Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Harapan kecil sang mertua


__ADS_3

Mama Sherkan terlihat mengembangkan senyuman nya, dia meletakkan makanan untuk Elvitania tepat di atas meja nakas di samping Kasur dimana Sherkan dan Elvitania tidur.


"Apa masih terasa perih?"


Mama mertua nya bertanya sambil mulai duduk di samping Elvitania, wanita tua itu menyerahkan segelas susu kearah sang menantu nya.


Elvitania menerima gelas susu Tersebut sambil melebarkan senyuman nya, dia menggeleng kan kepala secara perlahan.


"Ini sudah cukup baik, rasa perih Karena jahitan nya sudah menghilang, hanya saja aku masih cukup takut untuk banyak bergerak"


Jawab Elvitania pelan.


"Kekhawatiran ku seolah-olah luka nya akan membesar dan robek jika aku bergerak sembarangan"


Lanjut Perempuan itu lagi.


Mendengar kekhawatiran sang menantu nya, Mama Sherkan langsung melebarkan senyuman nya.


"Itu hal yang wajar, saat terluka Perempuan lebih merasa takut jika-jika luka mereka akan kembali terbuka dan melebar. Seperti seseorang yang melahirkan, setelah menerima jahitan melalui proses normal atau bahkan operasi sesar mereka merasa sangat khawatir dan berfikir itu akan robek dan tidak bisa kembali lagi seperti semula"


Mama Sherkan berusaha menjelaskan, namun terselip satu harapan di dalam Ucapan wanita tua itu.


Melahirkan?!.

__ADS_1


Kata-kata itu terdengar begitu lembut dan manis, tapi Elvitania tahu kemana arah pembicaraan nya.


Wanita itu membicarakan soal calon cucu untuk nya.


Sejenak Perempuan itu menatap Mama mertua nya.


"Ma!."


Seru nya pelan kemudian meraih perlahan telapak tangan mertua nya itu.


"Maafkan aku"


Ucap Elvitania sambil menatap bola mata sang Mama mertua nya perlahan.


"Seharusnya aku tidak menunda nya"


Wanita itu kemudian langsung balik menggenggam telapak tangan menantunya itu dia menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"ini bukan kesalahan kamu, Mama tahu kalian butuh waktu terutama kamu"


Lanjut wanita tua itu lagi bicara sambil menatap hangat wajah Elvitania.


"kalian butuh waktu untuk menyesuaikan diri antara satu dan yang lainnya, pasti tidak gampang selama setahun lebih ini melakukan nya"

__ADS_1


Mendengar ucapan sang Mama mertua, Elvitania terlihat diam. Dia fikir dari cara bicara Mama Sherkan seolah-olah wanita itu tahu apa yang terjadi kepada mereka, mungkin wanita itu tahu jika Sherkan sekalipun tidak pernah menyentuh dirinya, bisa jadi wanita itu tahu hubungan buruk di Antara mereka, tahu jika Elvitania tidak pernah mengharap kan pernikahan antara dirinya dan Sherkan.


Tapi wanita itu terlihat biasa saja, sama sekali tidak pernah memperlakukan dirinya secara buruk, tidak pernah membuat dia tersinggung atau marah, Mama Sherkan selalu memperlakukan dirinya layak nya putri nya sendiri, tetap hangat dan lembut bahkan tidak sekalipun mengeluarkan suara nya soal pernikahan antara dia dan Sherkan.


Baru kali ini bicara begitu saat melihat hubungan dia dan Sherkan yang seperti nya baik-baik saja.


"Ma...aku .."


Elvitania menggigit pelan bibir bawahnya.


"Lupakan soal apa yang telah terjadi kemarin, selama disini.."


Mama Sherkan menyentuh lembut dada Elvitania.


"Saling mencintai dan menghormati, masa-masa Kemarin anggaplah sebagai bumbu dalam memperkukuh perasaan yang ada disini"


Setelah berkata begitu, wanita itu terlihat menyentuh lembut wajah Elvitania.


"Baik-baik lah dalam pernikahan kalian, anggap saja yang datang dan pergi sebagai ladang ujian untuk semakin menguatkan perasaan kalian hingga menua bersama"


Lanjut nya lagi.


"Nikmati lah liburan kali ini dengan baik bersama Sherkan"

__ADS_1


lanjut wanita itu dengan bola mata bahagia.


Elvitania menganggukkan kepalanya dengan cepat.


__ADS_2