Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bersama didalam suka maupun duka


__ADS_3

Kamar VVIP xxxxxxxx


Rumah sakit xxxxxxx



Ruangan kamar rumah sakit mendominasi berwarna cream dimana Elvitania dirawat tersebut terlihat begitu legang, tidak ada lagi layar monitor, tidak ada lagi berbagai macam selang yang berdiri dan terpajang di samping kasur nya.


Kursi sofa dimana biasa digunakan Sherkan untuk tidur dalam beberapa hari ini terlihat tidak diduduki oleh siapapun lagi.


Gorden berwarna coklat gelap disisi kanan ranjang telah tertutup sempurna sejak sore tadi, aroma AC masih dan bau obat jelas tercium tajam di sekitar ruangan.


Matahari jelas telah menghilang sejak tadi berganti langit malam yang tengah enggan menampilkan jutaan bintang di seluruh hamparan langit yang begitu luas.


Hari masih menunjukkan pukul 9.30 malam, hingga keheningan di luar ruangan di sekitar rumah sakit terasa begitu kental dengan kesunyian.


Para penghuni ruangan jelas memilih masuk kedalam bilik mereka masing-masing untuk menikmati lelap didalam ruangan.


Berbeda dengan Suasana dilantai bawah yang masih terasa ramai karena hilir mudik beberapa dokter dan perawat serta beberapa keluarga pasien yang mulai bergerak memasuki ruangan.


Juga berbeda di ruangan ICU atau UGD yang kentara dengan suasana siaga dan penuh ketegangan setiap kali ada pasien yang masuk kedalamnya.


Di ruang kamar mandi di kamar VVIP xxxxxxxx terdengar percikan suara air didalam nya, beberapa kali terdengar obrolan lembut didalam nya.


Sherkan terlihat mulai meletakkan tubuh Elvitania menuju ke atas kloset duduk berwarna putih tersebut.

__ADS_1


Sang istri berkata dia ingin buang air kecil.


Selang infus masih tertancap di tangan nya, dengan gerakan begitu lembut Sherkan membiarkan Elvitania berdiri sejenak agar dia bisa melepaskan celananya.


"Aku bisa melakukan nya sendiri"


Ucap Elvitania pelan, meskipun mereka telah beberapa kali melewati malam bersama, menampilkan seluruh tubuh mereka Antara satu dengan yang lainnya, Elvitania masih tetap merasa malu saat Sherkan harus membuka celananya dan menemaninya ke kamar mandi.


"Sayang, aku bahkan sudah melihat dan merasakan nya berulang kali, apakah masih begitu canggung untuk kamu agar aku melepaskan celana kamu?"


Goda Sherkan pelan.


Seketika wajah perempuan itu memerah karena malu, dia mencoba bersandar ke dada Sherkan.


Ucap nya pelan.


"Tentu saja tidak, bukan kah suami istri memang begitu? kita tidak hanya saling menerima dan membantu di kala senang dan sehat bukan? dikala sulit dan sakit pun kita harus saling menggenggam tangan, saling membantu dan saling memberi semangat hmmm?"


Bagi Elvitania Laki-laki itu selalu seperti itu, begitu sabar dan penuh cinta, Karena itu dia selalu berfikir bagaimana bisa dia ingin meninggalkan nya.


Bahkan dikala koma saat dia merasa berhalusinasi tidak tahu ada dimana, Sherkan satu-satunya orang yang ingin dia lihat.


Meskipun Zahir ingin membawa nya, dia berkata


"Aku tidak bisa meninggalkan suami ku, aku memang pernah mencintai kamu, tapi itu dimasa lalu kita bukan? dimasa kini ada Sherkan yang selalu menggenggam tangan ku dan terus menunggu kepulangan Ku, maafkan aku"

__ADS_1


"Sekarang aku akan menunggu"


Bisik Sherkan pelan sambil membiarkan Elvitania duduk dengan nyaman di Kloset tersebut setelah dia melepaskan celana Elvitania.


"Biarkan aku sendiri Sherkan, kamu bisa keluar sekarang"


Elvitania bicara sambil menggigit bibir bawah nya.


Dia benar-benar masih merasa malu jika Sherkan harus menemani nya di kamar mandi.


"Sayang..."


Laki-laki itu jelas menolak nya.


"I'm your husband Hmmmm, tidak ada kata malu atau sungkan, kita akan selalu seperti ini hingga menua bersama"


Ucap laki-laki itu sambil menyentuh lembut wajah Elvitania.


"Aku menunggu, setelah ini kita akan pergi menikmati makan malam yang tertunda, kamu dengar sayang? cacing di perut suami nyonya Elvitania sudah menari-nari sejak tadi"


Mendengar gurauan Sherkan Seketika Elvitania terkekeh pelan.


Kemudian bola mata Elvitania menatap dalam wajah Sherkan, dia bergumam dalam hati nya.


Lalu katakan pada ku, bagaimana mungkin aku meninggalkan laki-laki ini begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2