Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Tersesat


__ADS_3

Sherkan tersentak dari tidurnya nya ketika dia mendengar suara layar monitor detak jantung yang mulai bergerak tidak beraturan.


"Ada apa?"


Dia jelas panik, Bergerak cepat dari atas kursi sofa langsung ke arah dimana Elvitania berbaring tidak sadarkan diri dengan beberapa selang dan infus di tangan nya.


"Pa?"


"Tiba-tiba Elvitania menggerakkan tangannya, kemudian..."


Laki-laki tua itu tidak melanjutkan ucapannya ketika beberapa dokter berhamburan masuk dan berusaha untuk melakukan pertolongan darurat.


"Elv...Elv..."


Sherkan jelas panik, bagaikan orang yang kehilangan Arah dia mencoba mundur kebelakang dan mencari pegangan.


Sang Mama berusaha memegang tangan nya sambil mencoba mengusap-usap punggung nya secara perlahan.


******


Kau tahu sayang?!.


Aku fikir aku sedang tersesat.


Tidak tahu kaki ku harus melangkah ke arah mana, tapi rasanya aku tidak mengenali tempat yang aku datangi kali ini.



Elvitania berdiri di sini, di antara semilir angin yang menerpa lembut wajah nya, seolah-olah ada berbagai macam kelompok anak-anak yang tertawa bersama, begitu bahagia tanpa menaruh beban di hati mereka.


Cahaya matahari tidak menyakiti kepala juga tidak menyilaukan bola mata, terlalu indah untuk dilewatkan oleh bola mata nya untuk menatap sinar nya.



Lalu dia mendengar denting suara piano yang mengeluarkan musik alegi, begitu sakit dan sedih, sangat menyesakkan dada.


__ADS_1


Elegi di mana adalah nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kematian. Namun tak hanya kematian, penggunaan kata "elegi" dalam syair atau lirik lagu juga dapat ditujukan untuk menggambarkan perasaan kehilangan


Semakin jauh Elvitania melangkah semakin indah rasanya, dia mencari celah dibalik ribuan batang pepohonan tapi aneh nya dia tidak menemukan satu jalan pun yang bisa menuntun nya untuk pergi dari sana.



Kaki nya terus mencoba berjalan, mencari setitik cahaya yang terlihat di ujung sana. Tapi semakin jauh dia melangkah rasa nya Elvitania tidak kunjung tiba di titik tersebut.


Meskipun ada banyak sosok orang-orang berlalu lalang di sekitar nya tapi mereka sama sekali tidak menghiraukan Elvitania, seolah-olah sengaja mengabaikan dirinya.


Kemudian kaki perempuan itu melewati banyak sekali pintu-pintu disekitar nya tapi anehnya dia tidak bisa membuka satu pun pintu-pintu Tersebut.


Aku tersesat, benar-benar tersesat.


Bolehkah aku menangis? aku takut berada di sini seorang diri, aku merindukan kamu, benar-benar merindukan kamu.


Hingga akhirnya.......


"Elv?"


Satu suara mengejutkan diri nya.


Sosok yang begitu dia rindukan, yang lama menghilang.


Zahir...?!.


Nama itu pernah mengisi satu sisi hati nya yang paling dalam.


Begitu Elvitania menoleh ke arah nya, Zahir mengembang kan senyuman terindah nya.


Dia begitu merindukan nya, mengejar sosok nya dengan cepat kemudian memeluk erat dirinya.


"Aku merindukan mu"


Ucapan serak yang keluar dari bibir Perempuan tersebut terasa begitu berat, sosok laki-laki itu begitu kharismatik, tetap tampan seperti biasanya, tetap mempesona seperti biasanya bahkan tetap hangat seperti biasanya.


"Apa kabar mu, sayang?"

__ADS_1


Sebaris pertanyaan itu meluncur dari bibir Laki-laki itu.


Bagaimana aku mengatakan nya?.


Apakah aku baik-baik saja?!.


Yah belakangan aku baik-baik saja, semua begitu indah dan penuh rona merah muda yang membuat aku berbunga-bunga.


Seperti biasa Zahir pasti menyentuh lembut kedua belah pipi Elvitania, menatap hangat bola mata perempuan itu untuk waktu yang begitu lama.


Perempuan hanya bisa diam, dia menangis karena merindu.


Lalu laki-laki itu melepas kan genggaman nya, dia mengulas senyuman sambil berkata,


"Kemarilah"


Zahir mengulurkan tangannya, menunggu Elvitania menyambut uluran tangan nya untuk beberapa waktu.


Dengan air mata yang mulai tumpah, Elvitania menatap Cukup lama telapak tangan Kokoh tersebut yang pernah menemani hari-hari nya dulu.


Tapi....


"Elv... bangunlah, aku mohon bangunlah, jangan lakukan ini pada ku, aku belum bilang betapa aku mencintaimu, aku belum bilang betapa aku tidak bisa hidup tanpa mu"


"Elv jangan lakukan ini pada ku..."


Suara Sherkan tiba-tiba bergema di balik telinga nya.


Begitu dekat namun tidak bisa dia sentuh.


"Elv... kemarilah"


Zahir kembali bicara sambil menunggu uluran balik tangan Elvitania.


Sayang aku tersesat Begitu jauh, bahkan aku benar-benar tidak bisa menemukan jalan untuk pulang.


Aku merindukan sosok Zahir, tapi aku fikir aku ingin menghabiskan sisa waktu ku bersama kamu.

__ADS_1


Katakan pada ku kemana aku harus melangkah?!.


Menerima uluran tangan Zahir atau mencoba berlarian ke sembarang arah di mana aku tidak kunjung juga bisa melihat kamu?!.


__ADS_2