Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 20 Y & A


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang.


Dapur.


Alessia berusaha untuk membuang pandangannya setelah meletakkan teh hangat untuk suami nya, dia memilih menyiapkan makanan untuk Yash dikala Kallan menyeruak masuk di antara mereka.


Kallan bin Khalid, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya siapa sangka merupakan putra dari suaminya dan Hana, dia bahkan baru tahu Kallan putra dari suaminya setelah dia dan Yash menikah.


"Kau datang?"


Suami nya menyapa Kallan yang baru saja tiba, laki-laki muda yang usia nya terpaut beberapa tahun dari Alessia terlihat melirik kearah Alessia sejenak, menatap punggung Alessia untuk beberapa waktu, kilatan kebencian terlihat jelas dari balik bola matanya saat ini.


Pelacur.


Itu cap yang disematkan nya untuk Alessia hingga hari ini sejak dia tahu Alessia menikahi papa nya dan memilih memutuskan dirinya.


"Aku pikir kau berbeda, rupa nya kau sama saja seperti mereka, mencari pundi-pundi uang dari laki-laki tua untuk sebuah kesenangan"


Kallan begitu membenci Alessia hingga hari ini, sangat, tanpa ada saingan saking benci dan jijiknya.


Alessia sama sekali tidak marah, mengembang kan senyuman nya sambil terus berusaha menghindari Kallan, bagi nya tidak ada yang perlu dia jelaskan pada laki-laki tersebut tentang dirinya.


"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu." ( Ali Bin Abi Thalib).


Mereka bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal meskipun dulu pernah saling mencintai.


"Aku datang karena dipaksa datang"


Suara Kallan terdengar begitu dingin, menatap kearah papa nya dengan tatapan marah, setelah kematian mama nya laki-laki tersebut tidak pernah kembali ke rumah, hanya hari besar dan perayaan 100 hari kematian mama nya saja tidak lebih.


Tapi kali ini dia harus kembali karena ancaman seseorang dimana semua kartu ATM nya di blokir dengan cara yang luar biasa.


"Waktu bersenang-senang kamu telah habis, ini saat nya kembali ke perusahaan"

__ADS_1


Yash bicara cepat kearah putra nya.


Nyonya tua Khalid terlihat memilih diam, dia pikir apakah putranya dan cucunya akan bertengkar lagi? Alessia yang melihat semua tidak baik-baik saja meminta pelayan membawa mertuanya menjauh dari sana.


"Ini waktu nya nyonya makan obat"


Bibi Tory bicara dengan cepat, mendorong kursi roda majikannya, membawa wanita tersebut naik ke lantai atas melalui elevator kecil ukuran beberapa orang di sisi kanan bangunan rumah megah tersebut.


Mendengar ucapan papa nya, Kallan terlihat mendengus kasar, dia menduduki pantat nya dengan kesal ke salah satu kursi makan.


"Aku hanya menikmati masa muda dan kesenangan ku, apa itu salah? seperti papa yang menikmati pubertas kedua menikahi gadis muda, nikmat nya sama, seperti di awang-awang, membuat candu dan bisa melupakan orang-orang penting disekitar"


Saat Kallan berkata begitu, Alessia yang mencoba membuat teh hangat untuk Kallan seketika menghentikan gerakan tangannya, gadis tersebut memejamkan sejenak bola matanya.


Serendah itu pemikiran Kallan tentang pernikahan mereka.


Hampir dua tahun menikah, realitanya mereka tinggal di kasur yang berbeda bahkan Yash sedikitpun belum pernah menyentuh dirinya.


Dia juga tidak sempat bersenang-senang karena ada misi lain yang harus dia selesaikan.


Dan Alessia masih memiliki tugas untuk menyingkir kedua orang tersebut sesuai surat perjanjian nya pada Hana di masa lalu.


"Lenyapkan mereka berdua dengan perlahan, bergerak hati-hati seperti bayangan dan ambil semua yang dirampas mereka"


"Kau semakin lama semakin kurang ajar dengan orang tua"


Yash bicara Sembari menaikkan pandangan nya, dia menatap tajam bola mata putranya, dua laki-laki tersebut seolah-olah siap berperang dan mengadu kekuatan saat ini juga.


Kallan berubah total, menjadi pemberontak dan tidak sehangat dulu lagi, menatap semua orang dengan penuh kebencian, dia tidak ingin kembali ke keluarga Khalid sama sekali, yang Alessia takutkan hanya satu, jangan sampai kallan terjerumus pada pergaulan dunia kelam.


Bukan persoalan jika Kallan melakukan apapun yang dia inginkan, menikmati kebebasan dalam masa marah nya yang belum mereda, tapi dia takut laki-laki tersebut bergerak melampaui batasan nya, karena itu dia meminta Yash dengan susah payah untuk membekukan seluruh kartu hitam nya.


Tidak mudah menyakinkan Yash, dia seperti ibu tiri yang begitu kejam, seolah-olah terkesan dia mengendalikan suami nya untuk menahan seluruh akses milik putra mereka.

__ADS_1


Padahal realitanya Alessia melakukan nya untuk kebaikan Kallan.


"Kau begitu melindungi istri muda mu, tuan Yash Khalid"


Bibir laki-laki tersebut semakin lama semakin kurang ajar, seolah-olah lupa jika laki-laki dihadapan nya tersebut adalah papa nya.


"Seorang pelacur yang dinaikkan derajatnya dengan cara yang luar biasa"


Lanjut Kallan lagi kemudian.


"Kallan bin Khalid, jaga bicaramu pada mama"


Demi Allah, suara Yash memecah kesunyian, laki-laki tersebut berdiri dan bersiap untuk menghajar Kallan, Alessia jelas terkejut, meraih tubuh Yash dengan cepat.


"Yash, dia putra mu"


Alessia berusaha mengingatkan, menyentuh lembut dada Yash yang mulai bergemuruh dalam balutan wajah memerah karena api kemarahan yang mendalam.


"Istighfar"


Kallan yang melihat adegan tersebut terlihat jijik menatap kedua orang tersebut.


"tidak peduli bagaimana kalian membekukan seluruh kata hitam ku, mulai hari ini aku bukan lagi Kallan bin Khalid dan aku tidak akan pernah kembali ke rumah ini hingga aku mati sekalipun"


No.


Alessia menggelengkan kepalanya, dia langsung menoleh kearah Kallan.


"Dan mau aku beritahukan satu rahasia besar diantara kami pa?"


Tiba-tiba Kallan bicara sembari menaikkan ujung bibirnya, bicara pada papa nya dengan satu kesiapan mendalam.


"Alessia dan aku dimasa lalu sepasang kekasih yang saling mencintai, dia memilih mu karena kekayaan yang papa miliki dan melepas kan aku karena dia tidak tahu aku adalah pewaris Khalid berikutnya"

__ADS_1


Alessia seketika terdiam, mencoba untuk menahan perasaan nya, sedangkan Yash Khalid sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.


Kallan menaikkan ujung bibir nya menatap kebekuan dua orang di hadapan nya tersebut seolah-olah puas telah memberitahukan satu kenyataan, kini dia bergerak menjauhi kedua orang tersebut dengan penuh kemenangan.


__ADS_2