Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 57. Sakit Hati


__ADS_3

“Kalau kami tidak boleh masuk. Ijinkan Ixora menemui kami di sini.” Ucap Nyonya Jansen dengan nada suara penuh dengan permohonan.


“Tolonglah dua menit saja tidak apa apa.” Ucap Nyonya Jansen lagi dengan ekspresi wajahnya pun penuh dengan permohonan


“Maaf Nyonya tidak bisa, saya hanya menjalankan perintah. Saya tidak mau kalau harus kehilangan pekerjaan karena dipecat.” Ucap petugas penjaga gerbang yang takut pada Nyonya William.


“Kalau begitu, biarlah Ixora berdiri di depan pintu utama mansion. Tidak usah keluar tidak apa apa, biarlah aku melihatnya dari sini.” Ucap Nyonya Jansen sekali lagi karena beliau begitu ingin melihat orang yang sudah membuat anak laki lakinya jatuh hati. Bang Bule terlihat memeluk punggung Sang Mama dari samping.


“Maaf Nyonya. Lihatlah itu mobil Tuan dan Nyonya William masih berhenti di depan dan mengawasi saya.” Ucap Sang petugas penjaga pintu gerbang sambil dagunya menunjukkan mobil Tuan William yang berhenti tidak jauh dari tempatnya.


“Owh.. susah sekali.” Ucap Nyonya Jansen sambil mengambil nafas dengan terasa sangat berat.


“Ayo Ma kita pulang saja.” Ucap Bang Bule karena dia punya ide pergi dulu baru nanti setelah mobil Tuan William pergi, dia akan datang lagi.


“Apa kamu sudah menyerah?” ucap Nyonya Jansen sambil menatap tajam ke arah anak laki laki nya


“Ma, lihatlah mobil mereka masih di situ.” Ucap Bang Bule


“Baiklah kalau yang punya niat saja sudah menyerah.” Ucap Nyonya Jansen kemudian.


Nyonya Jansen dan Bang Bule pun akhirnya membalikkan badan nya dan berjalan menuju ke mobilnya. Saat sampai di dekat mobilnya, Nyonya Jansen melihat kotak kotak makanan yang sudah dia masak secara khusus buat Ixora dan keluarga William. Nyonya Jansen lalu membuka pintu mobil belakang.


“Vin, kita turunkan kotak kotak ini dan kita titipkan pada pegawai itu.” Ucap Nyonya Jansen lalu mengambil kotak kotak makanan itu. Bang Bule Vincent pun turut membantu Sang Mama. Mereka berdua lalu kembali berjalan menuju ke pos penjaga sambil membawa kotak kotak makanan itu.


“Aku sudah membawa ini buat Ixora. Jika aku tidak boleh menemuinya, tolong berikan ini pada Ixora.” Ucap Nyonya Jansen sambil menyodorkan kotak kotak makanan yang dia bawa


“Baik Nyonya. “ jawab petugas penjaga pintu gerbang.

__ADS_1


Akan tetapi sebelum tangannya menerima kotak kotak makanan itu hand phone petugas itu berdering. Petugas penjaga pintu gerbang itu pun mengambil hand phone dari saku bajunya.


“Hei ingat ya tidak boleh menerima gratifikasi.” Suara Nyonya William setelah petugas penjaga pintu gerbang menggeser tombol hijau


“Aku pecat kamu.” Suara Nyonya William lagi.


“Ini buat Nona Ixora.” Ucap petugas penjaga pintu gerbang


“Apa lagi buat Ixora, kembalikan siapa tahu dikasih guna guna.” Suara Nyonya William lagi


“Iya iya Nyonya.” Ucap petugas penjaga pintu gerbang lalu dia menaruh hand phone nya ke dalam saku bajunya lagi sebab Nyonya William sudah memutus panggilan suara nya.


“Maaf Nyonya silahkan dibawa kembali semua ini.” Ucap petugas penjaga pintu gerbang itu dengan suara pelan dan nada sopan. Akan tetapi membuat mata Nyonya Jansen memerah dan tanpa terasa ada genangan air mata di sana. Dan di saat Nyonya Jansen mengedipkan kedua matanya genangan air mata itu mulai meleleh dari kedua ujung matanya. Dada dan leher Nyonya Jansen terasa sesak dan sakit. Nyonya Jansen tidak bisa berkata kata. Rasanya sangat sedih dan kecewa dia sudah bekerja dengan senang hati membuat semua makanan itu akan tetapi ditolak mentah mentah.


