Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Perlahan menyelesaikan semua nya


__ADS_3

Rubi belakangan terlihat sibuk mengurus kasus Arch, setelah peristiwa penembakan itu suami bibi ke dua mengalami kritis untuk beberapa waktu kemudian laki-laki itu dinyatakan meninggal dunia.


Sherkan jelas langsung membuka kasus lama yang mengaitkan perihal peristiwa masa lalu yang di lakukan oleh bibi kedua kepada istri nya .


Semua dana korupsi yang dilakukan oleh paman ke dua di perusahaan Azzura langsung ikut di beberkan satu persatu hingga menyeret semua keluarga bibi nya ke rana hukum.


"Aku sudah memperingatkan bibi sebelumnya bukan? hari itu adalah peringatan terakhir dari ku, tapi kalian masih membuat istri ku menjadi tidak nyaman, bahkan berani-beraninya mencelakai istri ku begitu saja hingga dia terluka parah"


"Aku tidak lagi memiliki toleransi"


Bisa dia lihat kemarahan kak Sherkan nya kala itu, laki-laki itu benar-benar tidak main-main dengan ancaman nya.


Arch yang menembak paman ke dua ikut terseret didalam kasus nya, karena menurut proses hukum dia tetap salah.


Karena itu mau tidak mau Rubi yang ikut mengurus dan menyelesaikan kasusnya sebab dia juga merupakan saksi mata.


Pergejolakan keluarga Azzura dan Hillatop jelas semakin memanas karena kematian paman kedua, tidak tahu bagaimana lisan laki-laki itu menghasut dua keluarga, yang jelas hill A top semakin membenci Kak Sherkan nya karena kematian laki-laki itu.


Bahkan Hill memilih memutus kan komunikasi bersama Elvitania ketika dia tahu perempuan itu membuka hati nya untuk kak Sherkan nya.


Bisa dibayangkan bagaimana hancur nya kakak ipar nya, sebab semua akses komunikasi dan semua yang menyangkut Hillatop tidak lagi boleh diketahui oleh kak Elvitania nya.


"Kamu datang lagi?"


Arch bertanya sambil menatap Rubi yang duduk dihadapannya dimana mereka hanya di izinkan bicara melalui ruangan khusus dengan pembatas kaca tebal.


Hanya disediakan sebuah telpon untuk akses komunikasi mereka.

__ADS_1


"Iya"


Jawab Rubi pelan.


"Kamu seharusnya tidak datang kemari"


Ketika laki-laki itu bicara begitu, seketika wajah Rubi menjadi mendung.


"Ucapan macam apa itu?"


Tanya gadis itu begitu kesal.


Alih-alih menjawab, Arch lebih suka tertawa geli melihat ekspresi Rubi.


"Kamu memang gampang mengubah ekspresi, semua nya selalu begitu kentara, tidak bisa menyembunyikan ekspresi di balik situasi"


"Karena itu saat aku kerjai dengan obat pencahar langsung ketahuan?"


Tanya Rubi sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Ekspresi mu begitu mencurigakan"


"Isshhhh"


Gadis itu memajukan bibir nya.


Dia memang tidak pandai berbohong, bahkan ketika merasa suka dan tidak suka dengan seseorang langsung menampilkan ekspresi yang begitu kentara.

__ADS_1


Rubi bukan type manusia bermuka dua.


"Kakak telah mengurus semua nya, pengacara kakak sudah menarik semua berkas laporan nya"


Ucap Rubi kemudian.


"Aku patut bahagia atau bersedih?"


Tanya Arch kemudian.


Dia sebenarnya tidak bisa bahagia karena akan menghirup kebebasan nya, dia jelas bersalah.


Dia baru saja membunuh seseorang.


Tapi keadaan yang membuat dia menarik pistol nya dan menembak punggung paman dari bibi kedua.


Saat itu pergulatan dalam merebut kan senjata antara Elvitania dan laki-laki itu membuat dia panik.


Begitu satu suara letusan pistol terdengar, dia jelas menarik tembakannya dan melesatkan satu peluru ke punggung laki-laki tersebut.


Kilasan ingatan hari itu benar-benar membuat dirinya cukup Merasa bersalah tapi dia tidak mungkin diam karena dia tahu saat itu nyawa Elvitania jelas terancam.


Tidak tahu trauma atau bagaimana, tapi baginya kejadian hari itu menyisakan satu perasaan yang sulit untuk bisa dia jelas kan.


Dia fikir dia butuh dokter untuk menghilang kan rasa yang menghantui dirinya, dia juga butuh waktu menyendiri, waktu untuk menenangkan perasaan nya setelah dia keluar dari jeruji besi.


"Aku tidak bilang kamu harus bersedih, seorang sampah seperti paman kedua jelas memang harus dimusnahkan"

__ADS_1


Jawab Rubi mencoba untuk menyakinkan diri nya.


__ADS_2