Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 69 Y & A


__ADS_3

Di sisi lain


Mansion Utama Khadafi


masih di kamar Madhuri.


Sesaat setelah laki-laki dihadapan nya selesai bicara dengan Yash di balik handphone nya, Madhuri menunggu dengan tidak sabaran Esmail menutup panggilannya.


Dia mendengar kata-kata jika Khadafi berada pada masa kritisnya, bayangan kan bagaimana degub jantung nya terus berpacu saat ini. seolah-olah apa yang diharapkannya akan menjadi kenyataan, di mana dia menginginkan kematian laki-laki tua tersebut akhirnya akan terlaksana saat ini juga, dan dia akan bisa menguasai seluruh harta kekayaan Khadafi menggunakan nama Diana.


Ini benar-benar luar biasa.


Seringai mengerikan tampil dibalik wajah Madhuri.


Dia menunggu Esmail menutup handphone nya, hingga pada akhirnya laki-laki tersebut benar-benar telah menutup panggilannya.


"katakan padaku apakah hadapi masuk pada masa kritisnya dan rencana kita berhasil?"

__ADS_1


wanita itu bertanya dengan tidak sabaran, menatap wajah Esmail dengan lekat, menunggu jawaban laki-laki dari depannya itu dengan perasaan berdebar-debar apakah benar jika suaminya telah mendekati masa kematiannya.


"kau bisa menebaknya dengan baik"


laki-laki berprofesi pengacara tersebut menjawab dengan cepat, dia menaikkan sudut bibirnya sembari menatap ke arah Madhuri dengan mengembangkan senyuman yang cukup mengerikan untuk dirinya.


Madhuri langsung menghalangi nafasnya dengan perasaan lega kemudian wanita itu berkata.


"benar-benar tidak sia-sia aku membayar dokter perempuan tersebut untuk menyuntikkan cairan pada tubuh Khadafi"


"kita harus bergegas pergi ke rumah sakit"


pada akhirnya Esmail berkata dengan cepat, laki-laki itu beringsut dari posisinya, mobil bergerak dan menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja diikuti oleh Madhuri yang bergerak tepat di belakangnya.


"laki-laki itu berada pada mode kritisnya, kau harus mengambil antisipasi jika seandainya dia belum benar-benar mati"


tiba-tiba Esmail berkata sebelum membuka pintu kamar wanita tersebut, dia menoleh ke arah Madhuri dan memastikan pada wanita tersebut agar dia membuat planning B seandainya Khadafi belum juga mati karena keadaan.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari laki-laki yang kini kembali berdiri menatap dirinya, membuat wanita tersebut langsung menaikkan ujung bibirnya.


"kau jangan khawatir soal apapun, aku bisa mengatasi semuanya dan membuat laki-laki itu muka bumi ini dengan caraku, tugasku hanya memindahkan seluruh harta warisan Khadafi menjadi nama Diana"


ucap wanita itu dengan penuh kesenangan.


setelah mendengar ucapan dari Madhuri, Esmail kembali membalik kan tubuh nya dan kini dia membuka pintu kamar tersebut, mereka keluar dari kamar itu dengan gerakan tergesa-gesa dan melesat turun menuju ke arah lantai bawah.


Di kala kedua orang tersebut bergerak menuruni satu persatu anak tangga, dari arah lantai atas seseorang bergerak keluar dari arah salah satu dinding ruangan, menatap ke arah sosok sepasang kekasih tua tersebut yang tidak memiliki urat malu dengan tatapan penuh rasa jijik.


kilat bola mata sosok yang menatapnya menampilkan satu tatapan yang dipenuhi dengan kebencian, kemudian seulas senyum mengembang di balik bibir sosok tersebut.


secara perlahan sosok itu menaikkan handphone yang ada di tangannya kemudian dia berusaha untuk menghubungi seseorang.


"Halo, nyonya"


dia bicara secara perlahan dari balik handphonenya kepada seseorang.

__ADS_1


__ADS_2