Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 32. Rencana Anneke


__ADS_3

“Tenang saja Beb...” ucap Bang Bule sambil mengusap usap punggung telapak tangan Ixora yang masih memegang perut six pack nya, dengan tangan kirinya.


Bang Bule pun menepikan vespa tuanya di tempat yang aman. Dan tidak lama kemudian mobil patroli polisi lalu lintas itu pun turut berhenti di belakang vespa tua Bang Bule. Sesaat kemudian satu orang polisi turun dari mobil dan dengan langkah lebarnya mendekati Bang Bule.


“Selamat pagi... Maaf Tuan mengganggu perjalanan Tuan.” Ucap bapak Polisi sambil memberi hormat.


“Apa kamu tidak punya pekeljaan lain selain mengganggu peljalanan olang lewat hah?” ucap Bang Bule dengan suara Kakek Kakek sambil menoleh menatap bapak Polisi.


Sementara Ixora yang duduk di belakang Bang Bule semakin jantungnya berdebar debar tidak terkira. Dia semakin mempererat pegangan tangannya pada perut six pack Bang Bule. Dan tentu saja Bang Bule semakin riang gembira.


“Apa Tuan bisa menunjukkan kelengkapan surat surat dalam mengemudi.” Ucap Pak Polisi dengan nada sopan. Dia meminta hal itu karena melihat sosok Kakek Kakek yang mengendarai vespa tua ditambah memboncengkan seorang gadis. Ini sangat membahayakan bagi keselamatan Kakek pengemudi dan orang yang dibawanya. Juga keselamatan bagi pengendara lain.


Bang Bule pun lalu menunjukkan kartu identitasnya yang asli.


“Maaf Bang.” Ucap Pak Polisi setelah membaca kartu identitas Bang Bule. Dia sudah mengenal profil Bang Bule di informasi instansinya.


“Apa temanmu yang mengganggu peljalanan ku tadi tidak mencelitakan kepadamu hah?” ucap Bang Bule sambil menerima kartu identitas nya yang sudah diserahkan kembali dari Pak Polisi. Sebab tadi waktu Bang Bule dalam perjalanan dari rumah menuju ke kost Isomah juga diberhentikan oleh polisi lalu lintas yang berjaga di dekat lampu merah.


“Maaf Bang, tapi helm dipakai dengan benar ya.” Ucap Pak Polisi sambil menurunkan kaca helm Bang Bule yang sejak tadi memang dia buka dia tarik ke atas agar mendapatkan angin pada wajahnya yang panas karena topeng silikonnya.


“Ternyata detektif sableng bin somplak.” Gumam Pak Polisi dengan bibir tersenyum sambil melangkah meninggalkan Bang Bule. Sebab dia juga pernah mendengar informasi saat Bang Bule menjebak penjahat dengan boneka full body silicon, juga kerjaan kerjaan lainnya lewat berita tertutup di instansinya.


“Awas jangan mengumpat pada ku ya.” Ucap Bang Bule sambil menoleh. Lalu dia kembali menyalakan mesin vespa tua nya. Pak Polisi pun hanya tertawa sambil melambaikan tangannya.


Bang Bule terus saja melajukan motor vespanya. Tujuan pertama perjalanan mereka adalah menuju ke pasar tradisional untuk membeli bahan bahan jamu jamuan, agar tidak kesiangan keburu pasar tutup.

__ADS_1


Beberapa saat mereka sudah sampai di sebuah pasar tradisional. Bang Bule dan Ixora terlihat bingung saat di depan pasar yang belum pernah mereka datangi itu.


Bang Bule pun lalu bertanya pada orang yang berada di dekatnya untuk menanyakan di mana tempat penjual bahan mentah jamu jamuan. Setelah mendapatkan jawaban, Bang Bule dan Ixora pun berjalan dengan riang menuju ke tempat yang akan di tuju. Di sepanjang perjalanan Ixora memegang lengan kekar Bang Bule. Rasanya dia tidak mau lagi berpisah dengan Bang Bule.


Bang Bule pun juga merangkul mesra bahu Ixora di saat tangan Ixora lepas dari pegangan di lengannya.


