
Saat Isomah sudah akan membatalkan panggilan telepon nya pada Nindy dan dia akan membuka pesan chat yang tampaknya sudah mendapatkan balasan dari panitia lomba penelitian.
Akan tetapi tiba tiba
“Is.. maaf ya aku tidak bisa membantumu.” Suara Nindy yang sudah menerima panggilan suara dari Isomah. Nindy mengira Isomah menghubungi nya karena minta diantar lagi.
“Iya Nin tidak apa apa aku cuma mau menanyakan kabarmu kok kamu tidak ada di kampus hari ini.” Ucap Isomah yang belum jadi memberi tahu berita baik diri nya.
“Iya Is, tadi pagi Ibu ku sakit, aku bawa ke puskesmas ternyata di rujuk ke rumah sakit. Aku tidak sempat izin dan mengabari kamu takut kamu tambah kepikiran , karena kamu juga memiliki masalah yang berat.” Ucap Nindy yang ternyata malah belum tahu pengumuman dari putra pemilik kampus.
“Bagai mana juga dengan kabar kamu?” tanya Nindy selanjutnya
“Di rumah sakit mana Nin?” ucap Isomah balik bertanya dan belum menjawab pertanyaan dari Nindy karena Isomah sangat khawatir dengan keadaan keluarga Nindy.
“Nanti kalau sudah selesai urusanku aku akan ke sana.” Ucap Isomah selanjutnya. Dan setelah Isomah mendapatkan jawaban dari Nindy di mana rumah sakit tempat Ibu nya di rawat , Isomah memutus sambungan panggilan suara nya.
Setelah sambungan teleponnya dengan Nindy terputus Isomah segera membuka pesan chat balasan dari panitia lomba. Setelah membaca balasan pesan chat itu bibir Isomah tersenyum. Sebab panitia lomba hanya membutuhkan surat keterangan resmi jika bukti yang dikirimkan pelapor itu hanya hoax hasil editan saja. Dan tentang penangkapan pelaku itu menjadi urusan Isomah pihak korban.
Isomah pun segera mengirimkan surat keterangan dari Richardo ke pada panitia lomba.
Dan tidak lama kemudian ada pesan balasan lagi dari panitia lomba.
“Terima kasih atas surat keterangan yang anda kirimkan kami akan segera mempelajari tentang kevalidan surat itu. Dan akan segera kami informasikan hasil nya.”
__ADS_1
Setelah selesai membaca pesan chat balasan itu hati Isomah lega akan tetapi dia pun tidak sabar untuk menunggu keputusan final nya. Isomah segera menaruh hand phone nya dan dia akan pergi ke kamar mandi dan ingin segera beristirahat untuk mengisi perutnya.
Beberapa menit kemudian saat Isomah sudah selesai makan, telinganya mendengar suara ketukan pintu.
“Siapa ya..” gumam Isomah sambil bangkit berdiri. Isomah pun segera melangkahkan kaki nya menuju ke arah pintu kamarnya yang masih diketuk ketuk. Dengan pelan pelan Isomah memutar handel pintu kamar nya dan pelan pula menarik daun pintu itu.
“Bun..” ucap Isomah saat melihat ada sosok Bunda Naura di balik pintu.
“Ada tamu Is, cepat kamu temui, dia menunggu di ruang tamu.” Ucap Bunda Naura dan masih berdiri.
“Baik Bun.” Ucap Isomah dan dia segera melangkah keluar dari pintu kamar kost nya sambil tangannya menutup pintu kamar itu. Bunda Naura pun lalu melangkah mengikuti Isomah dari belakang.
Saat keluar dari kamar Isomah melihat ada mobil parkir di jalan di depan rumah kost nya. Namun dia tidak tahu itu mobil siapa. Isomah terus melangkah menuju ke ruang tamu yang lokasi nya terpisah dari kamar kamar kost. Bunda Naura pun juga masih melangkah yang kini sudah berjalan di samping Isomah.
Beberapa saat kemudian mereka berdua pun sudah berada pintu depan ruang tamu, Bunda Naura melangkah masuk lebih dulu dan Isomah melangkah kemudian di belakang Bunda Naura.
