
Sherkan terlihat menatap punggung Elvitania yang mulai menjauh, kemudian bola matanya langsung menoleh ke arah Merlin.
"Oh ayolah Aku tidak suka melihat dia marah seperti itu, Mer"
Laki-laki itu bicara kemudian berdiri dari duduknya, ekspresi wajahnya terlihat begitu gusar dan penuh rasa bersalah.
"Ckckckckkc baru segitu sudah tidak tega"
Ejek Merlin sambil terkekeh pelan.
"Fikirkan cara untuk sedikit menggombali nya"
Merlin kembali bicara sambil menaikkan kedua bahunya.
Sherkan secepat kilat langsung beranjak dari sana, mencoba mengejar langkah Elvitania yang menuruni anak tangga satu persatu.
"Elv...Elv... katakan pada ku, ada apa?"
Sherkan berusaha untuk mengejar langkah sang istri, tapi gerakan nya jelas lebih kalah cepat.
Elvitania sudah melesat turun Menuju ke arah dapur, membuang sesuatu di tangan nya didalam wastafel pencucian piring.
Sherkan mengerutkan keningnya, itu segelas kopi hangat.
"Hei ada apa?"
Sherkan berusaha bicara dengan begitu lembut.
Bibi saimah yang melihat keadaan aneh ke dua majikan nya itu seketika terdiam, wanita tua itu berusaha untuk keluar dari dapur secara perlahan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Sherkan, Elvitania lebih memilih untuk menuangkan puding coklat yang dia masak tadi.
Dia belum menuangkan nya kedalam loyang, lebih memilih mengantar minuman Sherkan lebih dulu tadi.
Tapi lihat apa yang terjadi di atas sana.
"Akhhh"
__ADS_1
Karena terburu-buru dia menumpahkan puding panas nya, seketika dia merasa dari punggung tangan kirinya hingga ke paha nya tersiram puding coklat panas tersebut.
Elvitania spontan terkejut, bisa dia lihat sherkan langsung meletakkan panci puding ditangan kanan nya dan laki-laki itu secepat kilat mencari tisu dan lap bersih yang ada di sana.
Menghapus tumpahan puding yang mengenai punggung tangan dan beberapa bagian pakaian Elvitania hingga ke bagian pahanya yang tertutup Gaun sederhana yang mendominasi berwarna putih tersebut.
Sherkan buru-buru menyambar tangan kiri Elvitania dan membawa perempuan itu Menuju ke arah wastafel.
Dia langsung membiarkan air mengguyur punggung tangan Elvitania.
"Bukan kah sudah aku bilang, jangan pergi ke dapur? bibi Saimah bisa melakukan nya, bagaimana jika sesuatu yang Lebih buruk terjadi hmmm?"
Sherkan mulai terlihat marah, menatap punggung tangan Elvitania dengan penuh kecemasan.
Memerah!.
Batinnya pelan.
Elvitania terlihat diam, seperti biasa hanya mengeluarkan ekspresi datar nya.
"Bibi....bi..."
"Ini memerah"
Bibi Saimah terlihat berlarian tergopoh-gopoh, bertanya panik karena tumben-tumbenan sang tuan berteriak di tengah rumah.
"Carikan salap untuk mengobati luka bakar"
Mendengar kata luka bakar bibi Saimah jelas terkejut, dia melihat Sherkan terus membiarkan tangan Elvitania di guyur air dari wastafel.
Wanita itu ingin bertanya apa yang terjadi, tapi diurungkan niatnya, dia dengan gerakan cepat langsung mencari sesuatu di salah satu lemari kitchen set.
Setelah mendapat kan apa yang dia cari, secepat kilat laki-laki itu menyambar obat di tangan bibi Saimah.
Dia langsung mengolesi punggung tangan Elvitania dengan salap tersebut.
Elvitania terlihat diam, menatap laki-laki dihadapan nya itu untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Bisa dia dengar laki-laki itu menghela pelan nafasnya.
"Apakah perut dan paha baik-baik saja?"
Sherkan tiba-tiba mendongakkan kepalanya, bertanya sambil menatap dalam bola mata Elvitania.
Yang ditanya tampak mencoba membuang pandangannya tapi buru-buru Sherkan menahan wajah Elvitania dengan kedua telapak tangan nya.
"Berhenti membuang pandangan mu dari ku Elv, itu membuat ku mulai tidak nyaman"
Sherkan terus berusaha menahan wajah Elvitania.
Perempuan itu seketika terkejut, mencoba mengedip kan bola matanya untuk beberapa waktu.
Tangan nya terasa bergetar.
Bibi Saimah melongok, secepat kilat berbalik dan berusaha kabur dari sana.
Oh memalukan.
Ucap bibi Saimah sambil mencoba menahan perasaan malunya.
Anak muda yang berlaku romantis, dia yang jadi malu sendiri.
"Mana lagi yang terasa sakit? mereka tumpah di beberapa bagian, apakah perut dan paha baik-baik saja?"
Sherkan kembali bertanya, masih memegang lembut wajah Elvitania.
Membiarkan bola mata mereka bertemu secara intens.
Elvitania diam sejenak kemudian menggelengkan kan pelan kepalanya.
"Semua baik"
Jawab Elvitania pelan.
Elvitania jelas tidak akan bilang rasa perih dan panas jelas terasa di bagian pahanya, dia mana mau kehilangan harga diri dengan berkata paha nya terasa melepuh saat ini.
__ADS_1
Mendengar jawaban halus tersebut seketika membuat Sherkan mengembangkan senyuman nya, dia fikir cukup lumanyan.
Perempuan itu mau bicara dengan nya meskipun hanya sebatas sapatah dua patah kata saja.