
Hingga hari semakin sore, Carol masih berada di mansion Willam. Dia sejak tadi ditemani oleh Dealova dengan bermain game dan berbincang bincang sambil ngemil. Dealova bersedia menemani Carol sebagai permohonan maaf nya pada Ixora karena mulutnya sudah membuat hubungan Ixora dan Bang Bule bermasalah.
Dan sejak tadi juga Ixora tetap berada di dalam kamar nya. Jam makan siang pun dia tidak mau keluar dari kamar nya. Nyonya William sudah membujuk untuk makan bersama di luar, akan tetapi Ixora tidak goyah pada pendirian untuk tetap bertahan di dalam kamar.
Hingga tidak terasa Tuan William pun sudah pulang dari William Group. Nyonya William membukakan pintu buat suaminya.
“Di mana Ixora?” tanya Tuan William yang berjalan di samping isterinya saat melihat Carol dan Dealova sedang duduk di sofa di dalam ruang keluarga.
“Buat tugas Pa, tugas nya banyak sekali. Dia mau keluar kalau ada yang gantiin buat ngerjain tugasnya Pa. Kan ya imposible aku yang gantiin ngerjain tugas Kak Ixora apalagi Mama ha... ha...” jawab Dealova dengan segera saat mendengar suara Papanya, sambil tertawa memandang wajah Sang Mama yang menatap tajam ke arah dirinya
“Maaf ya..” ucap Tuan William selanjutnya lalu dia menyalami Carol dan ikut mendudukkan pantatnya di salah satu sofa. Sedangkan Nyonya William berjalan menuju ke ruang makan.
“Iya Tuan, masih banyak hari hari ke depan.” Ucap Carol sambil menatap Tuan William.
Mereka berdua lalu berbincang bincang ringan. Dan tidak lama kemudian Nyonya William sudah datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
“Kalau begitu saya pamit. Besok bisa ke sini lagi kalau Ixora sedang tidak ada tugas kuliah.” Ucap Carol saat Nyonya William menaruh dua cangkir kopi di meja. Carol disuruh minum kopi duku akan tetapi dia menolaknya.
“Kak Carol tenang saja kan selalu ada diri ku he... he. Dan aku juga siap untuk meminum kopi ini.” Ucap Dealova sambil tertawa kecil lalu tangannya meraih salah satu cangkir kopi itu dan segera menyerapnya. Nyonya William hanya bisa melotot ke arah Dealova.
Nyonya William dan Tuan William mengantar Carol sampai di depan pintu utama Mension. Sedangkan Dealova yang mager (malas gerak) sejak tadi tetap duduk di sofa sambil menikmati kopi nya.
Setelah mobil Carol sudah meninggalkan halaman William.
__ADS_1
“Ma, kamu telepon ke Nyonya Alfredo kita nanti semua ke mansion Alfredo. Kita makan malam di sana atau kita ajak keluarga Alfredo untuk makan malam di luar. Ixora harus ikut.” Ucap Tuan William sambil menatap mobil Carol yang berjalan meninggalkan halaman mansion William.
“Sip Pa..” ucap Nyonya William sambil memeluk lengan Tuan William. Mereka berdua lalu masuk ke dalam mansion. Nyonya William akan segera menghubungi Nyonya Alfredo.
Sementara itu Carol yang sudah memasuki jalan raya menambah laju kemudi mobil nya. Rasa kecewa pasti ada di dalam hatinya, sebab semua rencana nya yang sudah dia susun untuk berdua dan memandang wajah cantik Ixora gagal total semua. Berjam jam dia hanya ditemani Dealova dan Nyonya William.
“Hmmm aku justru semakin gemas dengan Ixora. Aku tidak akan menyerah. Lihat saja nanti dia yang akan tergila gila pada ku seperti perempuan perempuan yang lain.” Gumam Carol sambil tersenyum dengan hanya satu ujung bibirnya saja yang terangkat.
