Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 21. Melepas Rindu


__ADS_3

Isomah masih saja terus berjalan, berkali kali Bang Bule menawari agar Isomah mau ikut ke dalam mobil nya akan tetapi Isomah tetap hanya menggelengkan kepalanya.


“Hmmm keras kepala juga anak itu.” Gumam Bang Bule dalam hati sambil pelan pelan menjalankan mobilnya mengikuti Isomah.


“Tinggi badannya sama dengan Ixora, postur tubuh juga mirip hanya saja Isomah memakai baju kedodoran.” Gumam Bang Bule dalam hati sambil terus mengamati postur tubuh dan cara berjalan Isomah, dia bandingkan dengan Ixora.


Akan tetapi tiba tiba di samping kanannya ada satu buah motor yang dikendarai oleh mahasiswi yang juga akan ikut berlatih turut berjalan pelan pelan.


“Kak mobilnya kenapa?” teriaknya mahasiswi yang mengendarai sepeda motor itu pada Bang Bule.


“Ga apa apa, hanya tidak bisa jalan cepat saja..” jawab Bang Bule sambil menoleh ke arah kanan untuk melihat yang bertanya lewat kaca jendela mobil yang sudah terbuka sejak tadi.


“Ooooo” gumam mahasiswi itu dan dia pun ikut melajukan motornya dengan pelan pelan di samping mobil Bang Bule.


Dan tidak lama kemudian ada mobil yang dikendarai mahasiswi teman gadis yang naik motor itu. Dia pun bertanya kenapa mobil Bang Bule berjalan pelan pelan. Dan dijawab dengan jawaban yang sama. Akhirnya dia pun juga memperlambat laju mobilnya dan berjalan di belakang mobil Bang Bule. Dan begitu seterusnya akhir bagai arak arakan mobil dan motor berjalan di belakang Isomah.


Bang Bule pun mengeryitkan dahinya saat melihat dari kaca spion mobil mobil dan motor motor mengikuti dirinya berjalan pelan pelan.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di lokasi fakultas kedokteran. Halaman kampus yang luas akan mereka gunakan untuk latihan.


Setelah mereka semua berkumpul, mereka berdiri melingkar dan Bang Bule berdiri di tengah tengah. Bang Bule pun mencari cara bagaimana bisa mendengarkan suara Isomah.


“Sebelum latihan kita mulai kita berkenalan dulu.” Ucap Bang Bule dengan lantang. Dan selanjutnya dia yang mengawali perkenalannya.


“Namaku Vincent Van Jansen. Biasa dipanggil Bang Bule. Nama orang tuaku Jansen mereka tinggal di negeri Belanda sejak aku masih SMA.” Ucap Bang Bule mulai mengenalkan dirinya.

__ADS_1


Dan selanjutnya secara bergilir mereka para peserta mengenalkan dirinya. Dan akhir nya tiba giliran Isomah untuk mengenalkan dirinya. Isomah berdebar debar jantungnya, demikian juga Bang Bule pun yang menunggu keluarnya suara Isomah berdebar debar pula.


“Namaku Isomah, nama orang tua Wagiman. Saya biasa dipanggil...” suara Isomah tidak berlanjut sebab ada yang memotong kalimatnya.


“ISOMAN...” teriak salah satu dari mereka yang memotong kalimat Isomah.


“Ha... ha... ha... ha... ha...” suara tawa yang lainnya


“Diam semua!” bentak Bang Bule pada mereka


“Tidak ada yang lucu, apa lagi menertawakan nama orang!” teriak Bang Bule sambil menatap tajam pada mereka yang menertawakan Isomah terutama yang memotong kalimat Isomah.


Bang Bule kesal karena dia sedang mendengarkan suara yang dia tunggu tunggu malah mendapat gangguan.


“Ihhh pasti Isoman itu seneng dibelain Bang Bule, pasti nanti besar kepala dia.” Bisik salah satu dari mereka


“Diam semua tidak usah kasak kusuk.” Ucap Bang Bule dan selanjutnya dia mengawali latihannya dengan pembukaan pemberian petuah petuah tujuan ilmu bela diri. Untuk melindungi diri dan untuk membantu sesama, melindungi yang lemah dari kejahatan atau hal hal yang mengancam suatu keamanan dan kedamaian. Bang Bule pun mencontohkan perbuatannya menghina Isomah berlawanan dengan tujuan dari ilmu bela diri.


