
Begitu Sherkan pulang kerumah dan masuk ke kamar mereka, seketika dia tercekat ketika dia melihat kamar tampak begitu berantakan.
"Elv?"
Sherkan berusaha menelan salivanya, dia Fikir apa Elvitania mengamuk lagi? perempuan itu bahkan marah dengan cara yang ekstrim dan berbeda kali ini?!.
Dia sudah mencoba sebaik mungkin, tidak tidur dikamar yang sama, mendengar kan seluruh perintah Elvitania.
Bahkan dia tidak mempermasalahkan saat Elvitania membencinya, dia memilih tidak di atas kursi di ruang kerja nya.
Pagi-pagi bangun dia harus rela merasakan seluruh tulang-tulang nya seolah-olah hancur di hantam oleh bebatuan dengan kekuatan berton-ton.
Dia tidak terbiasa tidur di atas kursi seperti itu.
Dan dia benar-benar harus membiasakan dirinya untuk seluruh hukuman yang di berikan Elvitania untuk nya selama beberapa Minggu ini.
Lalu apakah itu tidak cukup bagi Elvitania?!.
Sejenak Sherkan menatap seisi ruangan, ketika seluruh pakaian dan beberapa barang istri nya berhamburan kemana-mana.
Tapi dia tidak mendapatkan perempuan itu disana.
Dikala jutaan pertanyaan berkecamuk didalam hati nya, tiba-tiba dia mendengar suara berisik di dalam lemari walk in closet.
"Tidak adakah bi?"
Itu adalah suara Elvitania.
Bisa dia lihat seseorang keluar dari dalam lemari tersebut, dengan nafas kepayahan bibi Saimah berkata.
"Aku tidak menemukan nya, nona"
Ekspresi bibi Saimah benar-benar dipenuhi oleh rasa bersalah yang begitu besar.
"Bagaimana ini? apa mungkin dia melompat ke jendela? bagaimana jika Sua tertabrak mobil?"
Sherkan terlihat berusaha menyaring percakapan kedua orang tersebut.
Sua?.
Kenapa dengan kucing milik nya yang dia berikan pada Elvitania?!.
__ADS_1
Saat dia mengerutkan keningnya bertanya didalam Fikiran nya, tahu-tahu bibi Saimah menoleh ke arah dirinya.
"Oh tuan, bagaimana ini?"
Bibi Saimah berjalan tergopoh-gopoh, mendekati Sherkan sambil berusaha meraih tas kerjanya.
"Ada apa, BI?"
"Ini...Sua..."
Wanita hampir paruh baya itu terlihat panik.
Dia fikir apakah hal buruk benar-benar terjadi.
Tiba-tiba Elvitania berkata.
"Aku tidak sengaja melepas kan nya"
Bola mata perempuan itu berkaca-kaca.
Sherkan tercekat, dia fikir ini pertama kalinya Elvitania mau bicara normal dengan nya.
"Ya?"
Alih-alih menjawab, Elvitania langsung berusaha untuk mengintip melalui kaca jendelanya besar yang ada di sisi kamar.
Bola mata perempuan itu terus menyusuri halaman bawah mansion tersebut.
"Ini agak membingungkan, Sua biasa nya tidak pernah bertingkah"
Bibi Saimah baru saja bicara, tapi tiba-tiba Elvitania bicara dengan panik.
"Dibawah, dibawah, aku melihat nya di bawah"
Perempuan itu seketika berlarian melewati dirinya dan Saimah, wajah panik terlihat jelas dibalik wajah Elvitania.
Melihat perempuan itu berlarian keluar dari kamar seketika dia mencoba menyusul diikuti bibi Saimah.
Bisa dia lihat betapa cepatnya langkah kaki Elvitania, Sherkan berusaha untuk mengimbangi langkah nya.
Dia cukup khawatir langkah kaki itu tersandung oleh sesuatu hingga terjatuh ke tangga atau hal buruk lainnya Terjadi pada Elvitania.
__ADS_1
Perempuan itu melesat keluar menuju ke halaman depan, bola matanya terus mencari sosok kucing Ragdoll yang baru sehari menjadi miliknya itu.
Tiba-tiba Elvitania membulatkan bola matanya saat dia melihat Sua Berlarian ke arah gerbang yang terbuka.
"Elv berhenti"
Sherkan jelas panik, Perempuan itu terus berlarian mengejar Sua yang berlarian semakin menjauh menuju ke arah jalanan.
Dari arah ujung jalan sebuah mobil terlihat melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
Sang istri seketika menangkap Sua yang berhenti tiba-tiba di tengah-tengah jalan.
Bola mata Sherkan seketika terbelalak kaget, bibi Saimah berteriak histeris saat melihat sebuah mobil bergerak kencang Menuju ke arah sang nona muda yang berdiri memeluk kucing mendominasi berwarna putih tersebut.
"Nonaa...."
"Elvitania..."
Sherkan berteriak histeris, secepat kilat berlarian menuju kearah Perempuan tersebut.
Mendengar teriakkan Sherkan seketika Elvitania menoleh.
Elvitania
Suara itu terdengar begitu tidak asing ditelinga nya.
Sherkan tiba-tiba menyambar tubuh nya dengan gerakan cepat, laki-laki itu memeluk erat dirinya secara tiba-tiba, menahan tubuh dan kepalanya dengan sekuat tenaga.
Brakkkkkk
Bisa dia rasakan sesuatu seolah-olah menghantam tubuh mereka Dengan kertas.
Elvitania seketika memejamkan bola matanya.
"Elvitania, kau tidak apa-apa? bertahanlah, aku mohon bertahan lah"
"Jangan lakukan ini, Jangan membuat ku khawatir, bangunlah, bangunlah"
Seolah-olah Dejavu, dia merasa pernah melewati masa ini di masa lalu, dia pernah mendengar kan suara yang sama, dia pernah mengalami hal yang sama, dia bahkan pernah merasakan pelukan yang sama dimasa kemarin dari tubuh kokoh dan hangat tersebut.
"Akhhhhhhhh"
__ADS_1
Sebuah teriakan melengking seketika terdengar disepanjang perjalanan.