Carol lalu mengambil hand phone nya dari saku kemeja nya yang sejak tadi dia non aktifkan. Dengan tangan kirinya Carol mulai menekan tombol power, dia lalu menaruh hand phone nya pada holder yang terpasang di dash board mobil nya.
Setelah semua program aktif terdengar ada banyak notifikasi masuk. Dan sesaat kemudian terdengar bunyi dering di hand phone nya. Di layar hand phone nya tertera nama kontak Anneke melakukan panggilan video. Anneke yang sudah mendapatkan laporan dari preman pengintai kalau Carol sudah pulang dari Mansion William dan pesan chat dia sudah centang dua maka buru buru dia menghubungi Carol.
“Baru pulang dari Mansion William ya? Aku sudah berbuat baik untuk tidak menyusul suamiku ke mansion Willam. Sekarang juga pulang ke rumah isteri mu!” suara Anneke saat Carol sudah menggeser tombol hijau.
“An, jangan lakukan!” teriak Carol akan tetapi sambung telepon sudah terputus.
“Hah! Kenapa Anneke selalu tahu kalau aku berada di mansion Willam. Pasti dia memasang mata mata. Aku harus enyahkan orang itu.” Ucap Carol dengan nada kesal lalu dia menambah laju mobilnya untuk menuju ke rumah Anneke.
Sesaat kemudian mobil Carol menepi bukan di toko bunga atau toko kue akan tetapi mobil Carol berhenti di depan sebuah apotik. Dia akan membeli pengaman sebab saran dari Dokter untuk memakai pengaman terlebih dahulu sebelum hasil test terakhir keluar.
Beberapa menit kemudian mobil Carol sudah memasuki halaman rumah Anneke. Carol segera keluar dari mobilnya, dia berjalan menuju ke pintu rumah Anneke.
Setelah Carol menekan bel tamu, pintu terbuka dan muncul sosok Maminya Anneke.
__ADS_1
“Langsung masuk ke kamar kalian, sudah lama isteri mu menunggu.” Ucap Mami nya Anneke sambil tersenyum menatap Carol lalu dia segera menutup lagi pintu rumah nya saat Carol sudah masuk.
“Iya Mam.” Ucap Carol lalu dia berjalan menuju ke kamar Anneke.
Carol membuka pelan pintu kamar Anneke. Tampak Anneke sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi menantang.
“Kak Carol selalu membohongi aku. Katanya ada acara keluarga ke luar kota ternyata ke tempat Ixora.” Suara Anneke saat melihat Carol sudah masuk ke dalam kamar nya.
“Acara keluarga mendadak batal, terus ada undangan dari Tuan dan Nyonya William.” Ucap Carol sambil berjalan menuju ke tempat tidur Anneke. Carol lalu duduk di tepi tempat tidur Anneke. Anneke pun langsung menarik tubuh Carol, dia yang sudah tidak sabar langsung menerkam Carol.
“Aku mau mandi dulu An.” Ucap Carol berusaha untuk menjauhkan diri dari serbuan Anneke.
“Tidak usah.” Ucap Anneke dengan suara yang sudah parau sambil terus menciumi Carol. Carol yang sudah beberapa hari berpuasa pun tidak kuasa menolak keinginan Anneke. Carol pun terbawa oleh gairah Anneke yang membara karena obsesinya untuk mendapatkan kecebong milik Carol. Saat Anneke sudah tampak bahagia karena keinginannya akan segera terwujud. Tiba tiba Carol bangkit dan mencari cari celana panjangnya yang teronggok di lantai karena tadi dibuang begitu saja oleh Anneke. Carol lalu mengambil apa yang tadi dibeli di apotik.
“Kak kenapa pakai begituan?” tanya Anneke dengan heran, kesal dan kecewa karena bakalan gagal lagi.
“Iya untuk sementara, tolong pakaikan.” Ucap Carol sambil mengulurkan alat pengaman yang sudah dikeluarkan dari bungkus nya.
Saat Anneke masih mencoba memasangkan alat pengaman pada onderdil Carol. Tiba tiba terdengar suara dering di hand phone Carol.
...
bersambung
__ADS_1