
Kallan melepaskan handphone miliknya dan dia terduduk lemas di sudut ranjang miliknya ketika dia baru saja mendengar kematian tentang mama nya dari adik nya.
"Kak...."
Masih dia ingat suara bergetar Pinkan di seberang sana tadi, bicara pada nya denganĀ
berat sambil menahan Isak tangisannya.
"Mama..."
kallan menghentakkan punggung Kepala ke dinding berkali-kali, mencoba menahan tangisannya yang akan pecah.
Dia seharusnya menyadari kondisi mama nya yang tidak baik-baik saja, pertemuan terakhir mereka mama nya terlihat begitu pucat, dia sempat menatap sebuah kursi roda yang terparkir di salah satu sisi kamar lantai bawah.
"Mama pucat? apa mama sakit?"
Dia bertanya pada perempuan yang memperjuangkan dirinya selama 9 bulan, melahirkan dirinya dan membesarkan Kallan dengan penuh kasih sayang tersebut, menatap wajah pucat yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Mereka tinggal ditempat terpisah, Kallan jarang pulang, belum siap menjadi penerus perusahaan, dia masih ingin bersenang-senang dengan kehidupan muda nya dan belum mau berkutat pada dunia kerja yang akan membuat dia frustasi dan menggila.
Belum lagi Desas-desus papa nya akan menikah lagi atas permintaan kakek nya membuat Kallan semakin menjauh dari kehidupan rumah.
"Hanya perasaan mu saja, mama hanya kurang tidur beberapa malam ini"
"Itu kursi roda siapa?"Dia mengerutkan keningnya, menatap kursi roda yang ada di ujung sana.
"Punya nenek yang sengaja ditinggal disini"Mama nya menjawab dengan mantap pertanyaan miliknya.
Bahu dan tubuh laki-laki tersebut bergetar, dia berusaha untuk tidak menangis meraung-raung, dia laki-laki kuat yang berdiri tegak dengan pongah dan tegar, mana mungkin menangis karena keadaan.
Dia mencoba menggigit punggung tangan kirinya, menahan tangis yang terus mendesak ingin pecah, realitanya sekuat apapun dia menahan nya pada akhirnya tangis nya pecah juga.
Suara pilu menyayat kalbu, memecah keheningan malam yang terasa tak kunjung terang.
"Mereka dalam perjalanan dari olkhom, Rusia. Besok malam kemungkinan tiba di Manhattan, lusa pemakaman mama"
__ADS_1
Laki-laki tersebut mencoba menyeka air matanya dengan telapak tangan kanan nya, mencoba menahan getaran pada seluruh permukaan tubuh dan dada nya, tapi dia tidak sanggup melakukan nya.
Dia tiba-tiba merindukan mama nya, sangat, ingin memeluk perempuan tersebut dan berkata maaf hingga jutaan kali, mencium perempuan tersebut, bersimpuh di bawah kaki nya bahkan mencium air cucian kakinya.
"Ma...ma...ma..."Seperti anak ayam yang kehilangan pegangan nya, kallan berulang kali memanggil perempuan yang menjadi madrasah Utama nya.
"Kau tahu sayang? terkadang hidup ini bukan soal uang, tanggung jawab dan kewajiban menjadi salah satu pegangan seorang laki-laki sejati didalam kehidupan nya"
"Jika mama pergi, berjanjilah hidup dengan baik, jangan menyia-nyiakan kehidupan yang kamu miliki, jangan gunakan hal-hal tidak baik, jangan bergaul dengan orang-orang tidak baik, hidup ini pilihan, bukan satu kepasrahan, Allah SWT hanya mengikuti apa yang ingin kita jalankan"
"Takdir memang sudah digariskan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Jika menginginkan takdir yang baik, maka jalan satu-satunya adalah memohon kepada Sang Pencipta, lantaran Dia-lah yang mampu mengubah setiap takdir seseorang. Allah akan memberikan takdir yang baik selama manusia bersungguh-sungguh dalam bertakwa."
"Dan jangan marah jika mama mengubah satu takdir dalam hidup mu, Karena ada alasan mama tiba pada titik itu, Hidup lah dengan baik-baik saja, mama mencintai kamu"
Lagi tangis Kallan pecah, pertahanan Kokoh nya runtuh, dia membiarkan punggung kepalanya berkali-kali menghantam dinding kamar nya dalam kekecewaan dan penyesalan yang mendalam.
Beberapa kali pula tangan kanan nya memukul dada nya dalam keheningan malam yang tercipta untuk dirinya.
__ADS_1