
Bonus part
Kisah pendek
Rubi dan Arch
Gadis itu Belakangan terlihat begitu gerah saat tahu laki-laki bernama Arch itu belakangan sering datang ke kediaman kakak dan kakak ipar nya.
Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain mondar-mandir kerumah kakak?.
Rubi berguman dalam hati, menatap tidak suka laki-laki dihadapan nya itu.
Arch begitu nama nya, persis seperti nama monster menurut Rubi, bahkan tidak sepadan dengan wajah nya yang terlalu sok-sok Santai dan penuh senyuman palsu bagi gadis itu.
"Nona Rubi?"
Satu panggilan mengejutkan dirinya, itu adalah bibi Saimah.
"Mau makan belum non?"
Wanita tua itu bertanya Sambil memperhatikan wajah adik bungsu tuan nya dengan tatapan heran.
Dia fikir sejak tadi gadis itu terus menatap ke arah kakak angkat nona Elvitania nya.
"Nona suka sama tuan Arch?"
Rubi yang mencoba meminum air mineral di hadapannya seketika langsung menyemburkan air tersebut dari mulut nya karena terkejut.
Bibi Saimah jelas terkejut, langsung meraih tisu di atas meja nakas dan memberikan nya pada gadis cantik tersebut.
"Gila, yah tidak mungkin lah"
__ADS_1
Pekik Rubi dengan wajah masam.
Mana Sudi dia jatuh cinta dengan laki-laki sialan itu fikir nya.
Saat dia memekik, Arch secepat kilat menoleh kearah Rubi diikuti Elvitania.
Rubi buru-buru membuang pandangannya.
Sialan.
Batin nya cepat.
"Aku akan makan sekarang"
Dia bicara cepat ke arah bibi saimah.
Mendengar ucapan Rubi, bibi Saimah mengangguk kan cepat kepalanya, pergi ke dapur untuk mempersiapkan makanan untuk Rubi.
Kali ini Rubi bicara dengan nada yang begitu manja, otaknya tiba-tiba bekerja dengan sempurna, dia mencoba merencanakan soal sesuatu pada Arch.
"Arch seperti nya kita makan terlebih dahulu, setelah itu kamu bisa pulang"
Terdengar suara sang kakak ipar nya bicara menawarkan makan bersama kepada laki-laki itu.
Melihat anggukan Arch seketika Rubi melonjak senang didalam hati nya.
Buru-buru dia berjalan ke dapur, membantu bibi Saimah menyiapkan makan untuk mereka.
Bukankah ini begitu bagus dan kebetulan sekali?!.
Dia sudah lama ingin mengerjai laki-laki itu, tidak tahu kenapa Mereka begitu tidak menyukai Arch sejak pertama mereka bertemu.
__ADS_1
Bagi nya Laki-laki itu setiap kali menatap sang kakak ipar nya dengan binar mata penuh cinta, belum lagi desas-desus berkata di masa lalu laki-laki itu pernah melamar Elvitania dimasa remaja mereka.
Mungkin kakak ipar nya tidak lagi menyimpan hati, tapi yang nama nya laki-laki kalau melihat ikan asin didepan mata apa tidak dipungkiri akan kembali tertarik untuk memakannya?!.
Seharusnya dia tahu diri, tidak usah sering berkunjung kemari, cari gadis lain yang lebih cantik dan baik.
Rubi mulai mengoceh didalam hati nya sambil membantu bibi Saimah menyiapkan beberapa menu makanan ke dalam piring.
"Bibi saja yang menata meja makan, aku akan menyelesaikan sisa yang disini"
Ucap Rubi cepat ke arah wanita paruh baya tersebut.
Sejenak wanita paruh baya itu mengernyitkan dahinya, dia fikir tumben-tumbenan sang nona mau mengurus semuanya.
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa bibi, aku bisa menyiapkan sisa nya, biar aku yang meletakkan Piring makan dan sup nya juga"
Jawab Rubi sambil berusaha mengembangkan senyuman nya semanis mungkin.
"Baiklah"
Begitu bibi Saimah beranjak pergi dari hadapan nya, Rubi buru-buru meraih sesuatu dari dalam kantung celananya.
Sebuah botol kecil terlihat sudah berada di tangan nya, dengan gerakan cepat tangan gadis itu membubuhi isi dari botol tersebut ke satu mangkuk makanan dan piring nasi.
Seulas senyuman jahat muncul di balik Wajah cantik nya, dia mencoba menahan senyumannya sambil menatap puas makanan yang ada di hadapan nya tersebut.
Kali ini selesai kau!.
Batik Rubi puas.
__ADS_1