Orang orang pasar yang melihat terlihat heran dengan pasangan yang langka itu. Seorang Kakek Kakek berjalan mesra dengan seorang gadis belia yang jelek.


“Biasanya mah kalau Kakek Kakek tajir yang dicari gadis bening bening.” Ucap salah satu pedagang di pasar yang melihat kemesraan Kakek Kakek dengan gadis jelek.


“Kalau Kakeknya tidak tajir, gadisnya kok mau, meskipun jelek kan sayang kalau diperawaani sama Kakek kere. Jelek jelek dijual juga masih laku lumayan kalau orisinil nil.” Saut pedagang yang lain.


“Iya kalau sama cucu kok mesra gitu.” Sambung seorang pembeli yang berada di dekat situ.


Bang Bule dan Ixora pun terus saja melangkah tanpa menghiraukan orang orang yang memandang dan membicarakan mereka berdua.


Anneke pergi ke dapur untuk mengambil kotak makanan eksklusif milik Maminya. Dengan hati hati dia masukkan ke dalam tas yang dia cangklong di bahunya.


“Non buat apa kotak makanan kesayangan Nyonya?” tanya pembantu yang melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Anneke.


“Cerewet! Aku mau belikan makanan Mami pakai tempat ini.” Ucap Anneke dengan nada ketus dan melangkah keluar dari dapur.


Anneke terus melangkah keluar dari rumahnya dan menuju ke tempat mobilnya yang terparkir. Setelah masuk ke dalam mobil, Anneke segera melajukan mobilnya meninggalkan lokasi rumahnya.


Anneke terus melajukan mobilnya di jalan raya. Tujuannya akan menuju ke mansion Alfredo. Akan tetapi sebelum sampai di mansion Alfredo, dia membelokkan mobilnya ke arah halaman rumah makan yang sangat terkenal enaknya.

__ADS_1


Anneke memarkir mobilnya dan dia langsung turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam restoran mewah itu.


Anneke langsung memanggil pelayan rumah makan itu saat sudah berada di dalamnya.


“Aku pesan masakan favorit rumah makan ini. Isi penuh kotak ini. Berapapun harganya akan aku bayar.” Ucap Anneke dengan nada sombong sambil menyerah kotak makan ekslusif milik Maminya.


“Jangan lama lama aku tunggu di meja Nomor empat.” Ucap Anneke selanjutnya lalu dia melangkah menuju ke meja nomor empat yang terlihat kosong dan tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Sambil duduk menunggu Anneke mengirim pesan teks di aplikasi chatting pada Carol. Dia menyampaikan permohonan maaf yang tidak jadi datang ke kantor Carol dengan alasan mendadak sakit perut. Dan kini dia sedang on the way menuju mansion Alfredo.


Pesan terkirim akan tetapi belum dibaca oleh Carol.


“Hmmm apa masih tidur dia.” Gumam Anneke dalam hati. Dan tidak lama kemudian pelayan rumah makan mendatangi meja nomor empat dan memberikan kotak makanan Anneke yang sudah berisi makanan lengkap dengan nota tagihan di atas kotak makan itu.


Anneke terbelalak saat melihat nominal yang tertera di nota tagihan.


“Ini tidak salah? Dua juta atau dua ratus ribu?” tanya Anneke sambil menatap tajam sang pelayan rumah makan.


“Dua juta Nona, satu porsi lima ratus ribu itu kotak isi empat porsi. Menu favorit di sini pakai bahan import Nona.” Jawab sang pelayan rumah makan.


Anneke pun mau tak mau harus membayar apa yang sudah dia pesan. Dia lalu berjalan menuju ke loket kasir sambil memberikan kartu debitnya.


“Hmmm uang dua juta tidak ada artinya demi mendapatkan hati Kak Carol dan Orang tuanya.” Gumam Anneke sambil berjalan menuju ke mobil setelah dia selesai membayar pesanannya.


Anneke pun melajukan mobilnya dengan penuh semangat, apalagi sudah ada balasan chat dari Carol, meskipun hanya satu buah kata yang terdiri dari dua huruf “ok" meskipun hanya dijawab satu kata Anneke sudah sangat bahagia.

__ADS_1


Anneke terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh akan tetapi tiba tiba....


.....


__ADS_2