
Carol yang masih duduk pun terlihat sibuk mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari nama kontak Sang rektor yang sudah tersimpan di dalam kontak hand phone nya. Setelah menemukan nama kontak sang Rektor kampus Mahardhika, Carol segera melakukan panggilan suara. Berkali kali dia melakukan panggilan suara pada nomor kontak sang rektor, namun hanya terdengar nada sibuk terus.
Carol pun segera bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan ruang bagian kemahasiswaan itu. Dia terus melangkah menuju ke tempat mobilnya terparkir.
Beberapa saat kemudian Carol sudah sampai di tempat mobilnya terparkir, dia segera membuka pintu mobilnya dan dia pun dengan cepat masuk ke dalam mobil nya. Carol segera melajukan mobilnya menuju ke gedung rektorat.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman gedung rektorat. Carol segera menuju ke tempat parkir. Dan setelahnya dia langsung keluar dari mobilnya dan dengan langkah lebarnya dia berjalan menuju ke gedung rektorat. Pegawai yang ada di gedung itu semua sudah mengenal Carol, salah satu pegawai lalu mengantar Carol menuju ke ruang kerja sang rektor.
Sesampai di depan sang Rektor, Carol segera menyampaikan maksud tujuannya agar Isomah mahasiswa fakultas kedokteran dan fakultas vokasi itu, dikeluarkan dari kampus Mahardhika. Carol beralasan karena sikap Isomah tidak terpuji sebab sudah berani pada dirinya.
“Maaf Tuan Muda, untuk masalah mahasiswa ini wewenang ada di tangan Tuan Alfredo.” Ucap Sang rektor sambil menatap Carol yang duduk di depan nya dengan jarak meja kerja nya.
“Silahkan Tuan Muda menemui Tuan Alfredo. “ ucap Sang Rektor lagi yang sudah tahu jati diri sebenarnya Isomah.
“Kenapa hanya mengeluarkan gembel saja susah sekali, aku harus berputar putar dan menemui Papa.” Ucap Carol dengan nada kesal
“Maaf Tuan, sekali lagi silahkan menemui Tuan Alfredo.” Ucap Sang rektor dengan nada sopan
“Hah! Menyebalkan.” Dengus Carol
“Siapa sih gembel itu, sudah berani menantangku dan Rektor pun takut mengeluarkan.” Gerutu Carol lalu dia segera bangkit berdiri dan lupa tidak pamit pada Sang rektor. Sang rektor pun hanya bisa geleng geleng kepala.
Carol segera berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir. Carol mengambil hand phone dari saku blazer nya. Lalu dia terlihat mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Sang Papa
“Papa sekarang di mana?” tanya Carol pada Tuan Alfredo lewat sambungan teleponnya setelah dia berada di dalam mobil nya.
“Aku akan membahas sesuatu yang sangat penting.” Ucap Carol selanjutnya
__ADS_1
“Di William Group ada meeting penting tentang bagi hasil saham. Ternyata Ixora juga sudah punya saham lumayan.” Ucap Tuan Alfredo dengan nada santai.
“Pa aku segera ke situ menyusul Papa.” Ucap Carol lalu segera memutus sambungan teleponnya.
“Apa Ixora juga ikut meeting?” gumam Carol dalam hati bertanya pada diri nya sendiri sambil menaruh hand phone nya lagi ke dalam saku blazer nya.
“Aku harus tampil fresh di depan Ixora dan calon mertua.” Ucap Carol lalu dia terlihat membuka dash board mobil nya dan mengambil satu saset tisue basah pembersih wajah, dia robek bungkus tisue basah itu, dan dengan segera dia ambil isi di dalam nya dan dia buka agar lebih lebar lalu dia basuhkan pada muka nya, dia usap usap agar wajah nya menjadi segar. Setelah selesai dia buang tisue basah bekas dan bungkus nya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam mobil nya. Dia tersenyum dan melihat wajah nya di kaca spion mobil nya.
