
Disisi lain
Beberapa waktu sebelum Yash menghubungi pengacara Esmail
rumah sakit xxxxxxx
pusat kota.
Seorang perempuan bergerak dengan tergesa-gesa menuju kearah kamar tuan Khadafi, dia menggunakan pakaian lengkap dinas rumah sakit, sesekali bola mata nya menatap cemas ke arah sisi kiri dan kanan nya, cukup takut jika ada yang melihat dirinya melakukan hal yang agak mencurigakan.
Bola mata nya melirik kearah beberapa sisi CCTV yang ada di atas kepala dari berbagai macam sisi menyulitkan dan mencoba memastikan jika beberapa sudut kamera tidak berfungsi, indikator berwarna merah menandakan kamera tersebut tidak berfungsi dengan baik.
dengan perasaan was-was dan degub jantung tidak baik-baik saja, sosok tersebut berusaha untuk menahan perasaan nya, jangan ditanya bagaimana rasanya, tapi dia berusaha untuk setenang mungkin dalam melewati situasi saat ini.
Dia menggenggam sesuatu di telapak tangan nya di mana sesuatu tersebut diselipkannya ke dalam pakaian dinas nya, perempuan itu berjalan secara perlahan memasuki ruangan dimana tuan Khadafi berada.
begitu dia telah memasuki ruangan tersebut dengan gerakan hati-hati perempuan itu menutup pintu, kemudian dia bergerak mendekati posisi tuan Khadafi yang terlelap di atas kasur mendominasi berwarna putih, suara layar monitor terdengar memenuhi kamar tersebut, mengalun tenang dan bergerak normal sesuai dengan kondisi nya yang mulai membaik dalam beberapa waktu ini.
jarum berisi cairan infus yang menancap di lengan laki-laki itu terus mengalir kan cairan nya secara teratur, tidak ada yang perlu di khawatir untuk kondisi tuan Khadafi, dimana dokter berkata kesehatan nya mulai membaik namun dia belum mendapatkan masa sadar nya, para dokter berkata tunggu beberapa waktu ini, laki-laki tua tersebut pasti baik-baik saja.
Perempuan itu yang kini berdiri tepat di samping tuan Khadafi terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantong pakaiannya, sebuah jarum suntik yang telah si isi dengan cairan dan tidak tahu apa terlihat telah berada di tangan perempuan tersebut dan siap untuk ditancapkan pada selang infus tuan Khadafi.
Secara perlahan perempuan itu menyuntikkan cairan pada selang infus milik tuan Khadafi dengan cairan yang ada di tangan nya, melakukan nya dengan keadaan terburu-buru karena takut jika dia ketahuan apabila bergerak terlalu lamban.
Hingga pada akhirnya setelah selesai melakukan hal tersebut, Perempuan itu buru-buru memasukkan kembali suntikan tersebut kedalam kantong pakaian nya.
Dia mencoba menunggu respon dari laki-laki yang tengah berbaring tidak berdaya itu, hingga pada akhirnya bisa dia lihat Khadafi tiba-tiba jemari-jemari tuan Khadafi,, membuat perempuan tersebut menyeringai licik dan bahagia.
"Nikmati kematian mu, kakek tua"
Perempuan tersebut berbisik di balik telinga laki-laki tua tersebut.
__ADS_1
Percaya lah yang terjadi berikutnya bisa dia rasakan beberapa kali jemari-jemari tuan Khadafi Bergerak
dan di detik berikutnya perempuan itu langsung melesat menjauhi tuan Khadafi, dia bergerak tergesa-gesa keluar dari sana, menutup pintu dan langsung kabur dari sana secepatnya.
Dia tidak mungkin menunda waktu untuk melarikan diri karena dia tahu, semakin lama berada di ruangan tersebut akan semakin memicu ke khawatiran yang mendalam.
Dan Perempuan tersebut bergerak tergesa-gesa pergi dari sana, namun sebelum nya dia jelas telah memastikan jika tidak akan ada yang melihat perbuatan nya, dia tidak akan mau mengambil resiko atas apa yang dilakukan nya, memastikan semua bersih tanpa meninggalkan sedikit pun sisa.
******
Disisi lain
Beberapa waktu sebelumnya
Masih di rumah sakit xxxxxxx.
