Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bukan seorang Gadis juga tanpa masa depan


__ADS_3

Di sebuah kamar berukuran besar tanpa cahaya penerangan, Elvitania terlihat duduk meringkuk di atas lantai dingin berkeramik kan warna putih mendominasi tersebut, dia sama sekali tidak mengeluarkan suara nya sejak pagi.


Jemari-jemari indahnya terkadang melukis sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata di atas lantai keramik putih tersebut.


Kadang dia mengukir nama Zahir di lantai tersebut untuk beberapa waktu, membentuk lambang hati disana kemudian mulai mengukir indah nama nya.


Bagi mata yang memandang jelas tidak ada bekas yang terlihat, jemari-jemari itu jelas mengukir kata yang hilang ditelan kegelapan dan angin malam, tapi bagi Elvitania apa yang dia ukir seolah-olah menampilkan cahaya indah, membekas didalam bola matanya kemudian menyeruak masuk ke Dalam paling hati nya.


Sayang apa kabar mu hari ini?!.


Baik-baik sajakah?!


Disini aku tidak baik-baik saja, karena aku merindukan kamu.


Kau tahu semalam hujan turun dengan deras, dimasa lalu saat hujan turun kamu selalu membuat panggilan, menggoda ku dengan gurauan mu sambil berkata ada hantu disamping ku.


Terdengar keterlaluan, tapi aku menyukai godaan manis itu, dengan begitu kamu akan menghabiskan seluruh malam mu demi bicara dan mengobrol dengan ku untuk waktu yang sangat lama lewat panggilan telepon.


Ditengah lamunan Elvitania tiba-tiba seseorang mengetuk perlahan pintu kamar yang dia tempati, Sepersekian detik kemudian tiba-tiba seseorang masuk secara perlahan kedalam kamar nya.


"Sayang?"


Suara seorang wanita terdengar dari arah pintu tersebut.


Klikkk

__ADS_1


Seketika suara lampu dinyalakan, semua lamunan dan ingatan soal masa kemarin seketika musnah dari pandangan Elvitania.


Seketika air mata perempuan itu tumpah.


"Kamu baik-baik saja, elv?"


Wanita itu bergerak mendekati Elvitania, dia menyentuh kepala Elvitania Secara perlahan.


Dia adalah bibi tua di keluarga Sherkan, wanita berusia lebih dari setengah abad itu orang yang paling sering mengajak Elvitania bicara selama berada di kediaman utama mansion milik Azzura.


"Apakah kamu menangis lagi?"


Wanita itu bertanya sambil menyentuh lembut kepala Elvitania, rasa sedih dan iba jelas menghantam dirinya.


Begitu Elvitania mendongak, Dia menyentuh lembut Wajah penuh luka dan duka itu dengan Rona kesedihan.


Dia bertanya sambil menatap bola mata yang masih menyisakan gelombang air mata didalamnya.


Elvitania menatap wajah wanita itu untuk beberapa waktu, pandangan bola mata nya jelas begitu kosong dan datar, perempuan itu bahkan terlihat begitu menyedihkan dengan penampilan nya.


"Sebutkan lah, Sherkan berkata akan berusaha untuk memenuhi keinginan mu"


Elvitania masih menatap wajah wanita tua dihadapan nya itu untuk waktu yang cukup lama.


"Seseorang Gadis juga pantas mendapatkan mahar yang besar dan mengajukan permintaan untuk masa depan nya"

__ADS_1


Lanjut wanita itu lagi.


Seorang gadis?!.


Kata-kata itu terdengar begitu menyedihkan untuk dirinya.


Seorang Gadis?!.


Seketika tangis Elvitania kembali pecah.


Bagaimana bisa dia dikatakan seorang gadis?.


Permintaan mahar?!. Untuk masa depannya?!.


Dia tidak pernah meminta mahar dari laki-laki yang tidak dia cintai, dia bahkan tidak pernah bermimpi untuk menikah dan menghabiskan masa depan nya dengan laki-laki yang bahkan dia tidak tahu dengan baik nama nya, keluarga nya, kehidupan nya.


Bahkan dia tidak pernah bertegur sapa dengan laki-laki itu sebelumnya.


Bagaimana dia bisa menghabiskan waktu dengan laki-laki yang bahkan Menghancurkan masa depan nya.


Dia tidak ingin menikah, tapi apa kata dunia ketika seorang gadis yang kehilangan masa depan nya tidak menikah, laki-laki mana yang akan menerima kekurangan nya?!.


Bahkan 3 Keluarga membuat perundingan matang untuk membiarkan dirinya menikah dengan laki-laki itu, meminta laki-laki itu bertanggung jawab dengan perbuatannya.


Katakan padanya Bagaimana bisa dia hidup dan melihat wajah yang sama itu nanti dalam setiap hari nya?!.

__ADS_1


Tangisan Elvitania terus terdengar disepanjang kamar tersebut, wanita tua itu seketika memeluk Elvitania didalam keheningan nya.


Membiarkan perempuan itu terus menangis didalam kemarahan serta kekecewaan nya.


__ADS_2