Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 63 Y & A


__ADS_3

Kembali ke Mansion utama Yash dan Alessia


Makan malam


Meja makan.


Yash terlihat buru-buru melahap makan malam nya ketika ibu nya tampak mulai menuruni anak tangga satu persatu, wanita tua itu perlahan bergerak di bantu oleh pelayan kepercayaan ibu nya, menginap di sana hari ini bersama Pinkan, putri Yash.


"Papa mau kemana?"


Gadis muda tersebut bertanya pada Yash, agak aneh saat papa nya terlihat begitu terburu-buru menghabiskan makanannya dimana sang nenek baru tiba di meja makan.


"Papa harus ke rumah sakit, bibi mu bilang keadaan kakek Khadafi agak menurun"


Laki-laki tersebut menjawab, menyelesaikan sisa makanan terakhir nya dengan cepat.


"Dimana istri mu?"


Suara wanita tua Khalid mulai terdengar, dia mencari sosok Alessia tapi tidak menemukan nya, biasanya gadis itu ada di antara mereka, menyiapkan semuanya dengan cepat.


"Masih di rumah sakit"


Yash menjawab ala kadarnya, tidak memperpanjang jawaban yang diberikannya karena dia tahu ibunya lamban laut akan mulai kan protes atau marah ketika Alessia tidak ada di antara mereka.


"Apa makanan ku sudah di siapkan?"


Kembali wanita tua itu bertanya tapi kali ini dengan pertanyaan yang berbeda.


Seorang pelayan meletakkan beberapa menu makanan ke arah wanita tua Khalid, dimana ibu Yash mulai mencoba meraih piring dan sendok di hadapannya.


Dia mengernyitkan dahinya.


"Cckckck dia paling tahu bagaimana selera ku, bagaimana bisa tidak pulang lebih dulu dan mengurus makanan ku"


Wanita tersebut protes, menatap menu makanan di hadapan nya dengan perasaan yang cukup buruk, seperti nya apa yang di hidangkan tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.


"dia menyerahkan urusan makanku pada orang lain, bagaimana bisa perempuan itu melakukan hal seperti itu"


ibu Yash terus mengoceh sejak tadi, tiba-tiba saja nafsu makan nya hilang saat dia melihat menu makanan yang ada di hadapannya, semua tidak sama seperti yang dia harapkan, terlalu aneh untuk dirinya.


Bibi Tory yang sibuk membuatkan teh hangat untuk nyonya Khalid terlihat mengulum senyuman nya, dia pikir wanita itu sudah terbiasa dengan makanan yang di suguhkan Alessia, dari terbiasa pada akhirnya menjadi satu kesatuan paling di cari dalam segala kebutuhan sehari-hari. Hanya saja bibi Tory pikir sang nyonya belum menyadari nya saja jika wanita tersebut telah terbiasa dengan Alessia dan apapun yang di berikan oleh menantu nya tersebut.

__ADS_1


Yash baru saja menyambar gelas minuman nya dan mencoba menyesap air putih tersebut secara perlahan.


"Apa salah satu dari kalian ada yang tidak subur?"


Saat pertanyaan tersebut meluncur dari mulut ibu nya, seketika Yash refleks terbatuk-batuk karena terkejut, dia tersedak air minum saat pertanyaan yang dilontarkan ibu nya meluncur begitu saja.


"Papa?"


Pinkan gelagapan, mencari tisu dengan cepat dan memberikannya pada sang papa. sebenarnya pertanyaan yang dilontarkan oleh neneknya sedikit membuatnya malu, di usianya yang jelas setelah dewasa dan matang mendapatkan pertanyaan dari wanita tua tersebut meskipun itu untuk papa nya jelas Membuat dia agak tidak enak hati dan malu mendengarnya.


bukannya dia seorang gadis muda? agak aneh mendengar pertanyaan seperti itu di balik telinganya.


Ahhhh pembicaraan orang dewasa benar-benar.


Batin Pinkan.


setelah dia menyerahkan tisu pada papanya, laki-laki tersebut membersihkan semburan air di mulut nya karena batuk dan terkejut, pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya cukup membuat Yash agak shock dan kehilangan kata-kata nya.


"sudah 2 tahun lebih kalian menikah, waktu terus berjalan mungkin nanti 2 tahun setengah 3 tahun dan entah berapa tahun berlalu, tapi nyatanya dalam pernikahan kalian tidak pernah terdengar sekalipun Alessia hamil, apakah dia tidak subur?"


