Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Part 12 Y & A


__ADS_3

Pernahkah merasa begitu sedih ketika bangun dari tidur dan mendengarkan adzan subuh yang terasa begitu dekat di balik telinga?.


Seolah-olah kerinduan menghantam diri kita, dimana rasanya kita merindukan masa anak-anak ketika berjalan di dinginnya udara subuh dimana kaki kecil kita melangkah tanpa menggunakan alas nya, melewati suasana perkampungan di mana rumah-rumah Masih belum berdiri dengan rapat dan berjalan dari satu tanaman liar menuju ke beberapa tanaman liar yang lainnya.


Terkadang suara anak-anak seusia kita tertawa terbahak-bahak dan belum mengerti soal beratnya hidup dan beban dunia, ketika semua hal masih dikerjakan oleh orang tua dan anak-anak hanya tahu menerima.


Suasana pedesaan yang masih terdengar suara-suara jangkrik atau suara-suara hewan yang berdendang lucu memekakkan telinga, di mana para orang tua berjalan di belakang anak-anak untuk menuju ke salah satu langgar yang ada di sana.


Rasanya sangat sedih namun begitu dingin dan menyenangkan, udara sejuk yang belum tercemar oleh polisi dan juga berbagai macam limbah pabrik.


Bukan pusat kota yang memekakan telinga dimana kebisingan terdengar di mana-mana bahkan tidak ada lagi orang tua yang berteriak untuk meminta anaknya mengambil air wudhu dan sholat, di mana asam yang mengepul dari jalanan lalu lintas.


Alessia merindukan masa-masa itu meskipun hanya sebentar bersama ayah dan ibu nya.


Seolah-olah hari ini biar takut dewasa dengan cepat, dia masih merindukan masa anak-anaknya meskipun hanya sejenak di mana dia tertawa mau datang laki-laki tua yang ada di hadapannya yang akan menggenggam erat telapak tangannya membawa dia pulang setelah dirinya lama berjalan juga di mana dia membuka pintu rumah sederhana mereka di mana sang ibu tengah memasak dengan kepulauan asam dari kayu dan juga panci hitam serta kulit hitam yang sangat sederhana.


Aku rindu rumah.


Batin Alessia pelan, kemudian gadis itu menghela pelan nafasnya.


Suara lantunan ayat suci terdengar di balik telinganya memenuhi masjid di mana dia duduk saat ini, ini adalah waktu menjelang pernikahan dirinya dan tuan Khalid.


Gadis itu menggunakan pakaian mendominasi berwarna putih dan wajahnya dipoles dengan make up yang terkesan begitu natural dimana menampilkan betapa cantiknya wajah Alicia saat ini, sebuah selendang mendominasi berwarna putih pula menutupi kepalanya.


Tepat di sisi kanannya nyonya Khalid terlihat menggenggam erat kedua telapak tangan Alessia sembari perempuan cantik dengan wajah pucat tersebut mengembangkan senyum paling indahnya pada pagi hari ini.

__ADS_1


Sudah bukan rahasia lagi dan ini adalah hal yang lumrah di mana pengantin laki-laki dan perempuan akan berada di ruangan yang terpisah antara satu dengan yang lainnya, mereka hanya saling mendengarkan suara di mana pihak perempuan akan mendengarkan suara pihak laki-laki dalam mengucapkan janji suci mereka.


Mereka terlihat berdebar-debar menunggu acara pernikahan yang akan dilaksanakan dalam beberapa menit lagi.


Tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Alessia saat ini, dia lebih memilih diam dan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, lebih memilih pemikirannya berkelana entah ke mana merindukan masa-masa kecilnya dan juga ayah dan ibunya.


Dia baru sadar kini rupanya dia telah tumbuh dewasa, dan dia baru sadar di saat semua orang menikah dengan cara bahagia karena pilihan mereka masing-masing atas dasar cinta rupanya dia menikah karena keadaan di mana membuat dia tidak bisa memilih.


