
Elvitania menarik pelan nafasnya untuk beberapa waktu, dia cukup lega saat para dokter berkata Sherkan tidak apa-apa.
Hanya mengalami luka memar dan benturan di kepalanya akibat terhempas ke lantai.
Tapi semua bisa dikendalikan dengan baik .
Laki-laki itu lebih memilih untuk dirawat di rumah ketimbang dirawat di rumah sakit, karena bagi Sherkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal keadaan nya.
Elvitania merasa sedikit lega, setidaknya Sherkan memang baik-baik saja, sebab dia yang menyebabkan laki-laki itu terluka karena kecerobohan nya, seharusnya dia tidak bergerak ceroboh tanpa berfikir dua tiga kali hingga membuat kesulitan orang-orang disekitar nya.
Ditengah keadaan berkumpul nya banyak keluarga, seperti sebelumnya bibi sibah menatap kurang suka pada dirinya.
Elvitania tidak paham kenapa wanita itu seolah-olah melihat dirinya persis seperti hama atau hantu.
Karena enggan terlalu peduli dengan wanita itu, dia selalu berusaha untuk menghindar dari wanita itu tiap kali mereka hampir bertemu.
Elvitania memilih berkutat didapur dikala beberapa orang berkumpul di kamar mereka bahkan di ruang keluarga.
Dia lebih suka mengasingkan diri bersama bibi Saimah, memilih membuat makanan untuk Sherkan bersama wanita belum berusia paruh baya tersebut.
"Tuan Sherkan lebih suka makanan gurih dan manis, dia tidak bisa mengkonsumsi makanan terlalu pedas"
Bibi Saimah mulai bercerita, bahasa halus sebagai seorang pelayan yang mencoba memberitahukan kepada majikan baru nya soal kesukaan Sherkan.
Dia mengabdi di keluarga tersebut selama 20 tahun lebih, bagi nya Keluarga Azzura sudah nyaris seperti kekuarga sesungguhnya untuk dirinya.
Seluruh sekolah anak-anak nya di bantu oleh keluarga Azzura, saat ini salah satu anak nya sudah mulai bekerja di perusahaan milik Azzura.
Putri nya berkata, jika kehidupan nya lebih baik nanti, dia akan membawa dirinya keluar dari keluarga Azzura, berharap sang ibu mendapatkan masa pensiunnya dikeluarga tersebut.
Dan keinginan tersebut di sambut dengan baik oleh Mama dan Papa Sherkan.
Mereka tidak menampilkan wajah keberatan untuk niat baik seorang anak terhadap ibu nya.
__ADS_1
"Tapi meskipun begitu, Makanan favorit tuan Sherkan adalah kepiting asam manis, ada rasa pedas-pedas sedikit yang tidak begitu tajam, yang penting rasa pedas tidak tajam"
Ucap bibi Saimah lagi sambil mengembangkan senyuman nya.
Mendengar cerita wanita itu membuat Elvitania mengangguk-angguk kan kepalanya.
Tangan Elvitania terus bergerak lincah memotong bawang yang ada di hadapannya, kemudian dia mulai membantu bibi Saimah menyiapkan beberapa bumbu masakan lainnya.
"Bibi fikir sebaiknya nona masuk ke kamar, bibi khawatir seisi rumah akan marah jika nona berada di dapur"
Ucap wanita itu lagi khawatir.
"Bibi dan bi Ina akan mengerjakan sisa nya"
Dia cukup takut jika tangan Elvitania terluka, bibi sibah Fikir tangan seindah itu tidak seharusnya bekerja di dapur.
Terlalu putih dan lembut, kuku-kuku nya terlalu sehat dan indah, dia fikir memang tidak pantas perempuan itu ikut masuk ke dapur, apalagi sejak awal Sherkan sudah berkata, melarang Elvitania bekerja di dalam rumah tersebut.
"Bukan masalah bi, bukankah tugas istri seperti itu? MENJADI PEMBANTU SUAMI NYA"
Bibi Saimah buru-buru menoleh.
Elvitania tahu betul siapa yang bicara, dia masih sibuk mengiris Tomat yang ada di tangan nya.
Melihat perempuan ular yang tidak lain bibi ke dua bicara bibi Saimah hanya bisa menghela pelan nafasnya.
"Kau tidak menyapaku menantu?"
Tanya bibi Sibah sambil mendekati Elvitania, dia berdiri tepat di samping Elvitania, wanita itu menatap tajam ke arah Elvitania yang masih konsentrasi memotong tomat yang ada dihadapan perempuan tersebut.
"Benar-benar ti..."
Belum juga dia sempat menyelesaikan ucapannya, Elvitania tiba-tiba berbalik ke arah nya sambil berkata.
__ADS_1
"Apa bibi juga ingin bantu memasak? Menjadi PELAYAN SUAMI BIBI Yang ikut hadir di depan?"
Tanya Elvitania sambil menaikkan pisaunya ke hadapan wajah bibi Sibah.
Wanita itu seketika menatap pisau didepan wajah nya dengan perasaan terkejut.
"A...pa... yang ka..u lakukan?"
Wanita itu bertanya dengan tubuh bergetar.
"Membunuh"
Jawab Elvitania asal.
"A..pa?"
Seketika Elvitania terkekeh pelan, kekehan nya terdengar begitu mengerikan, membuat wanita tua itu merinding.
"Bibi ini lucu sekali, tentu saja memasak, memang nya aku ini seorang pembunuh"
Setelah berkata begitu, Elvitania langsung meraih tangan bibi simah dan meletakkan pisau nya ke tangan sang ular betina.
"Bi aku akan naik ke atas"
Elvitania bicara cepat kearah bibi Saimah, beranjak pergi meninggalkan ketakutan pada bibi sibah.
Bibi Saimah mengangguk pelan, buru-buru membalikkan tubuhnya sambil berusaha menahan tawa nya yang ingin pecah.
Benar-benar wanita tua yang menyebalkan.
Elvitania bicara dalam hati sambil berusaha melirik ke arah bibi Sibah yang mematung menatap pisau di tangan nya.
__ADS_1
Sepersekian detik kemudian terdengar teriakan menggeram dengan nada penuh kekesalan didalam dapur tersebut.
"Akkkhhhhhh dasar perempuan sialannnnn"