
“Sapu sialan, sudah berat masih juga bikin sakit tangan ku jadi bengkak dan rasanya nyut nyut. Sakitnya minta ampun.” Gerutu Nency masih memegangi jari telunjuk nya yang bengkak sambil menatap sapu yang dia lempar.
“Kalajengking!” Teriak Nency saat melihat di gagang sapu kirinya ada hitam hitam bergerak gerak dan ternyata itu adalah binatang serangga kala jengking yang sudah menyakiti jari telunjuk tangannya.
Sementara itu Richardo dan Isomah yang sudah berada di dalam mobil tidak mendengar teriakan Nency dan juga posisi Nency agak jauh dari mereka.
Richardo langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu. Dia melirik sekilas ke arah Isomah yang sedang sibuk dengan hand phone nya. Isomah sudah mengirim foto yang baru saja tadi dia abadikan kepada Bang Bule dan juga Alexandria kakak nya. Bang Bule sudah membuka foto kiriman nya akan tetapi belum memberi kan komentar dan balasan. Sedang kan yang untuk Alexandria sang kakak masih centang satu.
Mobil terus melaju saat sampai di halaman dekat area teras rumah Bang Bule. Tampak seorang wanita cantik. Wanita cantik itu berlari lari dari teras rumah Bang Bule dan dengan cepat menuruni anak tangga lalu menghentikan mobil Richardo.
Richardo pun menghentikan mobilnya.
“Ada apa Nona Eveline?” tanya Richardo setelah dia menurunkan kaca jendela mobil nya sambil menoleh ke arah Eveline yang berjalan dengan cepat menuju ke arah nya.
“Tuan Richardo, saya baru saja mendapat perintah dari Bang Bule lewat pesan chat.” Ucap Eveline saat sudah berdiri di samping mobil Richardo dan tepatnya di samping jendela mobil Richardo.
Isomah yang mendengar nama Bang Bule disebut oleh seorang wanita cantik pun lantas ikut menoleh ke arah Eveline. Dia pun pemasaran Bang Bule kirim pesan chat apa pada wanita cantik itu.
“Perintah apa? Bukan nya sekarang aku pimpinan nya.” Ucap Richardo sambil menatap ke arah Eveline.
“Saya yang diperintahkan untuk melatih Nona I.. Isomah.” Jawab Eveline sambil menatap wajah Isomah dengan tajam bagai pandangan mata nya untuk mencari wajah asli Ixora sebab dia pun sudah tahu siapa sejati nya wanita cupu dan jelek di samping Richardo itu.
“Nanti aku hubungi Bang Bule dulu.” Ucap Richardo selanjutnya. Dia yang sudah tahu jika Eveline menaruh hati pada Bang Bule, tampak ada rasa khawatir jika Eveline berbuat jahat pada Ixora karena rasa iri dan cemburu. Dan juga Richardo sudah mendapat tugas langsung dari Alexandria yang memberi bayaran lumayan banyak.
“Apa Tuan Richardo tidak percaya. Ini pesan chat perintah nya.” Ucap Eveline sambil mengulurkan tangannya yang memegang hand phone nya.
“Percaya Nona Eveline.” Saut Richardo dan tidak mau menerima hand phone Eveline.
“Maaf saya harus segera mengantar Nona Isomah.” Ucap Richardo kemudian dengan nada sopan. Richardo pun segera menutup kaca jendela mobilnya setelah Eveline menarik tangannya yang tadi mengulurkan hand phone nya.
Richardo segera menjalankan lagi mobil nya dan meninggalkan Eveline yang masih berdiri di halaman rumah Bang Bule Vincent.
“Apa Nona Eveline juga sudah ahli dalam menembak?” tanya Isomah yang kini menoleh ke arah Richardo yang masih fokus mengemudikan mobil nya di samping itu Richardo pun masih memikirkan perintah Bang Bule pada Eveline. Selain dia khawatir dengan keselamatan Ixora di sebagian hatinya dia pun tidak rela kehilangan kesempatan untuk berdua dengan Ixora meskipun dengan penampilan sebagai Isomah nya.
