalah suami istri yang memang harus saling menggenggam dikala suka maupun duka, dikala sakit maupun sehat bahkan dikala jatuh ataupun naik bersama.


Karena mereka di ciptakan oleh Allah agar bersama, melebur menjadi satu dimana Perempuan adalah tulang rusuk nya laki-laki.


Lalu kenapa dia harus malu saat sang suami memperlakukan dirinya dengan baik, sejatinya itu tugas mereka yang berpasang-pasangan.


Saling melengkapi dan mengisi kekurangan, menerima Antara satu dengan yang lainnya dalam keadaan apapun itu.


"Sherkan"


Ucap Elvitania pelan.


"Hmmm?"


Laki-laki itu bertanya sambil terus melakukan kegiatan nya.


"I love you"


Sebaris kata mahal yang dia tunggu-tunggu selama pernikahan mereka seketika terdengar dibalik bibir istri nya.


Laki-laki itu sejenak menghentikan gerakan tangannya, dia langsung menatap Elvitania dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.


Beberapa waktu dia membeku, seolah-olah kehilangan kata-kata.


Sepersekian detik kemudian seulas senyuman mengembang dari balik bibir nya.


"I love you too"


Balas laki-laki itu kemudian dengan gerakan cepat menyambar bibir Elvitania dengan perasaan yang berdebar-debar.

__ADS_1


__ADS_2