
Entah kebetulan atau tidak sebuah tawaran datang menghantam dirinya dari seorang perempuan yang kini duduk tepat di hadapannya. Dia tidak paham apa yang terjadi pada kehidupan perempuan tersebut, tapi yang bisa dilihat perempuan itu sepertinya sakit parah, usianya mungkin sekitar 45 tahun bisa lebih ataupun kurang dia tidak paham karena dia tidak bisa menakar usia seseorang, jika ibunya masih hidup bisa oleh siap perkirakan usianya sedikit lebih mudah dari perempuan yang ada di hadapannya tersebut.
Perempuan di hadapannya tersebut beberapa kali bertemu dengan dirinya di rumah sakit di mana saudara kembarnya dirawat dan juga di mana dia memilih untuk memeriksakan dirinya serta kesehatannya, beberapa kali pertemuan ditambah beberapa kali obrolan bersama mengantar mereka pada hari ini.
"Aku menawarkan kamu sebuah kesepakatan yang menguntungkan untuk kedua belah pihak"
Itu adalah barisan kalimat yang diucapkan oleh perempuan di hadapan nya tersebut, nada bicaranya terdengar sangat serius, tidak ada kata main-main di dalam ucapan perempuan dengan wajah pucat pasi dan tubuh ringkih di hadapannya itu.
"Aku akan membayarmu dengan bayaran yang jauh lebih daripada kata sepadan bahkan bisa menghidupi kamu dan keluargamu di dalam seumur hidupmu jika kamu menerima kesepakatan ini"
Lagi barisan demi barisan diucapkan oleh perempuan di hadapan Alessia, dia menawarkan sesuatu yang jelas berada di luar kapasitasnya.
"1 milyar di muka, aku hanya ingin kamu menjadi istri dari suamiku sebelum kematianku, semua soal suamiku dan juga menyingkirkan saudara tiriku dari kehidupannya"
__ADS_1
Bayangkan bagaimana perasaan Alessia saat dia mendengar ucapan dari perempuan yang baru dia ketahui namanya tersebut.
Nyonya Hana, ya menurut desas-desus di rumah sakit tersebut merupakan perempuan kaya raya dari salah satu keluarga pengusaha paling terkenal di sana.
'Menikahi suaminya dan membantu menyingkirkan adik tirinya?!.'
Dia tidak pernah paham bagaimana kehidupan orang kaya raya karena dia hanyalah orang biasa-biasa saja yang tidak memiliki apa-apa bahkan untuk bertahan hidup pun harus dari tulang kesana kemari dengan berbagai cara.
"Aku akan menjelaskannya secara detail jika kamu menerima kesepakatan yang aku berikan kepadamu"
Bola mata perempuan di hadapan Alessia bicara dengan ribuan kata penuh harap, sama orang satu-satunya harapan yang dimiliki perempuan itu adalah dirinya.
Dia jelas saja tidak tahu harus menjawab bagaimana, satu tawaran luar biasa dengan nominal uang yang jelas tidak sedikit dan dia pikir dia memang membutuhkannya.
__ADS_1
Tapi menikah dengan laki-laki yang merupakan suami dari perempuan yang ada di hadapannya jelas saja harus menjadi pertimbangan besar untuk dirinya, dengan menikah itu artinya dia menggadaikan masa depannya pada laki-laki yang telah dicap menjadi suami orang lain.
Itu artinya dia yang masih muda yang baru berusia tak lebih daripada 21 tahun harus menikahi laki-laki tua yang mungkin telah memiliki seorang putri atau putra seusia dirinya.
Gadis itu meremas telapak tangannya, terlalu gini untuk memutuskan berkata tidak atau bahkan menerima tawaran perempuan tersebut, dia tidak ingin menggadaikan masa depannya, tapi jumlah uang yang ditawarkan jelas tidak sedikit dan dia pikir dia begitu membutuhkannya.
Uang tidak mungkin jatuh dari langit, bahkan untuk mendapatkan pinjaman di sisi kiri dan kanan atau bahkan dari pihak bank setelah telepon dia harus memiliki sebuah jaminan yang bisa dijadikan pegangan, sedangkan dia jangankan sebuah jaminan, bahkan dia saja mungkin tidak memiliki suatu barang yang bisa dijual dengan nilai lumayan bahkan untuk makan pun dia dan saudara kembarnya harus benar-benar membuat satu rincian keuangan bulanan yang cukup ketat.
"Aku tidak memaksamu untuk menjawab saat ini juga, kamu bisa mempertimbangkannya di rumah dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya, setelah kamu telah meyakini keputusanmu maka temuilah aku atau kamu bisa menghubungiku di nomor ini"
Perempuan itu bicara dengan cepat seolah-olah tahu dengan keraguan Alessia, dia menyerahkan sebuah kartu nama berwarna golden ke arah garis tersebut secara perlahan tepat di hadapan Alessia.
Gadis itu tidak menjawab, bola matanya menatap kartu nama mewah yang ada di hadapannya itu, pikirannya berkacamak menjadi satu tapi dia tidak berani untuk memutuskannya saat ini juga.
__ADS_1