Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 10. Rencana Menyamar


__ADS_3

Sementara itu, pagi hari di mension William. Ixora setelah bangun tidur masih duduk merenung di depan kaca riasnya. Dia memandangi wajah cantiknya dari pantulan kaca riasnya.


“Apa aku harus menutupi wajahku agar aku aman.” Gumam Ixora sambil terus menatap wajahnya sendiri dari pantulan kaca rias.


Ixora membuka laci pada meja rias itu. Lalu dia mengambil kaca mata hitamnya, dia pakai kaca mata itu.


“Hmmm malah tambah cantik.” gumamnya lalu dia menaruh lagi kaca mata itu pada tempatnya.


Dan sesaat kemudian...


TOKKK TOKKKK .... TOKKKKK


“Mama apa ya?” tanya Ixora pada dirinya sendiri.


“Aku malas makan.” gumamnya yang mengira Mamanya akan menyuruhnya segera turun untuk sarapan.


Ixora lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu kamarnya. Dia membuka kunci lalu pelan pelan memutar handel pintu lalu menarik daun pintu kamarnya.


“Kak...” ucap Dealova yang berdiri di depan pintu sudah mengenakan seragam sekolah biru putih seragam anak smp.


“Gimana kabarmu Kak?” tanya Dealova selanjutnya sambil melangkah masuk ke dalam kamar Ixora.


“Maaf ya Kak... bukannya aku tidak berempati dengan masalah yang sedang menimpa pada Kakak, akan tetapi entah mengapa kalau aku belajar mataku terus mengantuk dan akhirnya aku tadi malam tertidur pulas.” ucap Dealova lagi sambil duduk di tepi tempat tidur Ixora.


“Kamu itu memang begitu kalau sedang belajar tidak ada yang ngecek pasti kamu sudah ngeces.” ucap Ixora sambil duduk juga di tepi tempat tidurnya.


“Aku kemarin diselamatkan oleh Bang Bule lagi. Tapi entah mengapa Mama malah marah marah pada Bang Bule.” ucap Ixora sambil memegang guling dan memeluk guling itu.


“Mama kan memang tidak mau punya mantu Bang Bule maunya itu punya mantu macam Kakak ipar pertama. Dia mah menantu idaman Mama, maka repot buat kita besok kalau mau cari suami harus yang sama kayak Kak Deo.” ucap Dealova dengan bibir manyun beberapa centi meter ke depan.


“Deal aku tuh sedang mikir bagaimana agar aku tidak lagi jadi korban macam kemarin kemarin itu.” ucap Ixora kemudian


“Terus Kak Ixora mau ngapain?” tanya Dealova penuh kepo

__ADS_1


“Aku mau menyamar jadi gadis jelek dan akan latihan bela diri.” jawab Ixora dengan nada serius.


“Kebanyakan orang mah menyamar menjadi gadis cantik ini malah menyamar menjadi jelek.” gumam Dealova


“Kok menyamar menjadi cantik?” tanya Ixora sambil menatap Dealova.


“Lha mereka yang jelek pakai make up itu kan sedang melakukan penyamaran.” jawab Dealova dengan nada serius


“Itu bukan menyamar Deal... tapi memperbaiki penampilan, menyempurnakan penampilannya..” ucap Ixora sambil menimpuk punggung Dealova dengan guling yang dia pegang.


“He... he... he...” Dealova tertawa terkekeh


“Udah yok makan... Aku masih harus pergi ke sekolah.” ucap Dealova lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar Ixora.


Sementara itu di ruang makan Nyonya William sudah duduk di kursi makan di dekat suaminya. Akan tetapi Nyonya William terlihat marah marah entah marah pada siapa.


“Apa coba maunya orang itu.. pagi pagi sopir datang orangnya sudah pergi. Memang sengaja orang itu.” Ucap Nyonya William sambil menyiapkan sarapan buat suaminya.


“Siapa sih Ma? Pagi pagi kok Mama sudah berlatih drama.” Ucap Dealova sambil mendudukkan pantatnya.


“Mama marah pada siapa? Papa?” tanya Dealova sambil menatap Papanya yang malah sedang asyik menikmati kopinya.


“Sama Bule itu, pagi pagi sudah kabur membawa lari tas Ixora.” ucap Nyonya William sambil menaruh roti yang sudah diisi dengan telur dan sayuran juga saus di piring suaminya. Dan selanjutnya dia menceritakan kronologi mengapa tas Ixora berada di tangan Bang Bule.


“Ooo mungkin mau diantar Bang Bule ke sini Ma, tunggu aja di depan.” Ucap Dealova berpikir positif.


