
Ixora tidak sabar menunggu semua program di dalam hand phone nya itu aktif. Dia kuatir jika sang perawat keburu terbangun dan melihat tempat pembaringannya kosong, lalu mencari dirinya sebelum dia bisa menghubungi Bang Bule.
Dan sesaat kemudian program sudah aktif dan ada notifikasi pesan teks di aplikasi chatting nya. Ixora langsung membuka dan membacanya. Setelah membaca pesan dari Bang Bule. Ixora pun langsung menekan tombol simbol kamera video. Dia akan melakukan panggilan video untuk Bang Bule. Rasanya sudah begitu rindu untuk melihat wajah keren Bang Bule bukan wajah topeng seorang Kakek yang sering dilihatnya. Dia pun juga ingin memperlihatkan wajah aslinya pada Bang Bule Sayangku.
“Kok tidak aktif hand phone Bang Bule?” tanya Ixora pada dirinya sendiri.
“Nyuruh nyuruh menghubungi katanya penting, tahunya hand phone off.” Gumam Ixora selanjutnya
Ixora pun lalu segera membuat pesan suara untuk Bang Bule Sayangku.
“Bang aku sudah menghubungi tapi hand phone Bang Bule off"
Ting pesan terkirim dan hanya centang satu.
Saat Ixora akan mengetik pesan teks dengan jari jari tangan kirinya. Tiba tiba..
TOK.. TOK... TOK...
“Nona Ixora... apa memerlukan bantuan saya?” suara sang perawat di balik pintu.
“Tidak Sus..” jawab Ixora dengan suara agak keras.
“Nona tangan kanan jangan dipakai untuk bergerak lebih dulu.” Teriak suara sang perawat lagi
“Iya Sus..” ucap Ixora lalu dia menon hand phone nya lagi batal mengetik ngetik pesan untuk Bang Bule.
“Nona saya tunggu di depan pintu, Nona panggil saya jika memerlukan bantuan.” Ucap sang perawat dengan suara keras lagi.
Ixora lalu menaruh lagi hand phone nya di dalam buku, dan dia bangkit berdiri lalu berjalan ke luar dari kamar mandi.
“Kamu mengganggu saja, aku mau belajar. Belajar malam malam sambil duduk di kloset cepet masuk ke dalam otak.” Ucap Ixora bohong saat sudah membuka pintu
“Oh maaf Nona, saya kira Nona buang air.” Ucap Sang perawat. Lalu mereka berdua kembali berjalan menuju ke tempat tidurnya Ixora. Sang perawat turut membantu letak tubuh Ixora di tempat tidur dan setelah semua okey baru dia kembali ke tempat tidurnya sendiri.
Waktu pun terus berlalu dan pagi hari pun tiba. Bang Bule membuka matanya.
“Hah? Aku tertidur hingga pagi.” Ucap Bang Bule yang tadi malam memang tertidur karena kecapekan akibat otaknya berpikir keras.
__ADS_1
Tangan Bang Bule meraih hand phone yang ada di atas tempat tidur yang sejak tadi malam dia sanding karena dia sangat menunggu panggilan dari Ixora.
“Sial.” Umpat Bang Bule yang melihat hand phone nya mati. Mati secara otomatis karena batere habis. Bang Bule lalu berjalan menuju ke tempat stop kontak dan dengan segera dia mengisi energi listrik pada hand phone nya itu.
Bang Bule lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Dia ada jadwal bertemu dengan Anneke sebelum Anneke pergi ke kampus. Anneke sebenarnya menginginkan pertemuan di malam hari katanya sekalian makan malam bersama. Akan tetapi Bang Bule tidak mau.
Beberapa menit kemudian Bang Bule sudah selesai mandi. Setelah selesai berpakaian Bang Bule segera mengaktifkan hand phone nya yang masih dalam proses pengisian energi listrik. Dia sudah tidak sabar untuk melihat apa ada pesan masuk dari Ixora.
“Hmmm kenapa aku tertidur dan batere habis aku tidak mengerti.” Ucap Bang Bule menyesali dirinya sendiri
“Ini gara gara orang stres yang tidak selesai selesai mengajak berbicara.” Gumam Bang Bule dengan rasa kesal sebab kemarin Anneke memang mengajak berbincang bincang agak lama saat menentukan jadwal pertemuan.
Sesaat kemudian hand phone Bang Bule sudah aktif semua programnya. Ada notifikasi yang masuk ke hand phone nya banyak sekali. Selain dari Ixora ada juga pesan masuk dari Anneke dan juga banyak kolega lainnya.
Pesan yang paling pertama dia buka adalah pesan dari Ixora. Dia buka pesan suara dari Ixora.
Setelah Bang Bule mendengarkan suara Ixora dari hand phone nya.