“Tuan Richardo.” Ucap Isomah saat melihat Richardo sudah duduk di kursi tamu. Richardo pun tersenyum manis pada Isomah.
“Maaf Tuan saya belum membalas pesan chat Tuan, karena masih menunggu informasi dari panitia lomba dan setelah saya mendapat informasi saya makan ... “ ucap Isomah sambil tersenyum dan lantas dia pun duduk di kursi. Bunda Naura yang mendapat mandat dari Nyonya William untuk mengawasi Ixora pun turut duduk di kursi tamu itu.
“Iya Nona tidak apa apa. Ini surat saya bawa.” Ucap Richardo sambil mengulurkan sebuah amplop coklat yang berisi surat keterangan. Richardo bisa tahu tempat Isomah dari data di berkas Isomah. Di samping itu dia juga bisa melacak keberadaan Isomah dari nomor hand phone Isomah.
“Saya juga akan memberikan jadwal latihan pada Nona.” Ucap Richardo lagi sambil mengambil lipatan kertas yang dia taruh di saku kemejanya. Dan seterusnya dia serahkan lipatan kertas itu pada Isomah.
__ADS_1
Isomah yang sedang tersenyum membaca surat keterangan dari amplop coklat. Mendadak kaget saat Richardo mengatakan jadwal latihan.
“Ini mandat dari Nona Alexandria.” Ucap Richardo lagi sambil masih tangan nya terulur menyerahkan lipatan kertas itu.
“Oo iya.” Ucap Isomah yang teringat akan usulan dari Kakak nya lalu dia menerima lipatan kertas dari tangan Richardo. Setelah membuka lipatan kertas itu Isomah membaca dan memilih waktu yang tidak berbenturan dengan jadwal kuliah nya.
“Syukurlah Is jika masalahmu sudah bisa teratasi.” Gumam Bunda Naura setelah ikut membaca surat keterangan dari Richardo.
“Baiklah kalau begitu saya pamit.” Ucap Rchardo selanjutnya sambil bangkit berdiri dan setelah berjabat tangan dengan Isomah dan Bunda Naura, Richardo pun melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu itu.
Sementara itu Isomah dan Bunda Naura masih berada di dalam ruang tamu.
“Bun saya akan ke rumah sakit.” Ucap Isomah kemudian sekalian dia mohon izin pada Bunda Naura untuk menyempatkan waktu menengok Ibu nya Nindy.
“Siapa yang sakit?” tanya Bunda Naura.
Sementara itu Richardo yang belum jauh melangkah mendengar suara Isomah akan ke rumah sakit, lantas dia menghentikan langkahnya dan selanjutnya mendengarkan pembicaraan Isomah dan Bunda Naura.
Richardo melangkahkan kaki dengan pelan pelan dengan maksud dia menunggu Isomah keluar dari ruang tamu itu.
Saat Richardo masih berjalan dengan pelan pelan, beberapa penghuni kost yang lewat baru pulang dari kampus nya atau baru keluar dari kamar nya entah mau kemana, mereka semua menoleh dan terpesona pada wajah tampan Richardo yang bagai oppa oppa korea idola mereka.
“Ihhh gila keren abis kok bisa bisa nya kost kita kemasukan makhluk ginian.” Gumam lirih satu dari mereka sambil mata terus memandang sosok Richardo yang berjalan pelan menuju ke pintu pagar.
__ADS_1
Dan sesaat kemudian Isomah pun keluar dari pintu ruang tamu. Isomah berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil tote bag dan segala isinya. Dia tidak memedulikan siapa pun dia ingin cepat cepat menuju ke rumah sakit.
Saat Isomah sudah keluar lagi dari kamar nya dan siap akan berangkat menuju ke rumah sakit dia melihat mobil Richardo masih terparkir di depan rumah kost nya. Richardo pun masih berdiri di sana di samping mobil nya. Sementara penghuni kost lainnya juga masih berdiri di halaman memandang Richardo.