Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 73. Menunggu


__ADS_3

Waktu satu minggu lebih pun sudah berlalu. Pernikahan siri Carol dengan Anneke sudah berlangsung secara rahasia. Tokoh agama di daerah perumahan Anneke yang menikahkan mereka, di hadapan kedua orang tua Anneke dan kedua saksi dua orang pelayan keluarga Anneke.


Orang tua Anneke merestui pernikahan siri anaknya karena penjelasan dari Anneke, akan obsesinya untuk mendapatkan keturunan dari keluarga Alfredo pemegang saham terbesar perusahaan perusahaan terkenal. Orang tua Anneke tentu saja setuju jika memiliki cucu keturunan Alfredo yang harapannya bisa menjadi pewaris kekayaannya.


Akan tetapi sudah hampir satu minggu pernikahan nya Anneke belum juga disentuh oleh Carol. Carol pun masih tinggal di Mansion Alfredo dan Anneke masih tinggal di rumah orang tua nya.


Anneke kini sudah mulai uring uringan. Dia berjalan mondar mandir di ruang keluarga


“Percuma aku ikut program hamil super lengkap kalau disentuh saja tidak.” Gumam Anneke sambil terus berjalan mondar mandir sampai menghalang halangi Maminya yang sedang menonton televisi yang berada di ruang keluarga itu.


“Ini pasti gara gara Ixora itu, sejak Kak Carol berdua dua dengan Ixora sejak itu juga dia tidak mau menyentuh aku.” Gumamnya lagi sambil jari telunjuk nya menunjuk nunjuk di arah depannya. Untuk tidak menunjuk nunjuk ke wajah Maminya. Padahal Carol tidak menyentuhnya karena efek samping operasi vasektomi nya yang belum memperbolehkan enak enakan dulu.


“Sabar An, siapa tahu suami mu itu sedang sibuk dengan pekerjaan nya jadi belum tenang pikiran nya belum mood untuk enak enakan dengan kamu.” Ucap Mamanya Anneke sambil pandangan matanya tertuju ke arah layar televisi yang berkali kali terhalang oleh tubuh Anneke yang berjalan mondar mandir.


“Tidak mungkin Mam, biasanya kalau sedang banyak pekerjaan malah gairahnya menggila.” Sanggah Anneke


“Coba ditunggu saja week end besok, ajak dia ke villa.” Saran dari Sang Mami sambil menatap wajah Anneke.


“Betul betul Mam.. Aku pernah diajak Kak Carol ke villa keluarga Alfredo. Aku ajak dia besok ke sana.” Ucap Anneke Lalu dia berjalan menuju ke sofa yang berada di ruang keluarga itu.


“Aku sudah tidak sabar.” Ucap nya selanjutnya lalu tangannya meraih hand phone yang berada di atas meja.


“Aku hubungi Kak Carol sekarang.” Ucapnya selanjutnya lalu dia mengusap usap layar hand phone nya untuk melakukan panggilan video pada Carol.


Sementara itu Carol masih berada di kantor nya. Dia sejak melakukan pernikahan siri dengan Anneke memang belum menyentuh Anneke dan dia tinggal di Mansion Alfredo. Sebab selain senjata belum boleh untuk menembakkan pada sasaran. Juga dia harus memastikan kalau air mani nya benar benar steril lebih dulu. Sebab hasil test pertama masih ada beberapa kecebongnya.


Terdengar suara dering di hand phone Carol yang berada di atas mejanya. Terlihat di layar hand phone nya tertera nama kontak Anneke melakukan panggilan video. Carol segera menggeser tombol hijau.

__ADS_1


“Kak Carol masih di kantor? Nanti pulang ke rumah ya, aku kan belum dinafkahi.” Suara Anneke saat Carol sudah menggeser tombol hijau. Wajah Anneke tampak cemberut dan bersungut sungut.


“Bukannya aku sudah transfer uang yang kamu minta.” Ucap Carol dengan santai


“Bukan nafkah itu.” Teriak Anneke


“Aku masih sibuk.” Saut Carol


“Besok kan week end, kita ke villa ya tidak boleh tidak harus iya.” Ucap Anneke lalu memutus sambungan panggilan video nya.