Dikala anak gadis seseorang menikah karena ada walinya seorang ayah atau meskipun tidak memiliki ayah adik ibu yang duduk di sampingnya atau bahkan mungkin adakah mereka atau bisa jadi ada paman-paman atas anak saudara serta family lainnya tapi dia di sini duduk dan membiarkan tubuh nya bertumpu di atas kedua kakinya, sendirian tanpa satu orang punya dia kenal di antara semua orang.


Bahkan tidak ada tempat dia harus menangis dan berkata tentang perasaannya, atau tempat dia melupakan air mata dan berkata semua baik-baik saja, satu-satunya tempat untuk mengadu dan berbicara adalah dirinya sendiri dan juga hatinya sendiri, dan dia baru sadar di dunia ini dia seorang diri menghadapi segala sesuatu tanpa tahu di mana akhirnya.


Samar-samar saat ini bisa dia dengar suara tuan Khalid yang berbicara dari balik mikrofon di ruangan yang berbeda yang berbatasan dengan dinding di mana saat ini secara perlahan tuan Khalid Mulai mengucapkan janji kepada Allah di dalam akad pernikahan mereka.


Alessia memejamkan bola matanya secara perlahan tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini tapi dia mencoba untuk membiarkan dirinya tenggelam didalam lamunan nya sendiri.


Terkadang seseorang memiliki alasan khusus menggadaikan harga diri dan masa depannya kepada orang lain, jika orang-orang dari kelas bawah memiliki uang mereka tidak akan pernah mau menurunkan harga diri mereka hanya karena uang.


Alessia


Rumah sakit xxxxxxx


Jelang operasi Alessia


Beberapa hari setelah pernikahan.

__ADS_1


Bola mata gadis tersebut menatap dokter yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu, dia menatap dokter Rich di mana dirinya saat ini sudah mulai naik ke meja operasi, laki-laki tersebut mulai memegang sebuah jarum sunting di mana dia akan dibius secara perlahan.


"Maukah dokter membantuku untuk melakukan sesuatu?"


Tanya Alicia sebelum laki-laki tersebut menyuntikkan obat bius ke tubuh nya.


"kau bisa meminta nya selagi aku mampu untuk mengabulkan nya"


Jawab laki-laki tersebut cepat.


"Berikan secara berkala pada Agnes, katakan aku tengah menikmati waktu berlibur untuk waktu yang cukup lama"


Setelah berkata seperti itu Alessia menyerahkan beberapa amplop kepada dokter Rich, laki-laki itu tempat dia sembari menerima amplop yang diberikan oleh Alessia.


"katakan pada nya aku baik-baik saja"


Lanjutnya lagi kemudian dia mengembangkan senyumannya, di beberapa detik berikutnya gadis itu memejamkan bola matanya secara perlahan, dia jelas telah siang dengan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi pada hari ini.


Meskipun dia takut operasinya tidak akan berhasil tapi para dokter berusaha untuk meyakinkan dirinya dan berkata jika operasinya akan berhasil dan baik-baik saja, Alessia pada akhirnya hanya bisa mengembangkan senyuman terbaik nya.


Begitu gadis tersebut menutup bola matanya, dokter Rich terlihat menatap amplop yang ada di tangannya untuk beberapa waktu, dia meminta salah satu tim nya meletakkan amplop tersebut di sudut ruangan di atas kursi kosong dimana terdapat tas kecil milik nya, kemudian secara perlahan laki-laki itu mulai membius Alessia tanpa banyak bicara.


Semua orang saling menatap antara satu dengan yang lainnya, di mana salah satu dari mereka terlihat dia dan sama sekali tidak mengeluarkan ekspresinya, entah apa yang dipikirkan oleh semua orang saat ini tidak ada yang tahu, hingga akhirnya mereka mulai bergerak untuk melakukan operasi terhadap gadis yang ada di atas meja operasi tersebut.


Jika ada pertemuan bukankah ada perpisahan?

__ADS_1


Jika ada kehidupan bukankah ada kematian?


__ADS_2