“Ayo Ma, kita pulang.” Ucap Bang Bule sambil menoleh ke arah Sang Mama. Ingin dia merangkul bahu Sang Mama akan tetapi tidak bisa dia melakukan nya sebab kedua tangannya membawa kotak kotak makanan.


“Ma, kita tunggu kalau mereka sudah pergi kita datang lagi Ma.” Ucap Bang Bule sambil sekilas menoleh pada Sang Mama. Dia akan berusaha untuk datang lagi.


“Tidak usah, kalau ditolak lagi tambah sakit hati Mama.” Ucap Nyonya Jansen sambil tangannya meraih tisue dari dashboard mobil.


“Aku memang tidak sekaya mereka, tetapi tetap punya harga diri.” Ucap Nyonya Jansen selanjutnya sambil menghapus air matanya.


“Tapi Mama belum bertemu dengan Ixora.” Ucap Bang Bule


“Mama sudah tidak mau lagi menginjakkan kaki ke dalam mansion itu.” Ucap Nyonya Jansen.


“Ma, tapi pasti Ixora menunggu Mama.” Ucap Bang Bule sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


“Ajak dia yang menemui Mama.” Ucap Nyonya Jansen sambil menghapus air matanya yang terus meleleh. Perasaan hati Nyonya Jansen campur aduk, kecewa, sakit, sedih dan terharu akan cinta anaknya pada Ixora.


Sementara itu di mansion Willam. Mobil Tuan William tidak jadi pergi untuk memenuhi undangan Tuan Alfredo untuk minum teh. Nyonya William meminta Tuan William membatalkan dengan alasan ada masalah keluarga yang mendadak. Mobil Tuan William memasuki lagi mansion Willam setelah mobil Bang Bule sudah pergi.


“Aku tetap kuatir mereka akan datang lagi.” Ucap Nyonya William sambil turun dari mobil dan segera melangkah menuju ke pintu utama Mansion. Sedangkan Tuan William menjalankan mobilnya menuju ke garasi.


Sementara itu di dalam ruang tamu mansion Willam, Ixora masih menunggu tamunya. Dia tidak mengetahui yang sudah terjadi di luar mansion.


Sesaat kemudian pintu utama Mansion terbuka dengan lebar. Dan muncul sosok Nyonya William, Ixora dan Sang perawat tampak kaget.


“Aku itu curiga kamu masih berkomunikasi dengan Bule itu.” Suara lantang Nyonya William sambil berjalan menuju ke arah Ixora


“Tidak Ma.” Jawab Ixora dengan ekspresi ketakutan.


“Bohong!” teriak Sang Mama sambil tangannya meraba raba bagian paha Ixora karena ada saku di gaunnya yang dia mengira Ixora menaruh hand phone nya di sana.


“Aku mau ambil hand phone mu!” ucap Nyonya William lalu meninggalkan Ixora sebab ternyata Ixora tidak membawa hand phone nya.


“Ma, jangan Ma.. jangan ambil hand phone Ixora Ma..” teriak Ixora sambil bangkit berdiri mengikuti langkah kaki sang Mama.


“Itu pelanggaran hak azazi manusia Ma.” Teriak Ixora lagi sambil terus mengikuti langkah kaki Nyonya William yang sudah menaiki anak tangga.


“Pelanggaran pelanggaran apa? Status mu itu masih anakku, masih dalam pengawasan ku. Aku berkewajiban menjaga dirimu.” Teriak Nyonya William sambil terus berjalan menuju ke kamar Ixora.


“Ma please jangan Ma..” teriak Ixora lagi saat Sang Mama sudah membuka pintu kamarnya.


Ixora pun melangkah lebih cepat agar bisa segera masuk ke dalam kamarnya untuk menjaga dan melindungi tote bag nya yang berisi hand phone khususnya.

__ADS_1


Tampak Sang perawat turut mengikuti langkah kaki Ixora dias sangat kuatir tangan kanan Ixora terbentur pada pintu karena berjalan sangat cepat dan tergesa gesa.


__ADS_2