
“Is.....” teriaknya lagi dan tidak lama kemudian ada motor yang berhenti di dekat Isomah berdiri.
“Is, kamu mau ke mana? kayak capek banget kamu.” Ucapnya selanjutnya sambil menoleh ke arah Isomah.
“Nin, kamu kok bisa di sini?” ucap Isomah balik bertanya pada Nindy teman kampus nya.
“Ini kan jalan yang aku lewati pulang dan pergi ke kampus.” Jawab Nindy lalu dia mematikan mesin motor matic nya.
“O ya Is, aku turut sedih dan prihatin dengan masalah yang menimpa diri mu. Besok kalau kamu ke kampus harus siap mental untuk mendapatkan hinaan, makian dan umpatan. Tadi orang orang sudah heboh membicarakan dirimu dan mereka percaya pada komentar komentar yang mengatakan kamu plagiat. “ ucap Nindy dengan nada serius.
“Dan aku pulang dari kuliah tadi si primadona kampus semakin memrovokasi.” Tambah nya lagi
“Iya Nin aku ini baru mencari lembaga bantuan hukum.” Ucap Isomah dengan nada sedih sebab hingga siang hari belum mendapatkan lembaga bantuan hukum yang mau membantu kasus nya.
“Kasihan kamu Is, nanti aku antar kamu. Tapi yuk pulang ke rumahku dulu, kita makan dulu, aku lapar kamu juga istirahat dulu.” Ucap Nindy yang turun dari motor dan membuka jok motor nya untuk mengambil helm buat Isomah.
“Rumahku tidak jauh dari sini.” Ucap Nindy selanjutnya sambil memberikan helm pada Isomah
“Tapi Nin, aku terburu buru aku belum mendapatkan lembaga bantuan hukum yang mau membantu kasus ku. Padahal waktu yang diberikan oleh panitia lomba tidak lama.” Ucap Isomah belum mau menerima helm dari Nindy.
“Sudah, ayok makan dulu, jam segini orang orang kantoran juga sedang istirahat.” Ucap Nindy sambil memasangkan helm di kepala Isomah
“Nanti aku ngebut dech ngantar kamu nya.” Ucapnya selanjutnya sambil naik ke atas motornya.
__ADS_1
Akhirnya Isomah pun menerima tawaran dari Nindy temannya itu. Teman yang dulu juga menolongnya saat dia ditabrak oleh Carol.
Setelah Isomah naik ke atas jok boncengan motor Nindy. Motor terus berjalan dan selanjutnya belok ke dalam suatu jalan yang kecil, motor terus menyusuri jalan yang kecil itu.
Hati Isomah semakin tidak tenang, tadi dia pikir rumah Nindy benar benar dekat tidak jauh dari tempat kantor lembaga bantuan hukum ternyata harus menyusuri jalan kecil yang jauh berbelok belok.
Dan tidak lama kemudian motor berhenti di depan rumah kecil sederhana, rumah yang tanpa halaman dan pagar apalagi pintu gerbang.
“Turun Is, ini rumahku. Aku harus menaruh motor ku mepet di dinding rumahku itu. Kalau ditaruh di jalan mengganggu orang.” Ucap Nindy setelah menghentikan motornya.
Isomah sedikit tertegun melihat rumah Nindy yang sangat sederhana berbanding terbalik dengan mansion milik Papanya.
Sedangkan Nindy turun dari motor dan terlihat sibuk mengatur motornya agar pada posisi yang tepat tidak mengganggu orang lain yang lewat.
“Ayo Is masuk.” Ajak Nindy selanjutnya sambil berjalan menuju ke pintu rumahnya. Isomah pun mengikuti langkah kaki Nindy.
“Kita langsung makan saja ya Is.” Ucap Nindy yang langsung mengajak Isomah terus ke dalam.
“Kamu tinggal dengan siapa Nin?” tanya Isomah yang penasaran.
