Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 64 Y & A


__ADS_3

Disisi lain.


Kadiaman keluarga Khadafi.


Kamar Madhuri.


Wanita berwajah culas dengan sifat ingin menguasai itu mengerem kesal saat menyadari kegagalan nya dalam melacak keberadaan Alessia, dia mencengkeram kertas yang ada ditangan nya untuk beberapa waktu, mencoba mengeratkan rahangnya dengan penuh kebencian.


Bagaimana bisa?.


tanda tanya besar menghiasi kepalanya.


kenapa Kanina yang ada di apartemen tersebut? padahal orang-orang suruhan nya jelas-jelas memberikan informasi yang luar biasa terpercaya, lalu kenapa, begitu aneh ketika dia melakukan penggerebekan di dalam apartemen yang katanya Alessia yang ada di sana nyatanya tiba-tiba menjadi apartemen milik Letty putri Kanina?!.


"Kenapa semua bisa segagal ini?"


wanita tersebut bertanya sembari mencengkram erat telapak tangan nya, dia mengeratkan rahang nya semberi mencoba untuk meminjamkan bola matanya beberapa waktu. Bertanya pada laki-laki yang ada dihadapan nya tersebut dengan perasaan kacau balau.


"Kita sudah bergerak sejauh ini tapi nyatanya tetap tidak berhasil menyingkirkan Alessia atau tahu siapa sebenarnya dirinya"


wanita itu mulai mengoceh dalam keadaan tidak jelas, dia benar-benar kesal dengan keadaan, tidak mendapatkan rahasia membuat dia sangat marah saat ini.


"Orang-orang ku sedang mencari tahu, Jangan terlalu khawatir dengan semuanya"


laki-laki berbingkai kacamata tersebut bicara, mencoba untuk menenangkan Madhuri karena dia telah memerintahkan orang-orangnya untuk kembali menyelidiki apa yang terjadi pada hari itu. dia terlihat melirik ke arah jam tangannya beberapa waktu kemudian menatap ke arah Madhuri sembari berkata.


"Aku pikir ini sudah waktu nya, kamu bisa menyelesaikan pekerjaan kamu lebih dulu dan aku akan pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku"


Ucap laki-laki tersebut lagi kemudian.


mendengar ucapan laki-laki yang duduk di atas kursi sofa seketika membuat Madhuri melirik ke arah jam di dinding ruangan tersebut, dia kemudian menoleh ke arah laki-laki yang duduk di ujung sana sembari mengernyitkan dahi.


"Kau tidak mempedulikan ocehan ku sejak tadi Esmail, aku bilang Alessia menjadi ancaman terbesar dalam hidup ku dan Diana, apa kau tidak bisa melihat nya?"


Kali ini nada suara Madhuri terlihat meninggi, dia bergerak mendekati laki-laki yang dia panggil Esmail tersebut, berjalan kearah dia dengan kemarahan mendalam dan kini berdiri tepat di hadapan Esmail yang telah berdiri dari posisi nya.

__ADS_1


Melihat rona kemarahan dari dalam diri Madhur, Esmail kemudian berkata.


"fokus mu belakangan tidak lagi untuk melenyapkan Khadafi, Madhuri"


dan bisa dilihat laki-laki tersebut seperti nya begitu marah kepada Madhuri karena fokusnya terlalu menuju ke Alessia bukan lagi untuk melenyapkan Khadafi yang jelas sangat mudah untuk dilenyapkan jika mereka mau saat ini.


"kau bicara tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaanku dan kau tidak lagi memusatkan pokok persoalan urusan kita untuk menyiapkan suamimu saat ini karena terlalu fokus pada apa yang kau lakukan untuk kepuasan memikirkan sesuatu yang belum seharusnya kau singkirkan saat ini"


dan nada bicara laki-laki tersebut terlihat begitu kesal.


hal tersebut seketika membuat Madhuri mengerutkan keningnya dan dia sedikit melotot saat sadar Esmail tanpa begitu marah sembari mengeram menatap dirinya.


"apa maksudmu bicara seperti itu pada diriku?, kau pikir Alessia tidak penting saat ini Esmail?"


hal tersebut jelas membuat Madhuri menjadi berang, dia langsung menekan tangannya pada dada laki-laki di hadapannya tersebut.


nyatanya laki-laki itu langsung mencengkram kedua belah tangannya dan Esmail berkata.