“Bagaimana mungkin ke sini pakai pesawat. Bule itu sudah ke bandara pagi pagi buta.” Ucap Nyonya William


“Ooo..” gumam Dealova.


Sementara itu dengan berjalan waktu. Bang Bule pun sudah tiba di bandara Ngurah Rai Bali. Setelah mengikuti serangkaian prosedur kedatangan penumpang, Bang Bule segera keluar pintu dan memesan taxi on line.


“Hmmm jauh juga hotel mereka berada.” gumam Vincent dalam hati Setelah melihat tangkapan peta jarak antara bandara dengan hotel yang akan dia tuju.

__ADS_1


Tidak lama kemudian taxi yang dia pesan sudah datang. Vincent segera membuka pintu mobil taxi itu dan dia segera masuk.


Mobil terus melaju meninggalkan lokasi bandara. Setelah perjalanan satu jam lebih bahkan hampir dua jam mobil sampai di hotel tempat Vadeo dan Alexandria menginap untuk berbulan madu. Lokasi hotel di daerah Baturiti, daerah dataran tinggi. Keluar dari mobil taxi Vincent alias Bang Bule merasakan udara daerah itu yang dingin segar.


“Hmmm mereka mencari tempat yang dingin dingin.” gumam Vincent lalu melangkah menuju ke tempat resepsionis. Setelah menyampaikan maksud tujuannya. Petugas resepsionis itu terlihat menelpon seseorang.


“Mari Tuan, saya antar.” Ucap sang resepsionis dan Vincent pun melangkah mengikuti langkah kaki resepsionis. Beberapa saat kemudian mereka sampai pada suatu bangunan rumah yang asri yang terpisah dari bangunan utama hotel.


“Silahkan berjalan melewati jalan setapak pintu ada di bagian sana.” ucap sang resepsionis. Vincent pun melangkah di jalan setapak itu setelah melangkah beberapa meter Vincent melihat pemandangan danau yang sangat indah. Ternyata pintu depan menghadap pada pemandangan danau itu.


Dan sesaat kemudian pandangan mata Vincent menangkap dua sosok manusia yang sangat dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Vadeo dan Alexandria. Mereka berdua sedang duduk santai menghadap ke arah danau itu.


“Gila ya kalian berdua cari hotel jauh banget dari bandara!” teriak Vincent. Vadeo dan Alexandria yang sedang santai santai lalu menoleh ke arah suara.


“Siapa suruh kamu datang ke sini.” ucap Vadeo.


“Bro, tolong aku...” ucap Bang Bule penuh permohonan


“Ha... ha.... Kamu itu juga keterlaluan meninggalkan Mama begitu saja. Kamu tuh sudah terlalu lama hidup tanpa orang tua jadi begitu tuh...” ucap Vadeo yang mengingat sejak SMA orang tua Vincent kembali ke negara Belanda sedangkan Vincent memilih tetap tinggal di Indonesia, dia menempati rumah besarnya bersama teman temannya.


“Lah kan yang dalam bahaya Ixora butuh bantuan secepatnya mungkin terlambat sedikit saja Ixora sudah dibobol bocah itu.” Ucap Vincent


“Nyonya William kan aman di dalam mall bisa nelpon sopir untuk menjemput atau pakai taxi.” Ucap Vincent selanjutnya


“Dasar anak tidak pernah gaul dengan orang tua ya kayak kamu itu Bul.” Hardik Vadeo


“Terus kamu yang ***** ***** itu?” tanya Vadeo selanjutnya karena ingat tadi Vincent pun menceritakan sempat ikut terbawa gelora nafsu.


“Itu khilaf tak terbendung.” Jawab Vincent dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.


“Bang, Mama tuh sejak awal tidak suka dengan pekerjaan Bang Bule terus ditambah masalah ini. Susah Bang. Aku bantu sebisanya tetapi aku pun sependapat dengan Mama, Ixora harus selesai kuliah dulu.” Ucap Alexandria


“Al tolong aku..” ucap Bang Vincent penuh permohonan hingga wajahnya terlihat sangat memelas.

__ADS_1


“Coba aku telpon Mama ya...” ucap Alexandria yang tidak tega melihat wajah memelas Bang Bule Vincent, lalu dia mengambil telepon seluler nya. Dan terlihat Alexandria segera menghubungi Mamanya, mengabarkan tas Ixora sudah berada di tangannya dan menjelaskan tentang alasan Vincent meninggalkan Mamanya di mall dan juga peristiwa di tempat parkir hotel Melati.


“Bagaimana Al?” tanya Bang Bule Vincent dengan tidak sabar setelah Alexandria selesai menghubungi Nyonya William.


__ADS_2