
Elvitania buru-buru kembali kekamar utama mereka, rasa perih di paha nya begitu mendominasi, rasa nya begitu perih dan panas.
Begitu dia membuka gaun nya di kamar mandi benar paha nya menampilkan warna merah yang cukup membuat perih mata memandang.
Elvitania buru-buru membuka Gaun nya, dia meraih handuk dan langsung melilitkan handuk di tubuh nya.
Sejenak Elvitania mematung, iya dia ingat seharusnya dia membawa obat yang digunakan untuk mengobati dirinya tadi lalu kenapa dia melupakan nya?.
Buru-buru Elvitania mencoba kembali ke kamar, dia berusaha mendapatkan handphone nya dan mencoba untuk menghubungi bibi Saimah, tapi bola mata nya seketika terbelalak kaget saat dia melihat Sherkan masuk ke dalam kamar.
Seketika mereka berdua mematung, bola mata Sherkan tanpa sengaja tertuju pada paha Elvitania.
Laki-laki itu jelas mengerut kan keningnya.
"Sesuai dugaan ku, bukankah itu cukup buruk? kamu bilang tadi tidak apa-apa?"
Ucap Sherkan lantas bergerak mendekati Elvitania.
Perempuan itu jelas gelagapan, dia cukup bingung harus bagaimana, mundur atau maju.
Belum dia bisa bergerak Sherkan tiba-tiba menyambar tubuh nya.
Elvitania lagi-lagi terbelakang kaget.
"A..pa yang kamu lakukan?"
Dia bertanya kaget saat Sherkan mengangkat cepat tubuh nya, menggendong nya dengan cepat.
"Memang nya apa yang akan aku lakukan? membuat anak-anak?"
Goda Sherkan tiba-tiba.
"Ya?"
Seketika Elvitania terkejut, mendengar candaan laki-laki itu seketika membuat wajahnya memerah.
"Tentu saja mengobati luka, elv"
__ADS_1
Laki-laki itu bicara sambil mengulum senyumannya, menikmati rona merah di wajah Elvitania yang terlihat begitu indah
Lantas Sherkan langsung meletakkan Elvitania ke atas meja mendominasi berwarna hitam.
Elvitania jelas terkejut, mencoba berpegangan pada Sherkan ketika laki-laki itu meletakkan tubuh nya ke atas meja.
"Kemarilah"
Sherkan bicara sambil mengeluarkan salap obat bakat yang dia bawa sejak tadi.
Dia Fikir Elvitania pasti berbohong, Sebab tumpahan nya benar-benar mengenai beberapa bagian tubuh nya.
Karena itu dia buru-buru ikut naik ke atas dan masuk ke kamar mereka.
Dan bisa dia lihat saat ini, paha sang istri nya benar-benar menampilkan warna memerah dan terlihat sedikit melepuh.
Begitu Sherkan mencoba menaikkan handuk nya, Elvitania berusaha menahan tangan nya.
"Sayang ini tidak apa-apa, jika dibiarkan akan semakin melepuh, ini akan terlihat buruk, mereka bisa meninggalkan bekas luka yang menghitam hmmm"
"Aku akan melakukan nya sendiri"
Suaranya terdengar sedikit parau dan gelisah, cukup risih saat Sherkan menyentuh pahanya.
Alih-alih mendengar kan ucapan Elvitania, laki-laki itu lebih memilih untuk menghela nafasnya, kemudian memajukan tubuhnya ke arah Elvitania.
Seketika Elvitania memundurkan tubuhnya, dia mencoba berpegangan pada sisi kiri dan kanan meja tersebut.
"Tidak Bisakah kamu mendengar kan aku sesekali sayang?"
Tanya Sherkan pelan.
"Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh, bukankah kita telah melewati masa lebih dari 1 tahun? aku punya banyak kesempatan untuk bisa melakukan nya hmmm"
Ucap Sherkan sambil terus menatap dalam bola mata Elvitania.
__ADS_1
"Jadi jangan khawatir kan soal apapun hmmm, aku tidak akan menggunakan kesempatan ini untuk memanfaatkan situasi, apalagi kamu istri ku, tidak aneh bukan saat suami melakukan nya?"
Mendengar ucapan Sherkan seketika Elvitania menelan salivanya, dia berusaha untuk memalingkan wajahnya.
"Elv"
Sherkan secepat kilat menahan dagu Elvitania.
"Jangan menghindari tatapan ku"
Begitu tangan kanan Sherkan menyentuh dagunya, seketika Elvitania meremas kedua belah tangan nya sendiri.
"Cukup tidak membuang pandangan mu, itu sudah membuat ku bahagia hmm"
Ucap Sherkan lagi sambil mengembang kan senyuman nya, dia bergeser lantas menundukkan kepalanya.
Kemudian secara perlahan Sherkan mulai menggeser handuk milik Elvitania, dia mulai mengobati paha perempuan itu dengan gerakan yang begitu lembut.
Terdengar ringisan pelan dari bibir Elvitania, Perempuan itu mencoba menggeser tubuhnya, selain karena perih, dia Merasa cukup aneh saat jemari Sherkan menyentuh lembut ujung paha nya.
"Perih?"
Laki-laki itu mendongak pelan.
Elvitania mengangguk kan kepalanya secara perlahan.
"Kita akan coba menggunakan obat hingga malam, jika tidak ada perubahan kita akan pergi ke dokter bersama hmmm?"
Ucap Sherkan lagi-lagi sambil melebarkan senyuman.
Melihat ekspresi Sherkan yang seperti itu seketika membuat Elvitania ingin membuang pandangannya.
"Elv?"
Laki-laki itu seolah-olah tahu apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu.
Seketika Elvitania mengurung niat nya, dia mencoba menatap Sherkan untuk beberapa waktu.
__ADS_1
laki-laki itu kembali mengembangkan senyuman, kemudian dia kembali mengolesi obat ke paha sang istri.