"kau tahu kau sedikit tidak masuk akal saat ini, seharusnya bukan Alessia yang kau khawatirkan tapi melenyapkan Khadafi secepat yang kau khawatirkan, melihat betapa inginnya kamu untuk melenyapkan Alessia mendahului Khadafi, kau membuatku curiga dan berpikir apa kau sudah jatuh cinta pada Kadafi dan cemburu pada Alessia yang hilir mudik di kediaman Khadafi?"


"Apa?"


"sangat tidak masuk akal kau mendahului Alessia di atas segala-galanya hanya karena kau berfikir dia menghalangi hubungan Diana dan Yash, nyata Alessia dan Yash kini, mereka adalah suami istri. kita bisa menyingkirkan Alicia setelah nanti saat kita telah mendahului untuk melenyapkan Kadafi dan mendapatkan hak Diana di dalam Khadafi group, tapi melihatmu ingin mengingatkan alesia lebih dulu membuatku berpikir kau sedang cemburu pada perempuan tersebut"


dan demi apapun Esmail meradang, melihat sifat Madhuri tidak masuk akal dan apa yang tengah dicarinya dan juga ingin dilewatkannya jelas telah melenceng daripada rencana awal mereka dan itu sangat membuatnya marah, api kecemburuan jelas menghantam Esmail baginya apa yang diinginkan Madhuri sudah tidak masuk akal, Alessia bukan penghalang utama rencana mereka.


"Kau bicara apa, Esmail? apa kau gila? kau pikir aku cemburu pada Alessia? hahhhh"


Wanita tersebut terlihat marah, melepas kan cengkraman tangan Esmail dengan kasar, dia mendengus kesal menatap laki-laki dihadapan nya tersebut.


"Aku hanya berpikir dia menjadi penghalang utama rencana kita, dia terus berada di sekitar Khadafi dan itu jelas meresahkan, membuat rencana kita sedikit terhambat"


dia berusaha untuk membela diri berkata jika dia tidak pernah cemburu pada perempuan tersebut yang merupakan istri dari Yash Khalid, dia hanya takut jika Alessia akan menghalangi jalan rencana mereka.


"Kau pikir aku buta? kau tidak lagi masuk pada tahap akal sehat mu, Alessia menjadi titik kecemburuan mu terhadap Khadafi, dan itu membuat ku jijik"

__ADS_1


laki-laki itu menekan setiap kalimatnya dan dia mengeram dengan kesal sembari menatap tajam bola mata Madhuri, seolah-olah laki-laki tersebut memperingati wanita di hadapannya agar berhati-hati dan jangan pernah membuat dia kesal melampaui batasannya.


"Esmail...apa kau gila?"


"Kau yang gila"


Dan percaya lah perdebatan di antara keduanya terjadi begitu saja, dimana terdapat kesalahpahaman yang terjadi dalam pemikiran mereka masing-masing saat ini.


Di kala perdebatan terjadi, tiba-tiba saja handphone Esmail berdering, hal tersebut sontak membuat laki-laki itu menghentikan perdebatan nya, dia berusaha menetralisir emosinya sembari mencoba untuk meraih handphone di dalam kantong celananya.


Madhuri sebenar nya ingin melanjutkan perdebatan, namun melihat ekspresi wajah dan laki-laki di hadapan nya tersebut seketika membuat dia mengurung kan niat nya.


Esmail secepat kilat mengangkat panggilan itu sembari tangan nya meminta Madhuri untuk diam.


"Halo...?"


dia menyahut panggilan dari ujung sana, rupanya yang menghubunginya adalah Yash Khalid.


"Ada apa Yash?"


Dia bertanya sambil menetralisir detak jantung nya, melirik kearah Madhuri, mencoba memberikan kode kepada wanita tersebut.


"Tidak aku belum tidur sejak tadi, apakah sesuatu yang buruk terjadi pada tuan Khadafi?"


Dia bertanya, menunggu Jawaban dari seberang sana.


Hingga pada akhirnya laki-laki tersebut menaikkan ujung bibirnya, satu kesenangan tercetak di balik bibir nya.


"Tidak, dalam surat wasiat jika dia meninggal maka semua akan dilimpahkan pada Diana, apa kau ingin aku mengatur wasiat nya sekarang juga?"


Dan dia seketika tersenyum menatap kearah Madhuri, seulas senyum kebahagiaan terpancar dari balik wajah nya.


"Ada apa dengan tuan Khadafi?"


Kembali dia bertanya, seolah-olah buta dengan keadaan.

__ADS_1


"Kritis kembali?"


__ADS_2