Setelah merasa wajah nya sudah kembali segar dan tidak kusut karena kesal dengan masalah Isomah, Carol pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Dan dengan segera mobil meluncur meninggalkan halaman gedung rektorat menuju ke William Group.
Dengan bibir tersenyum berharap bisa bertemu dengan Ixora yang selalu dia rindu, Carol terus melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman gedung William Group, tentunya sudah melewati prosedur dari petugas keamanan.
Setelah turun dari mobil Carol menuju ke bagian resepsionis alias penerima tamu. Pegawai resepsionis yang cantik dan fans berat Carol sang pengacara muda itu pun lalu mengantar Carol menuju ke ruang meeting.
Saat masuk ke dalam ruangan pandangan mata Carol mencari cari sosok wajah cantik Ixora yang dia rindukan, namun tidak juga dia temukan. Di ruang meeting yang lumayan luas itu hanya ada sosok Tuan William dan Tuan Alfredo bersama satu orang karyawan pantry yang tadi membukakan pintu untuk nya. Dan karyawan pantry itu pun sekarang mengambilkan minuman buat Carol.
“Ada perlu apa?” tanya Tuan Alfredo saat Carol berjalan mendekati dirinya. Dan Carol pun duduk di samping Papanya.
“Di mana Ixora Pa?” tanya Carol dengan suara lirih sambil tersenyum lalu.
“Kamu mau mencari Papa apa Ixora. Cepat katakan apa keperluan mu!” ucap Tuan Alfredo lagi.
Carol pun lalu menyampaikan maksud kedatangannya agar Sang Papa mengeluarkan Isomah dari kampus dengan alasan sudah berani kepada dirinya.
“Tidak bisa. Dia itu mahasiswa pilihan, mahasiswa berprestasi aku baru saja mendapat informasi dia pemenang lomba penelitian itu.” Ucap Tuan Alfredo dengan santai.
__ADS_1
“Pa, tapi dia sudah berani kepada aku.” Ucap Carol dengan serius dan nada tinggi.
“Ach itu pasti kamu yang salah.” Ucap Tuan Alfredo sambil tersenyum menatap Tuan William.
“Kenapa Papa malah membantu gembel itu, jangan jangan...” ucap Carol belum berlanjut dan Tuan William bangkit berdiri, beliau merasa sedikit gerah sebab anak gadis nya yang cerdas dan cantik jelita dibilang gembel .
“Jangan jangan apa?” tanya Tuan Alfredo dan Tuan William secara bersamaan
“Jangan jangan dia juga anak hasil selingkuhan Papa, seperti Caroline tetapi karena jelek Papa sembunyikan karena Papa...” jawab Carol
Namun belum juga Carol selesai bicara.
PLAAAKKK!!!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Carol yang tadi sudah dibersihkan berkali kali.
“Aduuuuuuh!” teriak Carol sambil memegang pipi nya yang terasa sangat panas.
“Kenapa Tuan William menampar anakku?” tanya Tuan Alfredo sambil menatap wajah Tuan William yang tampak emosi.
“Maaf Tuan, saya hanya berempati pada Anda bagaimana rasa nya jika anak sudah berani menuduh orang tua nya.” Ucap Tuan William lalu menepuk nepuk pundak Carol.
“Kurang ajar dia itu, benar benar anak hasil benih ku malah dibilang anak nya Alfredo, siapa yang tidak emosi.” Gumam Tuan William dalam hati sambil mengambil air mineral.
“Kamu itu jangan sembarangan menuduh orang.” Ucap Tuan Alfredo selanjutnya sambil menatap Carol yang masih mengusap usap pipi nya.
“Sudah kamu sekarang kembali ke kantor mu!” perintah Tuan Alfredo pada Carol. Dan Carol pun bangkit berdiri lalu pamit dan berjabat tangan pada Tuan William.
__ADS_1
“Sial semua gagal, tidak bertemu Ixora malah dapat tamparan dari calon mertua.” Gumam Carol dalam hati sambil melangkah meninggalkan ruang meeting itu.