
Sherkan berusaha mengguncang-guncang tubuh Elvitania ketika dokter berkata mereka kehilangan nafasnya.
"Kak kita harus keluar, biarkan para dokter mencoba membantu sebisanya"
Rubi bicara panik, mencoba menarik sang kakak agar keluar dari sana.
Mama nya jelas telah keluar dari tadi mencoba berpegangan pada tiap dinding rumah sakit, langkah nya jelas teras begitu sulit.
Papa nya berusaha ikut menahan gerakan Sherkan, tapi laki-laki itu tidak mau beranjak dari sana.
"No... Pa aku sudah pernah berjanji pada Elvitania, aku tidak akan pernah meninggalkan dia atau melepaskan tangan nya dari keadaan apapun"
Sejatinya laki-laki itu tidak pernah mau menangis bukan? tapi kadang ada keadaan yang harus memaksa mereka menangis.
Sebab Menangis adalah salah satu bentuk pelampiasan emosi. tapi dewasa ini kita sering mendengar istilah real men don’t cry alias pria sejati tidak menangis. Stigma tersebut membuat pandangan lelaki menangis pertanda lemah.
Tapi Sherkan tidak berkata dia lemah, dia hanya merasa gagal melindungi Elvitania, dia gagal memenuhi janjinya, dia gagal dalam banyak hal.
Mereka baru saja memulai semua nya, dia baru saja memperbaiki keadaan, menaburkan jutaan cinta didalam kehidupan Elvitania, membunuhi manis nya gula didalam hubungan mereka.
Dia begitu mencintai perempuan itu, melewati terjal nya bebatuan di setiap sudut langkah yang dia jalani.
Kadang dia berfikir kenapa jalan cinta mereka terasa begitu sulit dan susah? mereka dipertemukan dengan cara yang unik lalu berpisah dengan cara di paksa kemudian bertemu lagi dengan cara yang menyakitkan.
__ADS_1
Lalu apakah mereka sekali lagi harus berpisah dengan cara yang begitu menyedihkan?!
Lagi?!.
Dia kali ini tidak sanggup menanggung semua nya bahkan dia tidak sanggup mengalah pada takdir.
Dia lelah dengan seluruh keadaan.
Suara layar monitor terus bergerak memekakkan telinga, para kru dokter mencoba sekuat tenaga Mereka.
Perintah demi perintah bahkan alat kejut jantung Mulai digunakan.
Kali air mata Sherkan tumpah, dia fikir jika Elvitania meninggal Dirinya kali ini, dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri didalam seumur hidup nya.
"Elv... bangunlah, aku mohon bangunlah, jangan lakukan ini pada ku, aku belum bilang betapa aku mencintaimu, aku belum bilang betapa aku tidak bisa hidup tanpa mu"
"Elv jangan lakukan ini pada ku..."
Sherkan bicara sambil menahan jutaan perasaan di hatinya, terus mengguncang tubuh itu agar sadar dari tidur panjangnya.
"Tidakkah kamu ingat apa yang aku katakan? ada banyak rencana yang kita susun Dan Belum terlaksana"
"Kamu berjanji akan terus mengikuti langkah ku, membiarkannya diriku mengulang membuat memori di masa lalu dan menciptakan hal-hal baru di antara kita"
__ADS_1
"Aku belum sepenuhnya menepati semua nya, lalu bagaimana mungkin kamu ingin meninggalkan aku seorang Diri disini?. menggantung janji yang belum sepenuhnya aku tempati"
"Aku mohon Elv, buka mata mu sekarang juga, aku sangat merindukan mu, begitu merindukan mu"
Laki-laki itu terus bicara dengan nada Bergetar, mencoba menyadarkan Elvitania dalam ketidak berdayaan nya.
Sherkan percaya sesuatu telah terjadi disana, Elvitania mungkin hanya tidak tahu kemana kaki nya harus melangkah, perempuan itu mungkin butuh panggilan nya agar bisa pulang ketempat seharusnya.
******
Elvitania masih menatap tangan kokoh dihadapan nya itu untuk beberapa waktu, dia samar-samar masih mendengar suara demi suara yang memanggil nya.
Awalnya dia ingin memberikan telapak tangan nya, namun hati nya seolah-olah berkata bukan dia yang kamu inginkan saat ini Elv.
"Elv?"
"Seberapa besar cinta kamu pada ku, Zahir?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Zahir mengembang kan senyuman nya.
"Tak dapat di definisikan dengan kata-kata, karena kata-kata tak dapat menyentuhnya"
Jawab laki-laki itu pelan dengan bola mata berkaca-kaca.
__ADS_1