
Waktu pun terus berlalu dan Isomah mulai sibuk lagi untuk melakukan penelitian lanjutan yang akan diikut sertakan untuk lomba tingkat internasional. Penelitian sudah harus dengan uji klinis yang melewati beberapa tahap.
Orang orang kampus masih sama seperti sebelumnya sikap nya pada diri Isomah, cuek dan hanya mendiamkan saja. Hmmm mungkin masih saja mereka memandang Isomah sebagai gadis yang miskin dan jelek, meskipun memiliki kecerdasan tinggi tetap baginya Isomah adalah orang hina.
Sementara itu Dini dan teman teman nya sudah diinterogasi oleh Richardo dan hasilnya tidak ada indikasi berhubungan dengan akun pengirim foto hoax itu. Hukuman untuk Dini dan teman teman nya diserahkan pada pihak kampus. Isomah harus setuju pada saran Ibu Dosen dan Pak Dekan untuk tidak melaporkan Dini dan teman teman nya pada polisi karena alasan demi nama baik kampus.
“Diterima dengan iklas Is, saran dari Pak Dekan fakultas vokasi mu itu dan Ibu Dosen. Toh kamu sekarang sudah mendapatkan perlindungan dari Tuan Alfredo. Kalau nama baik kampus rusak, nanti mahasiswanya berkurang ke depannya. Tuan Alfredo rugi he... he..” ucap Nindy saat sudah selesai membantu Isomah melakukan penelitian di laboratorium fakultas kedokteran.
“Iya Nin, organisasi Bang Bule juga kasihan kalau harus ngurus banyak orang binaan. Aku dengar dari Tuan Richardo kondisi keuangan organisasi tidak sebagus waktu dipegang Bang Bule Vincent. “ ucap Isomah sambil membereskan alat alat laboratorium yang sudah mereka berdua bersihkan. Isomah sudah bercerita pada Nindy kalau organisasi tempat Tuan Richardo bekerja adalah organisasi milik Bang Bule pelatih ilmu bela diri mereka yang sudah kabur. Begitulah bila orang sedang dilanda rindu pasti ingin membicarakan orang yang sedang dirindukan nya pada orang yang bisa dipercaya. Ixora yang kini sedang berpenampilan sebagai Isomah pun sedang dilanda rindu pada Bang Bule.
“Aduh Is aku jadi tidak enak nih.. Tuan Richardo sudah banyak membantu biaya rumah sakit Ibu ku.” Saut Nindy yang ikut membantu Isomah membereskan alat alat laboratorium
“By the way bagaimana kamu bisa kenal dengan diri nya Is. Kaya dan keren, gila kalau aku tidak ingat diri aku bisa jatuh hati pada diri nya.” Tanya Nindy sambil menoleh menatap Isomah
“Rahasia lah bagai mana aku bisa kenal dengan dirinya.” Ucap Isomah sambil melepas jas laboratorium nya lalu dilipat dan dimasukkan ke dalam tote bag nya. Ah benar benar kantong doraemon ya Is.
“Is jangan jangan kamu jatuh hati pada Tuan Richardo. Bagaimana nasib Kak Gugun kalau tahu kamu jatuh hati pada Tuan Richardo.” Ucap Nindy yang juga melepas jas laboratorium lalu dilipat dan dipegangnya. Mereka berdua lalu keluar dari ruangan laboratorium itu. Isomah sudah mendapatkan izin bisa menggunakan laboratorium sewaktu waktu.
“Mana mungkin Nin...” ucap Isomah sambil terus berjalan
“Ooo aku tahu, kamu kenal Tuan Richardo dari Bang Bule ya...” Ucap Nindy yang berjalan di samping Isomah.
“He.. he.. Kalau aku amat amati Bang Bule tuh sangat perhatian pada kamu loh Is, dia sering curi pandang ke kamu. Aku baru tahu kalau dia itu detektif, ya baru sekarang ini, cerita dari kamu kalau organisasi Tuan Richardo itu milik Bang Bule.” Ucap Nindy lagi sambil merangkul bahu Isomah dari samping.
“Tapi dari gosip yang beredar Bang Bule sudah punya pacar Is, katanya sih pacarnya orang terkenal.” Ucap Nindy kemudian
“Iya mungkin, paling Bang Bule melihatku hanya kasihan saja karena aku selalu dibully.” Saut Isomah sambil tersenyum
“Iya Is, Tuan Richardo paling juga hanya kasihan kepada diriku. Hiks.. Orang kasta rendahan macam kita cuma dikasihani tidak boleh berharap lebih dari itu.” Ucap Nindy dengan nada sedih yang sekarang sudah melepas pelukannya pada bahu Nindy
__ADS_1
“Jangan sedih Nin, kamu manis dan cantik besok kalau kamu sudah jadi dokter pasti banyak cowok keren, tampan dan mapan jatuh hati padamu.” Ucap Isomah menghibur Nindy dan kini dia yang ganti memeluk bahu Nindy
“Ha... ha.. Iya Is, kamu juga kalau sudah jadi dokter dan jadi ahli nya ahli uang mu banyak kamu bisa oplas merubah wajah sesuka hati he... he....” ucap Nindy sambil tertawa kecil
“Udah yok.. kamu semakin ngelantur saja.” Ucap Isomah sambil menarik tangan Nindy agar berjalan lebih cepat.
Mereka pun segera melangkah meninggalkan lokasi gedung laboratorium fakultas kedokteran itu. Hari ini adalah hari Sabtu tidak banyak mahasiswa yang berada di kampus. Nindy lalu mengambil motor matic nya dan Isomah pun membonceng di motor Nindy.
Saat motor yang mereka berdua tumpangi sudah sampai di halaman gedung fakultas. Pandangan mata mereka menangkap satu sosok yang yang baru saja mereka bicarakan.
