
Kembali ke masa lalu.
Sejenak Alessia menatap wajah laki-laki yang ada dihadapan nya tersebut, menelisik bola mata indah sosok yang menjadi kekasihnya hampir 1 tahun lama nya.
Dia tidak punya pilihan, melepaskan Kallan dan menerima kesepakatan untuk menyelamatkan keadaan menjadi pilihan terbaik dalam hidup nya saat ini.
Dalam hidup, cinta tidak menjadi pokok utama untuk bertahan, tapi keluarga pada akhirnya menjadi pokok paling utama untuk nya dan uang jelas berada di atas segala-galanya untuk gadis miskin seperti dirinya.
Gadis tersebut membalikkan tubuhnya, menarik pelan nafasnya.
"Mari kita putus saja"Alessia berucap tanpa ingin menatap ke arah Kallan, memilih memunggungi laki-laki tersebut dan menahan kedua tangan nya yang terus bergetar.
"Apa?"mendengar ucapan gadis tersebut seketika Kallan membulatkan bola matanya.
"Kau bilang apa, sayang?"laki-laki tersebut mencoba meraih bahu Alessia, memaksa gadis tersebut melihat nya tapi gagal, Alessia tidak ingin berbalik atau menatap nya.
"Tiba-tiba aku merasa lelah dengan hubungan kita"Lanjut Alessia lagi tanpa berniat menoleh kearah Kallan.
Kallan jelas gelagapan saat mendengar Alessia berkata ingin putus dari nya.
"Kau pasti bercanda bukan?"Dia bertanya sembari masih terus mencoba meraih bahu Alessia, memaksa gadis tersebut untuk melihat kearah nya.
"katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya? apa aku melakukan kesalahan fatal hingga membuat kamu rasakan bersamaku? apa kata-kataku tadi menyakiti perasaanmu?"Laki-laki itu bicara sembari mencoba menelisik bola mata Alessia.
Tapi gadis itu sama sekali enggan untuk melihat dirinya, Alessia berusaha untuk membuang pandangannya.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu mencintai laki-laki lain? siapa? apa....?"Kallan benar-benar hampir kehilangan kata-kata nya, bagi nya kehilangan Alessia jelas saja seperti dia kehilangan ½ dari jiwa nya, bayangkan bagaimana mungkin gadis itu tega memutuskan nya di kala dia selalu berkata dia sama sekali tidak bisa hidup tanpa gadis itu.
"Apakah soal pekerjaan hingga membuat kamu risau? baiklah, Aku akan pergi bekerja besok, aku akan menemui Jeremy dan meminta pekerjaan itu besok"Kallan terus bicara panjang lebar, dia bahkan tidak tahu harus mengakhiri kalimat demi kalimat yang dimiliki nya hingga mana.
"Ini tidak ada sangkut pautnya soal pekerjaan"Pada akhirnya Alessia kembali bicara, nada suara nya terdengar pelan.
"Aku hanya ingin putus karena merasa lelah dengan hubungan kita"gadis tersebut menatap Kallan, menelisik bola mata laki-laki tersebut dan mencoba meyakinkan Kallan jika dia sudah cukup lelah dengan hubungan mereka.
"Mari menjalankan kehidupan kita masing-masing"
"Tidak, kamu tahu jika aku tidak bisa hidup tanpa kamu, bagaimana kamu bisa mengatakan hal tersebut?"Kallan langsung berusaha untuk memeluk Alessia tapi gadis itu buru-buru melepaskan pelukannya.
"Pulanglah"Ucap Alessia tiba-tiba.
"baiklah, aku pikir kamu butuh waktu sendiri, apakah soal pekerjaan yang terasa berat? aku tidak akan banyak bicara, mencoba menunggu perasaan kamu tenang kemudian kita baru bicara"Kallan terus bicara mencoba menghibur hatinya sendiri serta yakin jika Alessia hanya merasa lelah dengan keadaan hingga gadis tersebut bicara asal soal hubungan mereka.
hingga akhirnya Laki-laki tersebut benar-benar dipaksa keluar dari sana dan Alessia langsung menutup kasar pintu apartemen tersebut.
Laki-laki itu jelas gelagapan, mencoba mendorong pintu tersebut namun gagal, Alessia telah mengunci pintu itu dari dalam.
"Alessia please, jika kamu memiliki persoalan atau ada kesalahanku yang tidak bisa kamu maafkan Mari kita bicarakan bersama, jangan lakukan ini pada diriku.
Duggggg.
Duggggg.
__ADS_1
Duggggg.
"Alessia mari kita bicara 4 mata, pasti ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kita, apa ada orang yang menggosipkan hal yang tidak-tidak soal aku?"
Alessia bersandar di belakang pintu apartemen nya ketika dia masih bisa terus mendengar suara ketukan demi ketukan yang dilakukan oleh Kallan di luar pintu apartemennya tersebut.
Duggggg.
Duggggg.
Duggggg.
"Alessia, please... dengarkan aku, apa yang terjadi padamu sebenarnya? buka pintunya sayang, please"Suara Kallan terus terdengar memohon dari luar sana.
Alessia sama sekali tidak menjawab, gadis itu terus menyadarkan tubuhnya di belakang pintu tersebut sembari dia mencoba menahan tangisannya.
Gadis itu berusaha untuk tidak meneteskan air mata sama sekali sembari dia terus memukul-mukul dadanya beberapa kali.
Alessia secara perlahan membalikkan tubuhnya, dia mencoba menyentuh daun pintu secara perlahan, mendengar gedoran demi gedoran dari tangan Kallan sambil terus mendengarkan suara laki-laki tersebut yang meminta di bukakan pintu sembari tangan gadis itu mengelus lembut daun pintu.
Pulanglah, lupakan aku, jangan tangisi pertemuan kita karena pada akhirnya setelah pertemuan pasti akan ada perpisahan bukan?!.
Jangan menangis atau bersedih, dewasalah dengan cepat dan belajarlah untuk menghargai sesuatu agar nanti setelah kamu bertemu dengan seseorang yang tepat, gadis itu tidak akan bersedih karena sifat kamu dan dia merasa begitu di cintai.
Mau aku beritahukan sesuatu?!.
__ADS_1
Aku belum pernah mengatakan nya, Aku mencintai kamu, yah aku mencintai kamu dengan cara ku sendiri, meskipun kita berpisah, nama kamu akan tetap tersimpan rapi didalam hati ku.