
Sejenak bola mata bibi Tory melirik kearah Alessia, takut jika gadis tersebut terjebak permainan para ular berbisa, dia cemas dan khawatir karena Erlan supir pribadi sekaligus laki-laki kepercayaan almarhumah nyonya Hana yang di percaya menjaga Alessia belum juga kunjung tiba. Mertua Alessia cukup enggan biasanya berhadapan dengan Erlan, jadi tidak mungkin terlalu banyak menekan Alessia jika ada laki-laki tersebut disini.
Alessia yang belum memberikan jawaban nya, hanya menatap Madhuri dan Diana secara bergantian, dua perempuan culas dalam sinetron ikan terbang tersebut seolah-olah benar-benar ingin mencari masalah dengan nya pagi-pagi begini.
Dia yakin setelah salam akan ada pembicaraan lainnya lagi untuk di ucapkan demi menyudutkan Alessia didepan mama mertuanya.
Istri Khadafi, ibu tiri almarhumah nyonya Hana memang luar biasa, tidak heran dimasa lalu sangat sulit sekali menyingkirkan dirinya, apalagi peran Diana cukup baik dalam mengambil muka mertua Alessia, tidak salah juga mertua nya begitu berharap Yash menikah dengan Diana dan bukan dengan Alessia.
"Aku sudah memberikan salam pada bibi Madhuri dan adik ipar, ma" Ucap Alessia kemudian, dia mengembangkan senyumannya kemudian mendekati ibu mertuanya.
Mendengar ucapan Alessia jelas saja membuat Madhuri dan Diana membulatkan bola mata mereka. Percayalah bola mata Madhuri rasanya ingin lepas saat ini juga, dia mengeram dan ingin menjawab tapi Alessia buru-buru berkata.
__ADS_1
"Tapi sepertinya bibi Madhuri lebih terpesona pada ornamen baru yang ditampilkan mama di bagian tangga, bibi menatap kagum pada setiap detail ornamen nya, pilihan menempatkan ornamen seperti itu kemarin benar-benar membuat para tamu terpesona, sampai-sampai bibi mengabaikan salam ku demi mengagumi ornamen pilihan mama" Seulas senyuman picik menghiasi bibir Alessia, menatap Madhuri dan mama mertua secara bergantian.
"Mama benar-benar memiliki selera yang begitu baik, bibi Madhuri pun begitu terkagum-kagum dibuatnya" lanjut Alessia lagi.
Demi apapun Madhuri yang ingin menepis ucapan Alessia terpaksa menahan nya, memuji nyonya tua Khalid jelas menjadi tujuannya, wanita tersebut sangat mudah meluluhkan hatinya, cukup diberikan banyak pujian sudah membuat nya tersipu dan merasa bahagia.
Cih, pintar sekali kau bocah.
Madhuri mengeram didalam hati nya.
Baru mengganti nya dalam beberapa hari ini, dia gampang bosan dan selalu mengubah beberapa hiasan, ornamen atau bahkan apapun itu untuk meningkatkan rasa bahagia atas sesuatu yang membuat nya mulai merasa jenuh karena keadaan.
__ADS_1
"Aku jadi tersanjung, apakah kamu juga menikmati keindahan nya?" dia bertanya dengan penuh semangat.
"Tapi ma...?" Diana mencoba memotong, dia pikir tidak ada sandiwara seperti itu di antara mereka tadi tapi buru-buru Madhuri menyela.
"Tentu saja kami menyukainya, bukankah begitu sayang?" Dia bertanya pada Diana, membuat perempuan muda tersebut diam sejenak.
"Ya" Pada akhirnya Diana menjawab sambil sedikit mendengus, dia mencoba membuang pandangannya dari Alessia dan langsung menatap kearah nyonya tua Khalid dan mama nya.
"ini terlalu indah kakak"Madhuri mencoba mengembangkan senyumannya, mencoba untuk merayu wanita dihadapan nya.
Dan ketika obrolan mereka semakin memanjang dimana ketiga orang tersebut beranjak menuju ke lantai atas, Alessia membebaskan dirinya dengan cepat, beranjak pergi dari sana dan berpamitan dengan bibi Tory.
__ADS_1
"Ini membuatku cukup lega" wanita paruh baya lebih tersebut mengehela pelan nafasnya, dia pikir Alessia semakin lama semakin bisa di andalkan.
"Hati-hati dijalan" dia berpesan cepat, membiarkan Alessia pergi secepatnya dari sana.