Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Gadis kecil yang pandai membaca situasi


__ADS_3

Kamar hotel


Rubi dan Arch


Hasna terlihat menaikkan ujung alisnya, sebentar-sebentar dia melirik ke arah Untie Rubi nya, kemudian dia melirik ke arah Uncle Arch nya.


Gerakan itu berlaku berkali-kali sejak tadi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal Hasna mencoba berfikir apa yang terjadi di Antara dua orang dewasa itu.


Arch terlihat duduk di kursi sofa, menarik nafasnya berkali-kali kemudian berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang dilakukan Rubi sejak tadi.


Gadis itu membenahi kasur, membentang bad cover tebal di lantai kemudian meletakkan bantal guling dan bantal kepala di lantai sana.


Kemudian Gadis itu membenahi kasur yang di atas, menepuk-nepuk bantal kepala lantas menghela pelan nafasnya.


"Aku akan tidur di bawah"


Ucap Rubi pelan.


Arch terlihat diam, dia tidak bicara apa-apa, hanya menatap Rubi untuk beberapa waktu. Kemudian laki-laki itu mengembang kan senyuman nya.


"Aku Yang akan tidur dibawah, naiklah kembali ke atas"


Setelah berkata begitu, Arch langsung melangkah menuju ke arah sisi kiri ranjang dimana semua telah di persiapkan oleh Rubi.


Arch langsung berbaring ke lantai, membenahi bantal kemudian mulai mencoba menyamankan posisi nya.


Rubi terlihat tidak bergeming, menatap Arch untuk beberapa waktu.


Bisa dia lihat laki-laki itu berbaring dan berusaha memejamkan bola matanya.


Pada akhirnya Rubi berusaha ikut membenahi posisinya, dia mencoba berbaring dan mencari posisi ternyaman dalam dirinya.


Hasna yang melihat kedua orang tersebut seperti tengah bermusuhan, langsung mengubah ekspresi wajahnya.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba gadis kecil itu mulai menangis pelan.


Hikssss.... hikssss....


Rubi Langsung terkejut, dia menoleh ke arah Hasna.


"Sayang?"


Dia fikir ada apa dengan gadis kecil itu.


Arch ikut bangun dari posisi tidurnya, dia fikir ada apa dengan gadis kecil itu, apakah ada sesuatu yang salah!?.


"Sayang ada apa?"


Tanya Arch langsung naik ke atas kasur.

__ADS_1


Alih-alih menjawab gadis kecil itu semakin mengencang kan suara tangisan nya.


Hwaaaaaaa Hwaaaaaaaaaa


"Hasna ada apa? apa ada sesuatu yang tidak enak? Hasna lapar?"


Rubi mulai bertanya panik.


Sang keponakan tidak pernah menangis seperti itu sebelumnya, selama Hasna sering ikut bersama dengan nya, Hasna jelas keponakan yang tidak banyak tingkah.


"Sayang....?!"


Arch secepat kilat meraih tubuh gadis kecil itu, dia menggendong nya dengan cepat lalu mengajak nya bicara.


"Apakah ada yang sakit? mau keluar? mau uncle berikan handphone?"


Tanya Arch pada Hasna, dia langsung melesat keluar menuju ke arah balkon.


Bagi Arch jika Hasna menangis itu akan membuat pelik masalah, dia takut mengganggu bulan madu Elvitania dan Sherkan.


Bukan kah jelas kedatangan mereka ke mari menemani bulan madu Sherkan dan Elvitania.


Meskipun pada akhirnya malah membuat dia dan Rubi terjebak dalam ikatan pernikahan yang mendadak.


"Aku tidak mau ke balkon, Hasna mau pulang ke Indonesia"


"Ya?"


"Sayang kita tidak mungkin pulang sekarang, kita masih harus mendapatkan liburan, untie Elv dan uncle Sherkan masih harus mengerjakan sesuatu lebih dulu"


Mengerjakan sesuatu?!.


Ahhhh kalimat nya begitu ambigu.


Memang nya apa lagi jika bukan bulan madu yang tertunda?!.


"Hasna mau pulang, tidak mau disini, untie Rubi dan uncle Arch jahat"


Jahat?!.


Kedua orang itu jelas saja menaikkan alis mereka.


"Kita seperti negara Palestina dan Israel, tidak akur dan harus berperang, tidak tidur di kasur yang sama, tidak saling merangkul dan berpelukan, jadi Hasna mau pulang hwaaaaaaa Hwaaaaaaaaaa"


Oh god.


Arch terlihat mencoba menarik pelan nafas nya.


jadi itu alasan nya menangis?!.

__ADS_1


"Bukan begitu Hasna, hanya saja kita Tidak bisa tidur ditempat yang sama"


Rubi berusaha membuat sebuah pengertian.


"Kenapa? Mama dan papa tidur bersama, untie Elv dan uncle Sherkan juga tidur bersama?"


"Tapi ini berbeda"


"Tapi Mama dan nenek bilang kalian menikah"


Hwaaaaaaaa lagi gadis kecil itu menangis.


"Bukan seperti itu sayang"


"Aku akan bilang pada Kakek jika kalian tidur terpisah"


What?!.


Seketika Rubi terbelalak.


"No... Sayang bukan begitu"


"Aku mau tidur di kamar kakek, aku akan bilang untie dan uncle tidur di tempat yang berbeda, aku akan bilang untie mengusir uncle ke atas lantai"


Gadis itu berusaha memberontak, minta di turunkan dari gendongan Arch.


Aduh....!!!!.


Rubi jelas gelagapan.


Mengadu kepada Papa nya soal mereka? bisa mati dia di marah.


jangan bercanda.


Habislah dia.


"Kita akan tidur bersama, baiklah kita tidur bersama"


Ucap Rubi dengan nada panik, menggendong Hasna dengan cepat menuju ke atas kasur mereka.


"Benar tidur bersama?"


Hasna mulai menghentikan tangisannya.


Arch jelas saja mengerutkan keningnya.


Dia Fikir kenapa gadis kecil itu begitu pandai membaca suasana dan memaksa Mengubah keadaan.


Kau benar-benar gadis yang pintar, keponakan.

__ADS_1


Batin Arch sambil mengulum senyuman nya.


__ADS_2