
Begitu pintu dibuka dan seseorang menyembulkan kepalanya, Madhuri langsung menahan pintu tersebut dan memaksa untuk masuk, membuat. Perempuan yang ada di dalam apartemen tersebut langsung terkejut dan membulatkan bola matanya.
"Anda siapa?"
Dia bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Katakan pada ku, dimana perempuan sialan itu?"
Wanita tersebut bertanya sembari meninggikan suaranya, memaksa untuk mendorong pintu yang ada di hadapannya dan masuk secara paksa.
"Maaf apa-apaan ini nyonya?"
Perempuan itu jelas sedikit panik dan gusar namun dari arah dalam sana tiba-tiba terdengar suara.
"Biarkan saja dia masuk, aku ingin lihat apa yang diinginkannya"
Suara tersebut jelas saja cukup mengejutkan Madhuri, bola matanya membulat dengan sempurna bersamaan ketika diri nya masuk ke dalam.
"Kau...?"
Dia jelas terkejut setengah mati.
"Bagaimana kau...?"
"Aku pikir kau begitu terkejut saat melihat wajahku, apa kau barusan saja melihat hantu, Madhuri?"
Seorang perempuan berusia sekitar 47 tahun-an bicara ke arah Madhuri sembari dia berdiri dari posisi duduknya, berjalan perlahan dengan tatapan mata tajam penuh kelicikan.
Begitu dia melangkahkan kakinya mendekati Madhuri, seketika Madhuri memundurkan langkah kakinya dengan ekspresi sedikit gemetaran.
"Kenapa kau ada di sini?"
Nada bertanya Madhuri terlihat jelas tidak baik-baik saja, dia cukup bingung dengan apa yang dia lihat saat ini, dia mengeram sembari mencoba menggenggam telapak tangannya.
"Apakah aneh seorang ibu mendatangi apartemen putrinya sendiri? Aku tentu saja berkunjung ke apartemen Letty"
Jawab perempuan itu cepat sembari menyunggingkan senyumannya.
"Apartment Letty?"
Madura jelas bertanya bingung.
Dia pikir dia sama sekali tidak tahu jika Letty Putri Kanina membeli apartemen baru di pinggiran kota.
Kanina, perempuan itu adalah kakak perempuan Yash, baginya Kanina seperti sebuah racun yang mematikan untuk dirinya, perempuan itu seolah-olah bersikap netral tidak mendukung siapapun tapi sesungguhnya Kanina jelas bersikap sangat licik, dia selalu bergerak tanpa pernah dipahami oleh orang-orang di sekitarnya, apa keinginan Kanina sama sekali tidak ada yang paham dan tahu.
__ADS_1
Sejak dulu dia tahu hubungan kanina dan Yash sangat baik, bahkan perempuan itu selalu ada di belakang Hana dalam situasi apapun karena itu sangat sulit sekali untuk Madhuri menyingkirkan Hanan untuknya dan membiarkan putrinya menjadi istri laki-laki tersebut.
Sebab sejak awal Kanina jelas orang yang paling mendukung hubungan antara kedua orang tersebut hingga sampai ke jenjang pernikahan.
Bahkan setelah Hana dan Yash menikah dan membangun perusahaan mereka, kanina menjadi orang yang paling dipercaya oleh Hana untuk mengelola beberapa perusahaan anak cabang mereka.
Bahkan Hana mempercayai Pinkan, Putri Yash dan Hana untuk tinggal dan di didik oleh perempuan tersebut.
Pinkan benar-benar telah menganggap perempuan tersebut seperti pengganti ibu kandungnya sendiri, semenjak Hana meninggal intan terus berada di rumah perempuan itu tanpa pernah kembali ke rumahnya kecuali berkunjung dalam rangka hari besar atau peringatan kematian Hana.
Yang menjadi pertanyaan besarnya saat ini adalah apartemen yang katanya dihuni oleh keluarga Alessia kenapa menjadi apartemen milik Putri kanina, Letty!?.
Madhuri jelas langsung mengeratkan telapak tangannya, wanita itu pikir bagaimana orang-orang suruhannya bisa salah memberikan informasi atau jangan-jangan ada satu hal yang tidak dia ketahui di belakang semua orang.
"Aku cukup terkejut Letty membeli apartemen di sini, karena setahu ku orang lain yang ada di apartemen ini sebelumnya?"
Madhuri mencoba untuk bertanya dengan serius dia mencoba untuk memancing keadaan dari wanita yang ada di hadapannya itu.
