Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Sejak awal telah di manipulasi


__ADS_3

Masih di masa lalu


Perempuan itu mengawasi pergerakan Louise dari kejauhan untuk beberapa waktu, dia Fikir laki-laki itu mencari informasi atas permintaan Sherkan soal seorang gadis.


Setelah Louise laki-laki kepercayaan Sherkan berlalu, Perempuan itu langsung melesat pergi dari posisi dia berdiri sejak tadi.


Kini disebuah ruangan bernuansa abu-abu, Perempuan itu mengeratkan rahang untuk beberapa waktu, secara perlahan dia meremas kertas yang ada di tangan nya.


"Dia tertarik pada seorang gadis miskin?"


Tanya nya pada seorang wanita berusia sekitar 38 tahunan.


"Kenapa kamu begitu khawatir Sherkan bakal serius dengan gadis seperti itu"


Wanita itu bertanya sambil menaikkan kaki kanannya ke paha kirinya, duduk di atas kursi sofa dengan gaya yang begitu angkuh dan sombong.


"Untie fikir Sherkan type Casanova? tidak ada yang tidak tahu karakter Sherkan, sekali dia menyukai seseorang dia tidak pernah main-main dengan hati nya, seperti dia mencintai kekasih masa lalu nya"


Ucap Perempuan itu cepat dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu.


"Dia bukan keturunan Hillatop yang suka bergonti-ganti pasangan"


Lanjut nya lagi.


"Aku khawatir, Sherkan benar-benar serius dengan perasaan nya yang akan berkembang"


Setelah berkata begitu, Perempuan itu mulai membuka satu persatu lembaran kertas yang ada di hadapannya.


"Elvitania?!"


Dia mengerutkan keningnya, memperhatikan foto yang ada di tangan nya untuk beberapa waktu.


"Aku seperti pernah melihat wajah nya, tidak asing dan begitu familiar"


"Lupakan soal asing tidak asing, untie fikir sebaiknya kamu memutar sebuah skenario, buat gadis itu dekat dengan laki-laki lain, sebelum Sherkan memulai komunikasi intens dengan gadis tersebut"


Setelah berkata begitu, wanita itu mencoba untuk menghubungi seseorang dari handphone miliknya.

__ADS_1


Terlihat dia menggoyangkan kakinya untuk beberapa waktu, menunggu jawaban dari seberang sana.


"Katakan pada ku, apa yang ingin diberikan Louise pada gadis itu tadi?"


Tanya wanita itu tiba-tiba.


Sejenak wanita itu diam, mendengar kan jawaban dari sana dengan seksama.


"Tukar kertas memo nya, aku akan memutar pertemuan gadis itu dengan laki-laki lain"


Wanita itu bicara cepat.


"Aku akan menghubungi Sherkan dan membuat dia tidak menemui gadis itu bagaimana pun caranya"


Setelah berkata begitu, wanita itu mematikan panggilan nya.


Dia kemudian menatap Perempuan yang sejak tadi menatap dirinya.


"Aku akan mengatur pertemuan makan malam kalian, dia akan menemui gadis itu malam ini"


Ucap wanita itu pelan.


Mendengar ucapan wanita itu, perempuan yang dipanggil liez menaikkan ujung bibirnya.


"Untie jangan khawatir soal itu"


*******


Masih di masa lalu


Disisi lain


Sherkan terlihat bergerak terburu-buru, dia mencoba untuk mengejar keadaan, menatap bingung antara jam di tangannya dan panggilan di handphone nya.


Gadis itu menunggu anda di kafe xxxxxx tuan.


Sherkan, sesuatu yang buruk terjadi pada liez.

__ADS_1


Sejenak laki-laki itu mengusap kasar wajahnya, dengan gerakan terburu-buru dia melesat menuju kearah parkiran.


Pada akhirnya Dia terpaksa memilih salah satu dari kedua pilihan Rumit tersebut.


********


Disisi lainnya


Elvitania memperhatikan kertas memo yang di berikan seorang laki-laki pada nya siang tadi, tidak tahu kenapa laki-laki itu berkata seseorang ingin bertemu dengan dirinya.


Dia sama sekali tidak punya gambaran siapa yang ingin menemui dirinya.


Sejenak gadis itu melirik kearah jam di tangan nya, beberapa kali Elvitania menarik oelan nafasnya.


*******


Disisi lainnya lagi


Seorang wanita berjalan perlahan menuju kearah sebuah meja bartender dimana seorang laki-laki terlihat asik dengan minuman nya, laki-laki itu mengobrol dengan beberapa temannya sambil sesekali menyesap minuman nya.


Seketika laki-laki itu menoleh kebelakang saat seseorang menyentuh bahu ku.


"Untie?"


Laki-laki itu mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.


"Bisakah kamu membantu untie, Zahir?"


Wanita itu bertanya sambil mencoba mengulas senyuman.


"Ya?"


Yang dipanggil Zahir terus mengerutkan keningnya.


"Sherkan lagi-lagi menolak sebuah pertemuan kencan buta, bantu bibi untuk mewakili dirinya, jika kamu tidak tertarik pada gadis itu, kamu bisa menolaknya dengan cara yang halus, tapi jangan pernah menyebutkan nama Sherkan pada gadis itu"


"Ya?"

__ADS_1


Zahir mencoba untuk mencerna maksud dari ucapan wanita itu untuk beberapa waktu.


"Sekali ini saja, untie mohon"


__ADS_2