“Beb, maafkan aku..” gumam Bang Bule yang sangat menyesal sebab dia tertidur dan hand phone nya off. Bang Bule sangat terharu bisa mendengarkan suara Ixora, dan Ixora benar benar berusaha untuk menghubungi dirinya.
“Beb maaf aku tadi malam tertidur karena kecapekan tidak tahu batere ngedrop.”
TING .....
Pesan terkirim akan tetapi hanya centang satu. Bang Bule mengusap wajahnya dengan kasar.
“Hmmm susah sekali berkomunikasi dengan Ixora.” Gumam Bang Bule lalu dia mengirim pesan suara lagi. Biar Ixora senang bisa mendengarkan suara asli nya bukan suara seorang Kakek Penjual Obat.
“Beb, Mama aku datang dari Belanda, dia ingin berkenalan dengan kamu. Tolong ya Beb cari cara agar kita bisa ketemu.”
TING
Pesan terkirim dan masih centang satu. Akan tetapi Bang Bule yakin pasti nanti Ixora akan berusaha untuk mengaktifkan hand phone khususnya.
Setelah mengirim pesan buat Ixora. Bang Bule lalu membuka pesan pesan yang lainnya. Termasuk pesan dari Anneke yang mengatakan dia sudah menunggu di rumahnya.
“Hmmm kenapa aku malas menemui dia.” Gumam Bang Bule
__ADS_1
“Benar aku batalkan saja.” Ucap Bang Bule selanjutnya
“Bukannya aku bisa meretas data data yang ada di hand phone dia.” Ucap Bang Bule sambil tersenyum
“Gara gara Mama kasih waktu satu minggu saja dan gara gara laki laki brengsek itu, otakku menjadi beku sesaat. Untung sudah cair lagi.”
Bang Bule pun segera mengetik pesan teks buat Anneke, dia menulis pesan tentang pembatalan pertemuannya.
Setelah pesan terkirim Bang Bule menaruh lagi hand phone nya agar baterai terisi penuh. Bang Bule selanjutnya duduk di kursi kerjanya dan dia membuka lap topnya. Dia akan meretas data data Anneke untuk mencari bukti tentang perjodohan Ixora dan Carol.
Saat Bang Bule masih menunggu proses masuknya data data Anneke ke dalam lap topnya. Terdengar suara ketukan pintu kamarnya.
TOK.. TOK.. TOK...
“Vin, buka pintunya.” Suara Nyonya Jansen dengan lembut. Bang Bule pun lalu bangkit dari tempat duduknya dan membukakan pintu buat Sang Mama. Saat pintu dibuka Sang Mama berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi satu cangkir kopi dan satu piring datar berisi sarapan buat Bang Bule.
“Mama buatkan boterkoek enak buat sarapan.” Ucap Nyonya Jansen dengan bibir tersenyum sambil menyodorkan nampan.
“Dank je Mam.” Ucap Bang Bule mengucapkan terima kasih buat Sang Mama sambil mencium pipi Sang Mama. Lalu menerima nampan dari tangan Sang Mama.
“Geen dank.. sama sama Vin. Kamu kan sudah lama tidak merasakan masakan Mama.” Ucap Sang Mama sambil menepuk nepuk bahu Vincent. Sang Mama lalu meninggalkan kamar Bang Bule Vincent, sebab Sang Mama tahu anaknya sedang bekerja karena melihat lap top di atas meja kerja sudah aktif.
Bang Bule lalu kembali melangkah menuju ke kursi rotan panjang legendaris. Dia taruh nampan berisi cangkir kopi dan sarapan di meja dan dia pun duduk di kursi rotan itu, Bang Bule menikmati sarapan buatan Sang Mama sambil menunggu proses data data Anneke yang dia retas masuk ke memori lap topnya.
Bang Bule bangkit berdiri setelah sarapannya habis. Dia melangkah dan duduk kembali di kursi kerjanya. Bang Bule menekan sembarang tombol tuts dan dia melihat layar lap topnya terlihat data data Anneke sudah masuk seratus persen.
Dengan segera Bang Bule membuka file itu.
“Hmmm yang mana ya, banyak sekali video di datanya.” ucap Bang Bule agak bingung untuk memperkirakan mana rekaman bukti yang dia cari.
“Kok banyak sekali video dengan judul praktikum, ada praktikum sampai ratusan. Praktikum di kuliah kedokteran macam apa... “ gumam Bang Bule lalu dia mengklik salah satu video praktikum Anneke.
Setelah terbuka, abagradabrak gedubrak..
Mata Bang Bule melotot hampir copot sebab itu rekaman video Anneke sedang enak enakan.
“Busyeeet.” Umpat Bang Bule
__ADS_1