
Pemakaman xxxxxxx
Manhattan.
Semua pelayat terlihat mulai membubarkan diri mereka setelah pemakaman selesai di lakukan, doa-doa selesai di suarakan sedangkan Kallan masih bertahan pada posisi nya.
Laki-laki tersebut tidak lagi mengeluarkan tangisan nya, dia sudah melakukan nya sejak malam kemarin, menangis dalam kehilangan dan kehancuran nya, merasakan lembutnya perut bumi yang dia injak sejak pertama kali dia mendengar berita kematian mamanya.
Air mata nya telah mengering dan dia mampu lagi membawa tangisan nya pada hari ini, sejatinya laki-laki dituntut kuat dihadapan semua orang, jadi olok-olok'an jika menangis di depan khalayak ramai, memilih berdiri kokoh dan pongah dibalik batin yang kadang terluka.
Laki-laki selalu di paksa kuat dalam banyak keadaan dan dari berbagai macam posisi, sedangkan perempuan sejati nya memiliki hati Lembut dan halus, gampang menangis dalam segala kondisi juga situasi.
Kallan menghela berat nafas nya, memejamkan perlahan bola matanya untuk beberapa waktu, dia mencium aroma tanah baru dan berbagai macam bunga dibalik hidung nya saat ini.
Laki-laki tersebut lelah dan rapuh tanpa siapa-siapa di samping nya.
Tadi bisa dia lihat Pinkan, adik perempuan nya pingsan karena keadaan, di bawa oleh anggota keluarga lainnya, nenek nya mengejar langkah mengikuti posisi adik perempuan nya sedangkan kakek nya terlihat bergerak secara perlahan pergi dari sana diikuti oleh bibi tirinya dan sepupu tirinya.
Laki-laki tersebut tetap diam mematung dimana seseorang berdiri tepat disisi kanan nya, masih dengan setia menemani dirinya.
Papa nya, Yash Khalid terlihat tidak beranjak dari pemakaman mama nya, mematung menatap gundukan tanah yang masih segar dan basah dipenuhi berbagai macam bunga di atas nya.
__ADS_1
Mereka memilih tidak bicara untuk beberapa waktu, sibuk dengan pemikiran yang berkelana entah ke mana.
Pada akhirnya Kallan memilih untuk beranjak, Memilih tidak menyapa siapapun disekitar nya termasuk papa nya, hal lumrah dilakukan anggota keluarga yang tertimpa musibah, mereka bergelayut pada kesedihan tanpa ingin bicara.
Laki-laki disamping kallan terus bergerak mengikuti nya, membiarkan Kallan hanyut dalam pemikiran nya saat ini, dimana bisa dilihat Kallan menyusuri jalanan dengan tatapan kosong lurus kedepan.
Cukup lama waktu berlalu hingga pada akhirnya tiba-tiba saja bola mata Kallan menatap satu sosok tidak asing yang begitu dia rindukan di ujung sana.
Entahlah berapa bulan mereka tidak lagi pernah bertemu, gadis tersebut seolah-olah menghilang dari kehidupan nya, sengaja menghindari nya dan memutuskan dirinya secara sepihak
Dia benar-benar merindukan Alessia.
Bola mata Kallan bergerak kesisi kanan nya.
Papa nya?!.
Kallan jelas mengerut kan keningnya.
"Ada apa ini?"
Kepala laki-laki tersebut dipenuhi tanda tanya besar.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"
Kallan bertanya pada laki-laki di sampingnya tersebut.
"Dia adalah istri pilihan nyonya Hana untuk tuan Khalid"
Jawab laki-laki tersebut pelan.
Mendengar Jawaban laki-laki disamping nya seketika membuat Kallan membulatkan bola matanya, dia langsung menoleh kearah laki-laki tersebut dengan keterkejutan nya.
"Apa?"
Tanya laki-laki itu cepat.
"Mereka menikah beberapa bulan yang lalu sebelum nyonya meninggal"
Bayangkan bagaimana perasaan Kallan mendengar ucapan laki-laki tersebut.
"Kau bilang apa?"
Tanya nya dengan menahan gemuruh di dada nya.
__ADS_1