Setelah memberi petuah petuah, Bang Bule menyuruh mereka melakukan pemanasan dengan berlari mengitari halaman kampus yang luas.


Para mahasiswi yang tujuannya hanya untuk kepo dan mendekati pelatih bule keren, sudah mulai terlihat kelelahan dan malas malasan. Sedangkan Isomah masih terlihat kuat dan bugar karena selain sudah melakukan latihan privat sebelumnya dia pun beberapa hari belakangan selalu berjalan kaki bolak balik kampus dan kost.


Bang Bule terus saja mengamati Isomah dari gestur tubuh dan suara yang sudah begitu dia hafal. Bang Bule yakin jika Isomah itu adalah Ixora. Bang Bule pun terlihat lega.


Latihan demi latihan pun berlangsung lancar hingga usai, tidak ada lagi anggota yang menertawakan Isomah di saat latihan. Namun entah setelahnya, saat tidak ada Bang Bule.

__ADS_1


Sementara itu Bang Bule sambil melap keringat di wajah, leher dan lengannya dengan handuk kecil. Dia terus berpikir bagaimana caranya agar bisa mengajak Isomah ikut naik di mobilnya.


Sementara itu Isomah setelah menegak air mineral yang sudah dia bawa dari rumah kost nya. Lalu segera bersiap siap untuk meninggalkan lokasi tempat latihan. Dan sesaat kemudian Isomah sudah melangkahkan kakinya.


Bang Bule sejak tadi berpikir pikir dan terus mengawasi Isomah. Saat melihat Isomah melangkah.


“Hmmm aku ikuti jalan kaki saja biar mobilku di sini dulu.” gumam Bang Bule dalam hati dan mulai melangkahkan kakinya pula.


Beberapa mahasiswa juga sudah meninggal lokasi tempat latihan. Hanya beberapa mahasiswi pengincar Bang Bule masih nongkrong nongkrong, mereka menunggu Bang Bule pulang. Mereka masih melihat mobil Bang Bule terparkir jadi mereka mengira Bang Bule masih berada di tempat itu. Karena asyiknya ngobrol mereka tidak menyadari Bang Bule sudah melangkah jauh mengikuti Isomah.


Isomah yang merasa langkahnya diikuti oleh seseorang, dia lalu mempercepat langkahnya. Akan tetapi saat sudah keluar dari pintu gerbang kampus dan mulai masuk di jalan yang menuju ke rumah kost nya.


“Beb...” suara Bang Bule yang kini sudah berada di samping Isomah telapak tangan Isomah pun sudah digenggam erat oleh Bang Bule. Bang Bule merasakan telapak tangan Isomah yang dingin.


“Aku sudah tahu kamu adalah Ixora.” Ucap Bang Bule selanjutnya.


“Bang...” suara lirih Isomah yang juga turut menggenggam telapak tangan kekar Bang Bule. Mereka berdua saling menggenggam telapak tangan untuk melepas rindu. Mereka berdua berjalan menuju ke rumah kost.


Akan tetapi dari depan tampak ada satu orang penghuni kost di mana Isomah tinggal, berjalan menuju ke arah mereka berdua. Isomah segera tersadar akan bahaya yang mengancam dan dengan cepat menarik telapak tangannya dari genggaman Bang Bule. Mereka berdua pun menghentikan langkahnya.


“Bang Bule balik saja sana, nanti kalau anak itu cerita ke penghuni kost dan juga pada Bunda Naura, bahaya Bang.” Ucap Isomah dengan nada sangat kuatir.


“Bunda Naura pasti disuruh Mama mengawasi aku agar tidak bisa bertemu dengan Bang Bule.” Ucapnya lagi.


“Iya iya Beb.. tapi jangan di off terus hand phone kamu.” Ucap Bang Bule dan Isomah mengangguk dengan ragu sebab hand phone nya disadap oleh Mamanya.

__ADS_1


“Baiklah aku balik. Aku akan cari cara agar kita bisa bertemu selain di tempat latihan.” ucap Bang Bule sambil menatap manik manik mata Ixora yang terhalang oleh kaca mata tebal. Akan tetapi sinar pancaran cinta tetap bisa menerobos penghalang itu dan Bang Bule pun menangkapnya dan menyimpan rapat rapat di lubuk hati yang paling dalam.


__ADS_2