Ibu Yash mulai mengoceh, dia protes dan memikirkan berbagai macam kemungkinan didalam kepalanya, tatapan nya mengintimidasi ke arah Yash, dia pikir bagaimana bisa putra nya yang bisa memiliki anak Kallan dan Pinkan dari Hana bisa tidak memiliki anak bersama Alessia.


belakangan wanita itu terlihat gusar dan gelisah, pemikiran nya berkacamuk menjadi satu, selama ini dia tidak memikirkan nya, hingga seseorang berkata jika Yash kekurangan penerus di keluarga mereka, bahkan Khadafi pasti membutuhkan penerus berikut nya juga ketika tuan Khadafi mulai tidak baik-baik saja.


Diana anak perempuan Khadafi, mungkin tidak benar-benar bisa menguasai seluruh warisan dan perusahaan kakek nya, kallan bisa jadi kembali ke sana cepat atau lambat, Pinkan bisa jadi ikut bersama suami nya setelah berkeluarga nanti, lalu siapa yang akan meramaikan rumah Khalid? siapa yang akan menjadi penerus Khalid? jika tidak keturunan selanjutnya siapa lagi?!.


Menunggu kallan menikah dan Pinkan menikah lalu punya anak itu jelas bukan waktu sebentar, butuh puluhan tahun berlalu hingga masa itu tiba.


Sebagai seorang ibu jelas dia harus memikirkan nya.


"Dilihat dari berbagai sisi, kau jelas subur, apa jangan-jangan istri mu bahkan tidak mampu memiliki anak? jangan kan anak, hamil pun mungkin sejak awal dia tidak mampu kan kau berusaha untuk melindungi nya"


mulut wanita tersebut terdengar begitu mengerikan, saat bicara ibu Yash memang tidak memikirkan hati atau perasaan orang lain.


"Seharusnya kamu memang turun ranjang dengan Diana, kita tidak perlu khawatir soal penerus generasi berikutnya, menikahi Alessia benar-benar membuat ku resah"


Lanjut nya lagi sambil mencoba mengambil satu menu sayuran di hadapannya.


Yash mendengar ucapan ibu nya awal nya berusaha tidak menanggapi nya tapi kalimat akhir yang meresahkan ditambah nama Diana yang disematkan membuat Yash sedikit meradang.


"Aku tidak mencintai Diana dalam segala situasi, sejak awal dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Khalid"

__ADS_1


Dan Yash bicara dengan tegas, tidak tahu kenapa dia benci ibu nya membahas Diana di antara mereka.


"Dan Alessia subur ma, ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan saat ini alasan nya, mari mendiskusikan nya lain waktu"


Yash berusaha berdiri dari duduknya.


"Kau sekarang berusaha melindungi nya?"


Agak kesal melihat ekspresi Yash yang mulai seperti melindungi Alessia, dia tiba-tiba kehilangan nafsu makan nya.


"Ma aku tidak melindungi nya, tapi...."


Prangggg.


Nyonya tua Khalid terlihat kesal, menghantam sendok ke atas piring makan, membuat suasana seketika mencekam.


"Ma..."


Yash pada akhirnya serba salah.


Ini pertama kali nya dia tidak mampu berkutik, dulu soal Hana ibu nya tidak pernah begini dan dia tidak harus bersusah payah berselisih paham.


Kali ini untuk pertama kali nya dia serba salah, di satu sisi wanita dan hadapan nya itu ibu nya, di sisi lain Alessia adalah istri nya.


"Alessia subur ma"


Dia menekankan suaranya.


"Mama menunggu hingga 1-2 tahun lagi, jika tidak kunjung memiliki anak, maka turun ranjang dengan Diana dan jangan pernah membantah ucapan mama"


dan seketika Yash tercengang mendengar ucapan ibu nya.


"Ma...?"


Dia rasanya ingin sekali mengumpat didalam hati nya. Persis buah simalakama, dimakan menyulitkan, tidak dimakan menyesakkan.


Pinkan hanya bisa diam bersama beberapa pelayan lainnya, bibi Tory tampak bergerak meletakkan teh hangat untuk wanita tua Khalid secara perlahan.


Benar-benar sulit.


Batin bibi Tory.

__ADS_1


__ADS_2