“Tuan.” Ucap Isomah saat Richardo belum menjawab pertanyaan nya.
“Hmmm.” Gumam Richardo yang bingung akan menjawab apa.
__ADS_1
“Lebih ahli Anda, Nona baru pertama latihan langsung tepat sasaran.” Ucap Richardo selanjutnya sambil tersenyum dan sekilas menoleh menatap Isomah.
“Aih itu hanya kebetulan saja karena aku kesal dengan Kak Carol, aku kesal dengan perjodohan.” Ucap Isomah yang kini kepala nya sudah menghadap ke depan dan ekspresi wajah nya tampak kesal.
“Nona, bagaimana jika Bang Bule menetap tinggal di sana dan tidak lagi kembali ke sini?” tanya Richardo yang sudah lama menanti nanti kesempatan untuk bisa menanyakan hal itu.
“Tidak mungkin. Bang Bule pasti akan kembali lagi ke sini. Andai dia akan menetap di Belanda, dia akan menjemputku kelak saat aku sudah lulus kuliah. “ ucap Isomah dengan nada serius dan penuh keyakinan.
“Semoga Bang Bule cinta sejati ku.” Ucap Ixora selanjutnya dengan tatapan mata yang menerawang jauh.
“Amiennn.” Ucap Richardo dengan berat hati.
Mobil terus melaju, Richardo pun hanya diam setelah mengamini ucapan dari Ixora. Suasana hening di dalam mobil yang terus melaju membelah jalan raya yang semakin ramai lalu lintas nya menjelang malam Minggu.
Sementara itu di tempat lain, di mansion Willam. Nyonya William sudah sejak tadi menunggu kedatangan Ixora yang sudah dijemput oleh Pak Wagiman. Hingga Tuan William pulang dari kantor William Group, Pak Wagiman belum juga bisa membawa pulang Isomah.
“Mungkin Ixora masih ada jadwal penelitian Ma.” Ucap Tuan William yang juga duduk di sofa di dalam ruang keluarga sambil menyesap kopi pahit dari cangkir nya.
“Tidak, tadi aku sudah menghubungi Ibu Dosen lewat nomor hand phone Pak Wagiman. Dan Ixora sudah selesai siang tadi.” Ucap Nyonya William lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa agar pikirannya lebih rileks. Sebab dia sudah minum teh herbal yang untuk menenangkan pikiran tapi masih saja dia gelisah karena memikirkan Ixora yang belum juga sampai di mansion Willam .
“Iya dong biar mereka semakin dekat.” Jawab Nyonya William sambil menatap suaminya.
“Ma.. sepertinya Carol bukan cinta sejatinya Ixora. Hmmm, Ixora bukan cinta sejatinya Carol.” Ucap Tuan William yang sejak awal mendukung Ixora menyamar menjadi Isomah salah satu tujuannya untuk menguji cinta laki laki pada anak gadis nya itu.
“Papa kok bisa menilai seperti itu?” tanya Nyonya William dengan ekspresi wajah dan nada suara kaget tidak lupa menatap tajam wajah suaminya.
“Aku lihat dan dengar sendiri bagaimana Carol sangat membenci Ixora yang tampil sebagai Isomah.” Jawab Tuan William yang tidak terus terang jika dia pun sampai menampar Carol yang sudah mengira Isomah anak Tuan Alfredo dengan selingkuhannya.
“Ya, kan karena Ixora jadi jelek mana suka laki laki dengan penampilan Isomah seperti itu.” Ucap Nyonya William yang memaklumi sikap Carol yang membenci Isomah.