Yash terlihat mencari sosok Alessia sejak tadi, dia bergerak melangkah menyusuri lorong rumah sakit dan mencari sosok istri nya tersebut cukup lama.
Laki-laki tersebut secepat kilat mendekati Alessia, mencoba berdiri tepat di hadapan gadis tersebut dimana Alessia terlihat tidur dalam posisi sedikit miring menyandar ke dinding.
Yash mencoba untuk menatap lekat-lekat wajah istrinya, memperhatikan setiap lekukan wajah nya.
"Tuan?"
Suara seseorang mengejutkan dirinya, tidak kuat tapi cukup membuat Yash menoleh kearah nya.
"Mau saya bantu membangunkan istri anda atau mau saya ambilkan bantal?"
Seorang perawat perempuan terlihat mencoba untuk membantu Yash, dia bertanya dengan suara pelan.
Yash langsung menggelengkan kepalanya, menjawab ucapan perempuan tersebut dengan cepat.
__ADS_1
"Tinggalkan saja bantal nya disini, aku akan membangunkan istri ku sendiri"
mendengar ucapan laki-laki yang cukup dia kenal tersebut membuat perempuan itu mengangguk kan kepalanya, memilih beranjak pergi menjauhi laki-laki tersebut dan istri nya.
Yash pada akhirnya memilih duduk tepat di samping Alessia, mencoba mensejajarkan diri untuk beberapa waktu, menunggu siapa tahu Alessia terganggu dengan kehadiran nya sembari laki-laki tersebut menatap bantal yang kini ada di tangan nya.
Nyata nya cukup lama dia menunggu Alessia sama sekali tidak melakukan pergerakan, seperti nya gadis tersebut cukup lelah seharian ini, pergi ke perusahaan, mengurus beberapa hal hingga mondar-mandir ke rumah sakit, belum lagi mengurus makan Yash dan membantu Pinkan juga ibu nya untuk beberapa hal yang tidak dia pahami sebagai sesama perempuan.
Hingga pada akhirnya Yash melirik kearah Alessia, menatap kembali gadis tersebut untuk beberapa waktu, dimana kepala Alessia mulai turun dan tidak menyadari posisi tidurnya.
Pada akhirnya laki-laki tersebut secara perlahan meraih kepala Alessia dengan gerakan hati-hati, membiarkan gadis tersebut bersandar di bahunya secara perlahan.
Dan gerakan nya yang hati-hati benar-benar tidak memicu kesadaran Alessia, gadis tersebut benar-benar kelelahan luar biasa.
Yash membiarkan kepala itu bersandar di bahu kiri nya, sembari kini bola mata Yash menatap kearah depan, menatap kesenyapan dan kesunyian rumah sakit di malam hari tanpa terlihat siapapun yang berlalu lalang saat ini.
Niat nya ingin menjemput Alessia seperti nya agak berubah, membiarkan gadis tersebut terlelap hingga terjaga sesuai kemauan Alessia, dia membiarkan gadis tersebut terus bersandar di bahu nya sembari pikiran Yash melayang entah kemana.
"Dalam 1-2 tahun tidak kunjung memiliki anak, turun ranjang dengan Diana dan ceraikan Alessia"
Ucapan ibu nya kembali terngiang-ngiang di telinga Yash.
Dia pada akhirnya memilih diam dan tanpa dia sadari di ujung sana seorang laki-laki terlihat menatap kearah Yash dan Alessia dengan pandangan bola mata penuh kemarahan.
Tatapan bola mata itu sangat tidak bersahabat, menyimpan berbagai macam bentuk emosi yang bercampur aduk menjadi satu didalam nya. Marah, jijik,kesal, jengkel, muak dan entah apalagi dia tidak tahu.
kebersamaan Alessia dan Yash memercikkan api kemarahan dan kecemburuan didalam dirinya, kemudian seorang perempuan berbisik di balik telinga nya.
"Kau lihat? dia mengkhianati kamu, tidak salah jika kamu menghancurkan kebahagiaan mereka bukan? mereka pantas mendapat kan kehancuran dibalik hubungan yang menyakiti banyak orang termasuk Hana"
Dan saat kata-kata tersebut dilesatkan dibalik telinga nya, dia menggenggam erat telapak tangan nya sambil mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
Yah membuat mereka bercerai adalah satu-satunya jalan untuk membuat kemarahan nya meredam saat ini.