
Semalaman Sherkan terus menekan kesadaran nya, dia jelas kurang tidur sejak Dua malam yang lalu.
Bola mata panda nya jelas terlihat saat ini, Rubi terus berkata mari bergantian Menjaga kakak ipar.
Tapi kak Sherkan nya terus menjawab bukan masalah.
Laki-laki itu akan pergi setelah jam sarapan pagi menuju ke kantor, pulang di waktu sore kemudian berjaga hingga besok pagi.
Proyek besar yang telah di tandatangani harus laki-laki itu urus sejak Minggu kemarin, bahkan pembangunan kantor cabang menyita banyak fikiran nya tapi laki-laki itu masih harus menjaga istri nya di malam hari.
Bayangkan bagaimana mata panda tersebut terbentuk saat ini.
"Kakak tidak mau pergi tidur?"
Tanya Rubi Begitu khawatir.
Kakak laki-laki nya hanya menghabiskan waktu curi-curi kesempatan untuk melelapkan matanya di kantor menurut Merlin.
Tapi di rumah sakit laki-laki itu sama sekali tidak bisa memejamkan bola matanya.
"Kakak khawatir terlelap ketika kakak ipar mu terbangun"
Ucap Sherkan sambil menghabiskan sisa kopi hitam nya.
"Kak Elvitania pasti marah jika tahu kakak kekurangan waktu istirahat kakak"
Rubi bicara sedikit protes, dia ingin sekali marah pada laki-laki dihadapan nya itu tapi apalah daya dia jelas tidak punya kemampuan untuk melakukan nya.
Kadang dia berfikir apakah tidak seharusnya dia memberikan laki-laki itu Obat tidur saja?!.
Ide-ide aneh kadang terlintas dikepalanya.
__ADS_1
Tapi itu kakak nya, dia bisa habis jika melakukan hal bodoh seperti itu, andai kan itu Arch mungkin dia sudah membubuhi kopi Sherkan dengan obat tidur.
Alih-alih menjawab ucapan adiknya, Sherkan lebih memilih menghadap laptop nya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Pulanglah, kakak akan menjaga kakak ipar mu"
mendengar ucapan laki-laki itu, lagi-lagi membuat Rubi hanya bisa menghela nafasnya panjang.
Tidak kah dia mau mendengarkan ucapan orang lain sesekali? memang benar, satu-satunya yang mau didengar Sherkan hanya kakak ipar nya.
"Mama dan Papa dalam perjalanan kemari, mereka bilang malam ini akan tidur disini"
Ucap Rubi tiba-tiba.
Mendengar ucapan Rubi, Sherkan menghentikan gerakan tangannya.
"Sebaiknya mereka istirahat di rumah"
Rubi baru akan menjawab tapi tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar sebuah suara.
"Kami sudah cukup mengkhawatirkan kamu, son"
Itu adalah suara Papa nya.
laki-laki tua itu dan Mama Sherkan terlihat melangkah masuk ke dalam.
"Pa?"
"Malam ini kamu setidaknya butuh waktu untuk istirahat, biarkan kedua orang tua ini yang menjaga putri mereka"
Laki-laki itu bicara cepat sambil terus melangkah menuju ke arah sebuah kursi sofa.
__ADS_1
Rubi buru-buru menghampiri Papa dan mama nya, meraih kedua tangan orang tua nya menuju ke arah kursi yang ada di sisi kiri kasur rumah sakit dimana sang kakak ipar nya masih terbaring lelap di atas nya.
"Maafkan aku, Pa"
Sherkan menjawab pelan, seolah-olah tahu jika Papa nya mulai resah dengan kesehatan nya.
"Malam ini saja, biarkan Sherkan masih terus terjaga"
Pinta nya sambil mendekati Papa nya, laki-laki itu menatap dalam bola mata sang Papa nya untuk beberapa waktu.
Laki-laki tua itu tampak diam.
Dia tahu ada jutaan rasa bersalah yang menghantam putra nya, dia menyalahkan diri nya sendiri dan mencoba menghukum dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Elvitania.
"Elvitania pasti kecewa saat tahu kamu tidak menjaga kesehatan kamu dengan baik, son"
Ucap laki-laki itu pelan.
"Kau tahu nak? Anggaplah ini satu ujian yang harus kamu hadapi dengan tenang, keadaan ini sebagai penebus seluruh kesalahan mu dimasa lalu atas apa yang kamu perbuat pada Elvitania"
"Dibalik kamu mencintai dia sejak lama, kelakuan buruk tetap lah buruk dan tidak bisa di maafkan, Allah sedang menguji kamu dan ingin melihat seberapa besar kesabaran kamu melewati tiap ujian nya"
"Sebab Perbuatan Baik dan Buruk Sekecil Apapun satu hari akan Diganjar"
“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihatnya pula.” Al-Zalzalah ayat 7 dan 8.
Mendengar ucapan Papa nya seketika Sherkan terdiam.
Yah dia lupa, mungkin benar ini adalah ujian dalam ganjaran yang harus dia terima karena pernah menyakiti Elvitania kemarin.
Dan dia sedang berusaha menghukum dirinya sendiri saat ini, padahal sesungguhnya Allah bisa jadi sedang menghukum nya memalui Elvitania.
__ADS_1