“Tapi kalau Carol benar benar cinta sejati Ixora, pasti Carol tetap merasakan chimestri nya.” Ucap Tuan William yang kini sudah tidak respek lagi pada Carol yang mengatakan Isomah dengan sebutan gembel.
“Ah ga paham aku Pa, pokoknya jangan sampai Ixora dapat Bule itu.” Ucap Nyonya William yang tampak mengerutkan dahi nya.
“Kalau cinta sejati Ixora bukan Carol semoga saja juga bukan Bule itu. Terus bagaimana dengan saham Tuan Alfredo kalau ditarik dari William Group Pa.” Ucap Nyonya William selanjutnya dan tampak Tuan William pun berpikir keras bagai mana jika Tuan Alfredo menarik saham nya. Saat Tuan William tangannya terulur untuk mengambil lagi cangkir kopi nya yang masih tersisa separuh.
Tiba tiba...
__ADS_1
“Sama aku saja Ma..” suara cempreng Dealova yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruang keluarga itu. Dan langsung mengambil tempat duduk di samping Sang Mama yang duduk di sofa panjang.
“Hah? Kamu itu tahu apa datang datang langsung nimbrung.” Ucap Sang Mama sambil menimpuk paha Dealova dan Dealova pun hanya tertawa.
Sesaat kemudian hand phone Nyonya William yang berada di atas meja berdering. Dealova dengan cepat memajukan badannya dan melihat siapa yang sudah menghubungi Sang Mama.
“Suami kedua Ma.” Ucap Dealova sambil tersenyum. Tuan dan Nyonya William pun langsung melotot matanya menatap Dealova.
Nyonya William segera meraih hand phone nya. Akan tetapi sebelum Nyonya William menggeser tombol hijau.
“Mana! Berikan padaku!” pinta Tuan William sambil mengulurkan tangannya untuk meminta hand phone isteri nya.
“Mau bicara sama madunya.” Ucap Dealova sambil tersenyum lalu menutup mulut dengan telapak tangannya.
“Bukan madu tapi Olie bekas.” Ucap Tuan William sambil menggeser tombol hijau. Dan Dealova pun tertawa sementara Nyonya William penasaran menunggu berita dari Pak Wagiman.
“Tuan apa Tuan mencari olie bekas?” suara Pak Wagiman yang tadi sempat mendengar suara Tuan William saat menggeser tombol hijau.
“Kamu di mana dan mana Ixora?” tanya Tuan William dan mengabaikan pertanyaan Pak Wagiman.
“Saya sudah di jalan. Nona Ixora baru saja pulang diantar seorang pemuda tampan rupawan. Bukan Bule itu maupun Tuan Muda Carol. Nona Ixora tidak bisa pulang ke mansion Tuan, masih ada kegiatan kampus besok pagi.” Jawab Pak Wagiman diiringi ramainya suara suara kendaraan yang lalu lalang di jalan.
“Siapa yang mengantar Ixora dan dari mana dia?” tanya Tuan William penasaran dan khawatir.
“Tidak tahu namanya, tapi kata Bunda Naura dia orang yang sudah menolong Nona. Aman Tuan orang baik baik.” Jawab Pak Wagiman dengan nada serius
“Ya sudah.” Ucap Tuan William yang sudah percaya dengan Bunda Naura sahabat baik adik nya.
“Saya boleh kembali ke mansion dan tidak dimarah ya Tuan.” Ucap Pak Wagiman takut takut.
“Hmmm.” Gumam Tuan William lalu memutus sambungan telepon nya.
“Pa kok sudah diputus, mana Ixora.” Teriak Nyonya William saat Tuan William menyerahkan hand phone nya.
Akan tetapi sesat kemudian terdengar lagi suara dering di hand phone Nyonya William.
“Nyonya Alfredo. “ gumam Nyonya William saat melihat di layar hand phone nya tertera nama kontak Nyonya Alfredo melakukan panggilan suara. Tampak ekspresi wajah Nyonya William menegang.....
__ADS_1