Carol menaruh lagi hand phone nya di atas mejanya. Tidak tidak bisa mengabulkan permintaan Anneke. Tadi dia sudah membuat janjian dengan Nyonya William kalau besok dia akan berkunjung ke mansion William.


“Hmm aku besok harus menemui Ixora. Aku bilang saja pada Anneke kalau aku ada acara keluarga ke luar kota.” Gumam Carol lalu dia melanjutkan pekerjaan nya dan akan menulis pesan buat Anneke nanti saja. Sebab kalau sekarang pasti dia akan menghubungi lagi dan terus saja memaksa.


Sementara itu di tempat lain Ixora yang tangannya sudah membaik dia sudah tidak perlu lagi memakai alat penyangga hanya perlu belat untuk perlindungan. Dan jika dia memakai baju lengan panjang sudah tampak bagai baik baik saja. Tangan kanannya pun sudah boleh digunakan untuk bergerak meskipun tetap masih harus hati hati.


Dan waktu pun terus berlalu dan kini week end pun tiba di depan mata.


Setelah selesai kuliah sore harinya, Isomah segera pulang ke rumah kost nya. Dia hanya ingin tinggal menyendiri di kamar kost nya selama week end untuk mengenang kebersamaan nya dengan Bang Bule dan dia juga akan mengerjakan tugas tugas kampusnya.


“Hmmm andai Bang Bule masih di sini, bisa bertemu meskipun dia dalam wujud Kakek Penjual Obat. Atau aku melihatnya dari jauh saat dia melatih.” Gumam sambil terus berjalan menuju ke rumah kost nya . Pelatih ilmu bela diri sudah diganti oleh orang lain. Isomah belum mengikuti karena tangannya belum sehat sempurna.


Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di rumah kost nya. Bunda Naura menyambut kedatangan nya dengan senyum bahagia. Tugasnya untuk mengawasi Ixora sudah ringan karena sudah tidak ada lagi Bang Bule di negara Indonesia.


Isomah segera masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi baru saja dia menaruh tote bag nya tiba tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


TOK.. TOK... TOK..

__ADS_1


“Bunda Naura apa ya..” gumam Isomah sambil berjalan menuju ke pintu kamar nya.


Saat pintu sudah terbuka.


“Nak, kita pulang sekarang.” Suara Pak Wagiman yang sosoknya berdiri di depan pintu kamar Isomah masih dengan jaket di badannya dan helm di kepalanya.


“Tapi Pak, aku punya banyak tugas yang harus aku selesaikan.” Ucap Isomah yang ingin tetap tinggal di rumah kost nya.


“Tapi harus pulang, tugasnya dibawa saja.” Ucap Pak Wagiman yang sudah mendapat perintah dari Nyonya William untuk membawa pulang Ixora.


“Aku baru saja pulang Pak, belum mandi.” Ucap Isomah.


“Tidak usah Nak. Ditunggu makan malam di rumah.” Ucap Pak Wagiman dengan pelan. Dan Ixora pun paham jika itu artinya Mama sudah menyiapkan makan malam dan tidak mau dibantah kemauan nya.


Isomah pun segera mengambil lagi tote bag nya dan dia segera keluar dari kamar kost nya lalu menyusul Pak Wagiman yang sudah siap di atas motornya.


Motor terus melaju menuju ke mansion William. Dan beberapa menit kemudian motor sudah memasuki pintu gerbang mansion Willam.


Di suatu tempat yang tidak jauh lokasi mansion Willam ada dua pasang mata yang melihat kedatangan motor Pak Wagiman. Pemilik mata itu adalah ketua preman suruhan Anneke dan satu orang anak buahnya.


“Siapa mereka itu?” tanya salah satu preman pengintai.


“Yang laki laki pegawai Mansion aku lihat dia setiap hari bekerja di taman. Kalau yang perempuan itu entahlah mungkin keluarganya akan ikut bekerja di mansion.” Jawab Ketua preman yang baru sekali ini melihat sosok Isomah masuk ke dalam Mension.


“Kenapa Nona Ixora tidak terlihat lagi ya?” tanya salah satu preman pengintai yang tidak lagi melihat sosok Ixora ke luar dari Mansion


“Mungkin penjagaan ketat. Kita awasi saja terus.” Jawab ketua preman itu.

__ADS_1


__ADS_2