"Apa aku harus bilang dan berkoar-koar pada semua orang jika putriku membeli apartemen di beberapa tempat? Kau jelas bukan siapa-siapa yang harus aku ceritakan soal apa yang dilakukan oleh keluargaku termasuk putriku"
Demi apapun kata-kata yang diucapkan oleh kanina terdengar sangat mengerikan, nada suara yang terkesan sangat arogan dan juga menekan membuat Madhuri menelan salivanya.
Wanita itu mencoba menahan emosinya dia tidak pernah ingin mencari gara-gara dengan Kanina, karena dia tahu Kanina bahkan jauh lebih kejam daripada dirinya.
******"
Begitu Yash menganggukkan kepalanya dan memberikan perintah, seketika pintu apartemen tersebut terbuka, semua orang terlihat langsung masuk ke tempat tersebut di mana Yas juga ikut masuk dengan cepat.
Namun sayangnya saat semua orang masuk ke dalam apartemen tersebut seketika semua orang membeku termasuk Yash.
Laki-laki itu membeku untuk beberapa waktu sembari bola matanya terus menatap ke arah depannya, dia menelusuri seluruh ruangan tersebut secara perlahan, sejenak Yash terlihat tidak bergeming sama sekali, laki-laki itu tanpa mengeraskan rahangnya untuk beberapa waktu.
Ada apa ini?!.
Dia membatin di dalam hatinya.
Realitanya yang dia dapatkan sekarang apartemen itu nyatanya kosong melompong tanpa ada penghuninya, tidak tahu ke mana semua orang berada namun realitanya tidak ada satu barang pun yang tertinggal di sana saat ini.
Benar-benar tidak ada penghuni satu pohon di dalam sana, gimana para anak buah ada orang-orang seruan Yes telah mengitari seluruh ruangan dan mengeceknya satu persatu, membuka pintu ruangan secara bergantian baik dari dapur kamar mandi bahkan kamar namun tidak ada kehidupan yang terjadi di sana bahkan juga sisa-sisa kehidupan.
"Kau tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi di sini?"
Yash seketika langsung mengirim dan menatap ke arah sang penjaga apartemen yang membuka apartemen tersebut dengan ID card.
"Ini membuatku kehilangan kata-kata, tuan"
__ADS_1
Ucap nya sembari menelan salivanya.
Yes pikir mungkin dengan mengatakan tidak mencari identitas penghuni apartemen dia akan mendapatkan nama ataupun kartu identitas sang penghuninya yang sebelum ini, nyatanya saat pihak apartemen mencoba untuk mengecek soal identitas sang penyewa, mereka sama sekali tidak bisa menemukannya lagi kala ini.
Bahkan kamera CCTV yang mungkin bisa menjadi petunjuk bagaimana rupa dan sosok yang tinggal di sana sangat tidak bisa Untuk diajak bekerja sama, jangankan untuk mendapatkan sosok aslinya, bayangannya pun mereka tidak bisa menemukannya.
"Ini tidak mungkin"
Bahkan sang penjaga apartemen terlihat mengacak-ngacak rambutnya karena bingung.
Mereka terlihat diam, berpikir dengan keras apa yang sebenarnya terjadi,seolah-olah seseorang telah bekerja mendahului Yash dan semua orang untuk menyembunyikan identitas sang penyewa apartemen tersebut.
"Dia bukan membeli nya?"
Yash bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Tidak tuan, mereka menyewa nya"
Seketika Yash menghela kasar nafasnya.
"Katakan padaku siapa pemilik apartemennya?"
Laki-laki tersebut kemudian bertanya sembari menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
"Kami akan mencoba memeriksa nya"
Pada akhirnya penjaga apartemen mencoba untuk memeriksa identitas sang pembeli apartemen tersebut.
Cukup lama Yash menunggu, sembari pemikiran laki-laki tersebut mencoba berkelana jauh, dia bahkan berusaha untuk mengetuk-ngetuk jemarinya di kursi kayu yang dia duduk di saat ini.
"Katakan?"
Yash bicara lantas berdiri dari posisi duduknya saat dia melihat laki-laki dihadapan nya bersiap untuk bicara.
"Dia adalah Nyonya Angelina Hanaya Khadafi."
"Apa?"
Saat laki-laki di hadapan Yash menyebutkan nama lengkap sang pemilik apartemennya, seketika membuatnya terbelalak lagi mendengar namanya.
"Kau bilang apa?"
Bayangkan bagaimana jantung laki-laki tersebut kini berdetak, dia mencoba untuk berpegangan pada kursi dibelakang nya.
Hana?!.
__ADS_1
Bagaimana bisa?!.