“Tuan Richardo Is.” Ucap Nindy yang lebih dulu melihat sosok Richardo karena posisi nya yang berada di depan Isomah.
Isomah hanya diam saja dia tahu hari ini adalah jadwal dia untuk berlatih menggunakan senjata api.
“Tuan Richardo.” Sapa Nindy dengan senyum lebar nya. Dan Nindy pun langsung menghentikan motor matic nya di dekat Richardo yang sedang berdiri di dekat mobil milik Richardo .
“Is, turun, salim dulu pada Tuan Richardo, sang dewa penolong kita.” Ucap Nindy lalu mematikan mesin motornya. Isomah pun segera turun dari boncengan motor Nindy dan Nindy juga segera turun dari motor nya lalu menstandarkan motor matic nya. Nindy pun segera menjabat tangan Ricardo dan berkali kali dia mengucapkan terima kasih pada Richardo.
“Nin, terima kasih ya sudah membantuku. Dan maaf aku ikut Tuan Richardo ya, ada acara penting.” Ucap Isomah sambil menatap wajah Nindy
“Is, kamu mau nge date sama Tuan Richardo ya?” bisik Nindy di telinga Isomah. Richardo yang melihat pun tersenyum simpul semakin memesona hati Nindy.
“Mari Nona Isomah.” Ucap Richardo selanjutnya
“Dan maaf Nona Nindy, senang bertemu dengan Anda semoga lain waktu bisa berjumpa lagi.” Ucap Richardo selanjutnya sambil mengulurkan tangannya untuk mohon diri. Nindy pun menerima uluran tangan Richardo sambil tersenyum kata kata Richardo mengobati kecewa hatinya karena Isomah dibawa pergi Richardo dan dia pulang seorang diri.
Sementara itu Richardo dan Isomah segera masuk ke dalam mobil. Dan mobil pun melaju meninggalkan lokasi kampus menuju ke rumah Bang Bule Vincent. Di sepanjang perjalanan bibir Richardo selalu tersenyum dan dia terus fokus pada kemudi mobilnya.
“Apa Tuan Richardo sudah mendapatkan data nomor telepon yang mengancam saya dan data pemilik akun yang memposting foto hoax?” tanya Isomah memecah keheningan dengan pandangan mata terus ke depan tanpa menoleh pada Richardo.
__ADS_1
“Maaf Nona, belum bisa saya lacak.” Jawab Richardo dengan nada penuh penyesalan
“Apa ada yang mengancam lagi atau mengganggu Nona?” tanya Richardo selanjutnya sambil sekilas menoleh menatap ke arah Isomah.
“Tidak ada lagi.” Jawab Isomah masih dengan pandangan mata lurus ke depan.
Mobil terus melaju membelah keramaian jalan raya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah Bang Bule Vincent. Jantung Isomah berdebar debar enak jika melihat rumah Bang Bule itu, rasa nya bagai melihat Bang Bule saja. Rasa rindu Ixora pun sedikit terobati jika melihat dan berada di rumah Bang Bule.
Richardo sudah menjalankan mobilnya dengan pelan pelan dan tidak lama kemudian mobil berhenti di depan bangunan gedung belakang yang digunakan untuk tempat tinggal orang orang binaan.
“Kita turun di sini Nona.” Ucap Richardo lalu mematikan mesin mobilnya. Richardo lalu membuka sabuk pengamannya dan Isomah pun juga turut serta membuka sabuk pengamannya. Mereka berdua lalu turun dari mobil setelah pintu dibuka tentunya.
Isomah berjalan di samping Richardo, mengikuti ke mana kaki Richardo melangkah. Mereka berdua berjalan menuju ke samping bangunan gedung tempat tinggal orang orang binaan.
“Meskipun leluhur Bang Bule orang Belanda, tetapi mereka membantu perjuangan pribumi untuk mendapatkan kemerdekaan. Maka rumah ini tetap menjadi milik keluarga Bang Bule.” Ucap Richardo sambil terus melangkah. Isomah hanya mengangguk angguk sebab dia sudah mendengar dari cerita Bang Bule.
Se Saat kemudian mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu yang lebar, tinggi, kuat dan kokoh. Pintu itu berdaun pintu dua buah atau istilahnya kupu tarung. Selain dikunci pintu itu juga dilengkapi dengan gembok yang besar dan kuat. Richardo mengambil anak kunci dari saku celana nya. Dia lalu membuka gembok besar itu dan setelah dia membuka kunci pintu itu.
“Tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam.” Ucap Richardo sambil membuka daun pintu. Ruangan di dalam nya tampak gelap.
“Mari Nona.” Ucap Richardo mempersilahkan Isomah masuk terlebih dulu. Isomah pun melangkah kan kaki nya masuk ke dalam ruangan itu. GELAP. Setelah Isomah masuk Richardo juga turut melangkah masuk. Dia lalu menekan saklar lampu yang letaknya tersembunyi.
BYAR
Ruangan pun kini terang dan terlihat ada anak tangga menuju ke bawah. Richardo menutup lagi pintu ruang itu tidak lupa menguncinya.
“Mari Nona, tempat latihan ada di ruang bawah tanah.” Ucap Richardo dengan sopan lalu dia mendahului menuruni anak tangga.
__ADS_1
“Bang Bule belum pernah bercerita tentang ruang ini.” Gumam Isomah dalam hati sambil mengikuti langkah kaki Richardo menuruni anak tangga. Jantung Isomah berdebar debar namun kali ini bukan berdebar debar enak, saat melihat di bawah tampak ruangan gelap hanya mendapat pantulan sinar dari lampu yang menyala di dekat pintu tadi.