“Sama Ibu ku dan kedua adikku. Ibuku kerja di pabrik habis maghrib baru pulang. Adikku yang satu sekolah belum pulang, yang satunya lagi pulang sekolah di tetangga paling sebentar juga datang kalau aku sudah di rumah.” Jawab Nindy sambil mengambil piring di rak rak an.
“Bapakku sudah meninggal Is. Aku dapat beasiswa dari kampus Mahardhika. Mana mungkin orang macam kita bisa kuliah di kampus keren kalau tidak dapat beasiswa. “ ucap Nindy sambil menaruh piring di meja makan dan selanjutnya mengajak Isomah segera makan.
__ADS_1
Nindy pun sama seperti Carol dan orang orang lain nya mengira Isomah masuk di kampus Mahardhika karena mendapat beasiswa.
Beberapa saat kemudian, benar , muncul seorang anak masih berpakaian seragam merah putih dan juga segera ikut makan setelah berkenalan dengan Isomah. Makanan yang ada di meja makan sudah dingin hanya nasi saja yang hangat karena di taruh di magic com. Seperti nya Ibu nya Nindy menyiapkan makanan sejak pagi sebelum berangkat kerja.
“Nin, terima kasih ya aku sudah diberi makan. Lebih baik aku naik ojek on line saja untuk mencari lembaga bantuan hukum. “ ucap Isomah setelah mereka selesai makan. Isomah tidak tega hati jika merepotkan Nindy. Apalagi jika ada yang tahu kalau Nindy membantu dirinya bisa dilaporkan pada Carol dan beasiswa Nindy dicabut.
“Aku antar Is, tenang saja bensinku masih banyak kok.” Ucap Nindy sambil mengambil kunci motor dan kunci pintu nya.
“Adikku biar di tempat tetangga lagi mereka masih saudara almarhum bapak, sudah biasa seperti itu, daripada kalau sendiri di rumah takut kenapa napa.” Ucap Nindy yang tetap ingin membantu Isomah. Mereka bertiga pun sudah keluar dari rumah. Nindy segera menutup pintu rumah nya, lalu dia memberikan kunci rumah ke pada adiknya yang sudah berganti baju.
“Sudah ayo! Keburu sore, kantor nya tutup. Kamu mau ke kantor lembaga bantuan hukum di mana?” tanya Nindy pada Isomah. Dan akhirnya Isomah pun tidak bisa menolak bantuan Nindy. Dia hanya berharap tidak ada orang kampus yang melihat nya.
Motor terus melaju menuju kantor lembaga bantuan hukum yang ke tiga yang akan didatangi oleh Isomah. Isomah berharap agar kantor yang ke tiga mau membantu nya.
Akan tetapi....
Setelah sampai di kantor lembaga bantuan hukum yang ke tiga, hasilnya sama saja, kantor itu juga menolak kasus Isomah. Isomah terlihat sangat sedih. Air mata pun mulai menggenang di mata nya.
“Ayo Is kita cari kantor lembaga bantuan hukum yang lain.” Ucap Nindy sambil mengulurkan tangannya memberikan helm kepada Isomah.
“Kalau semua kantor lembaga bantuan hukum tidak mau membantu harus ke mana aku mencari bantuan.” Gumam Isomah dalam hati sambil menerima helm dari Nindy.
Motor terus melaju menuju kantor lembaga bantuan hukum yang ke empat yang akan di tuju oleh Isomah. Kali ini Isomah sudah sangat lelah dan harapan Isomah untuk mendapatkan bantuan pun semakin menipis setelah tiga kantor lembaga bantuan hukum menolak memberikan bantuan pada kasusnya.
__ADS_1
Dan benar kantor ke empat pun menolak. Mereka berdua masih mencoba peruntungan untuk mendatangi kantor ke lima.
“Semoga kantor ke lima mau membantu mu, Is.” Ucap Nindy dengan suara keras sambil melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar waktu agar kantor tidak keburu tutup. Sebab kini hari sudah mulai sore.