
Rumah sakit xxxxxxx.
Kamar rawat inap Alessia.
Alessia memejamkan bola matanya sejenak saat dia mendengar berita yang di sampaikan oleh pelayan keluarga Khalid, bibi Tory, pelayan kepercayaan nyonya Hana yang diberikan perempuan tersebut untuk dirinya setelah pernikahan nya dengan tuan Khalid.
"Nyonya Hana meninggal dunia"
Ucap Wanita paruh baya lebih tersebut pelan, menatap nya dengan bola mata berkaca-kaca.
bibir Alessia bergetar, dia menatap wanita dihadapan nya dengan tatapan nanar, dia mencoba menahan sesuatu di kedua pelupuk matanya, Alessia menggigit bibir bawahnya secara perlahan kemudian tanpa sadar buliran air mata Alessia tumpah.
Saat Kematian Tiba, Daun Sidrat al-Muntaha Tertulis Namamu akan Jatuh kepada Izrail.
Tak ada satupun mahluk di alam semesta ini yang mengetahui kapan dirinya akan meninggal dunia, tak terkecuali Izrail sang malaikat pencabut nyawa.
Telah diriwayatkan dalam hadits dari Ka’ab a1- Akbar ra., “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan pohon di bawah Arsy, dan di atas pohon itu tumbuh dedaunan yang jumlahnya sama dengan bilangan seluruh makhluk. Dan, ketika telah sampai ajal seorang hamba, dan umurnya hanya tersisa 40 hari, maka daun itu akan jatuh di atas tempat di mana Malaikat Izrail berada di situ. Maka, ia pun akan paham bahwa sesungguhnya ia telah diperintah untuk mencabut nyawa dari orang yang memiliki nama pada daun itu. Setelah jatuhnya daun itu, maka seluruh malaikat mulai saat itu menamakan (menyebut) orang itu dengan nama “mayat” di alam langit. Orang yang namanya tercatat dalam daun itu disebut mayat oleh para malaikat mulai saat itu, padahal ia masih hidup di atas hamparan permukaan bumi selama empat puluh hari lagi.”
__ADS_1
Tubuh Alessia bergetar, dia mencoba menahan Isak tangisannya, membalikkan tubuhnya dengan cepat dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suaranya tapi apalah daya dia tidak mampu melakukan nya.
Suara tangis nya tidak dapat terbendung lagi, seluruh tubuh nya bergetar sembari dia berusaha mengingat seluruh kebaikan perempuan tersebut yang meminta di panggil kakak.
"Panggil aku kakak"
Mereka duduk berdua di satu sudut taman rumah sakit, menikmati semilir angin sore dimana Senja sebentar lagi menyingsing.
Alessia diam, menoleh sejenak kearah perempuan tersebut untuk beberapa waktu, kemudian dia mendongakkan kepalanya menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah cantik nya.
"Perlakukan Khalid dengan baik, kau tahu Alessia? dia tidak bisa melakukan apapun untuk hal-hal yang sebenarnya kecil, apapun itu tidak bisa dia kerjakan tanpa diriku karena itu aku memilih kamu, jangankan untuk menyiapkan makanan sendiri, hingga hari ini dia tidak bisa menggunakan dasi kerjanya sendiri"Perempuan tersebut tertawa kecil, berusaha mengingat bagaimana suaminya.
Mendengar ucapan nyonya Khalid membuat Alessia diam, dia kemudian menundukkan kepalanya secara perlahan.
"Aku takut tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk tuan Khalid"Ucap Alessia pelan, dia menautkan kedua jari nya secara perlahan.
"Ada yang bilang cinta terkadang datang seiring berjalanya waktu, dan lagi yang maha membolak-balikkan hati adalah Allah SWT, lalu kenapa kita harud khawatir soal itu?"
__ADS_1
Perempuan tersebut menjawab cepat, menatap kearah Alessia untuk beberapa waktu.
Alessia menoleh, balik menatap kearah Perempuan dengan wajah pucat tersebut.
"Kenapa pilihan kakak harus aku?"Selalu sebaris tanya tersebut menghantam dirinya, dari sekian banyak gadis dan perempuan kenapa dia yang dipilih perempuan tersebut.
"Apa kakak tidak takut aku menjadi serakah dan menginginkan semuanya tanpa terkecuali?"Dia kembali bertanya sambil menelisik bola mata perempuan disamping nya tersebut.
Hana mengembangkan senyuman nya, dia membuang pandangannya dan menatap senja yang mulai menghilang di Cakrawala.
"Aku tidak akan menyesali nya, karena sebagian dari pada milik ku memang seharusnya adalah milik mu"
mendengar Jawaban perempuan tersebut membuat Alessia mengerutkan keningnya,dia tidak mengerti ucapan dari perempuan tersebut.
Tangis Alessia terdengar pilu, bagaikan kulit yang disayat sembilu, membuat siapapun yang mendengarnya pasti ikut menjatuhkan air matanya.
"Kak, maafkan aku"
__ADS_1
Hanya kalimat itu yang mampu Alessia lepaskan dari bibir nya.