
Rubi mencoba menahan perasaan nya di kamar mandi, dia masih mencoba menahan sakit di punggung nya karena keram dan kaku, punggung nya seolah-olah mati rasa.
gadis itu bersandar di kloset 🚽 sambil mencoba menggunakan pakaian nya, tapi sia-sia.
Ahhhhhhhhh
Dia berteriak didalam hati nya dengan jutaan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
dia fikir kenapa hal sial tadi bisa terjadi?, kedepannya bagaimana caranya dia meletakkan mukanya dihadapan Arch.
rasanya benar-benar sangat memalukan, bagaimana mungkin dia punya nyali untuk kembali berhadapan dengan Arch.
di luar sana samar-samar bisa dia dengar suara kak Sherkan dan kak Elvitania yang bicara dengan Arch.
"dimana Rubi?"
Tanya kak Sherkan nya pada Arch.
"Aku fikir mungkin dia sedang mandi, sebab aku juga baru bangun dari tidur"
Jawab Arch cepat.
"Hasna tertidur dengan pulas? sebaiknya kalian membersihkan tubuhnya dengan air hangat, di lap dengan handuk agar Hasna merasa lebih segar"
Terdengar suara Kakak ipar nya yang bicara cepat.
Rubi Fikir tidak bisakah Arch mencari cara agar kedua orang itu keluar? dia butuh pertolongan saat ini.
Bertahan di kamar mandi jelas tidak memungkin, punggung nya benar-benar sakit, di butuh berganti pakaian dan tidur di atas kasur, dia juga butuh seorang dokter.
Entah apa saja yang di obrolkan oleh ketiga orang tersebut di luar sana Rubi tidak bisa mendengar kan nya dengan jelas.
Dia hanya berharap agar kakak dan kakak iparnya tidak mengetuk pintu kamar mandi dan mencoba menunggunya keluar.
Rubi juga berharap kedua orang itu segera beranjak dari kamar mereka.
cukup lama Rubi bersandar di kloset duduk🚽 tersebut, dia mencoba menahan nyeri pada punggung dan pinggang nya.
__ADS_1
bergerak tidak bisa menggunakan pakaian dia pun tidak bisa, itu benar-benar menyebalkan untuk dirinya.
hingga pada akhirnya tidak didengarkan oleh nya lagi suara Sahut menyahut di luar sana, Rubi jelas menarik Lega nafasnya.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Arch muncul dari arah pintu kamar mandi.
"kamu Belum mengganti pakaianmu?"
Tanya Arch sambil menyembulkan kepalanya dari arah pintu kamar mandi.
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri"
kali ini terdengar suara rengekan dari bibir Rubi.
"Apa?"
Arch jelas mengerutkan keningnya.
"Bantu aku menggunakan pakaian ku"
ucap gadis itu tiba-tiba.
Arch jelas terkejut.
"Berhentilah berpikir yang tidak-tidak ini berada dalam keadaan terjepit"
Ucap Rubi kesal.
"Lakukan sekarang, aku sudah kedinginan, aku ingin berbaring, besok pagi mari mencari seorang dokter ahli saraf"
Ucap Rubi lagi.
Masih dengan perasaan bingung mencoba masuk ke dalam kamar mandi tersebut dengan sedikit ragu-ragu.
"Anggap saja kamu sedang mengurus saudara perempuan mu"
Oceh Rubi.
__ADS_1
"Aku tidak punya adik perempuan kecuali Elvitania"
Jawan Arch cepat.
"Dan aku tidak pernah melakukannya"
Keluh laki-laki itu kemudian.
"Yakkkk"
Rubi berteriak kesal.
dia jelas sebenarnya sudah tidak memiliki muka untuk meminta bantuan Arch, tapi keadaan memaksa nya untuk meminta bantuan kepada laki-laki tersambung.
jika ingat kejadian tadi dia jelas saja rasanya dia ingin mati saat ini juga, menenggelamkan wajahnya ke dalam lumpur yang paling dalam.
tapi bukankah dia harus menekan rasa malunya karena keadaan?!.
pada akhirnya Arch dengan ragu-ragu mencoba untuk meraih pakaian ruby dan membantu ruby untuk menggantikan pakaiannya itu.
Rubi jelas menyembunyikan penutup atasan nya, dia malu jika Arch melihat nya.
Begitu tangan Arch bergerak mencoba memakaikan baju tidur Rubi, Tiba-tiba satu suara mengejutkan dirinya.
"Apa yang kalian lakukan berdua"
Hahhhh?!.
Oh shi..t.
Rubi dan Arch seketika menoleh secara bersamaan.
Ketegangan jelas langsung terjadi di antara mereka.
Sherkan tampak berdiri tepat dibelakang mereka.
Menatap Arch dan Rubi yang dalam posisi yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Dari sudut pandang berbeda, mereka jelas terlihat sedang siap-siap untuk melewati sesi ber.. cinta bersama.