
“Ma, orang orang media sudah keluar dari ruang konferensi pers Ma..” ucap Dealova yang melonggokkan kepala nya di pintu untuk melihat situasi luar dan melihat para media men sudah membawa peralatan mereka ke dalam mobil nya.
“Hah kok bisa kita tidak diwawancara harus nya kan orang tua Isomah juga diwawancarai.” Teriak Nyonya William sambil bangkit berdiri.
“Hah.. mana pembersih make up di dalam tas Ixora.” Ucap Nyonya William lagi yang masih tampil dengan make down nya.
“Ayo kita segera pulang.” Ajak Nyonya William selanjutnya. Pak Wagiman pun hanya menurut dan berjalan di barisan paling belakang.
“Yach kita tidak bisa menunjukkan wajah cantik kita dong.” Gumam Dealova sambil terus berjalan di samping Sang Mama menuju ke mobil nya.
Para petugas media yang berjalan lalu lalang pun tidak mempedulikan mereka.
Sementara itu Anneke yang hari ini tidak berangkat ke kampus sedang duduk duduk santai di ruang keluarga bersama Maminya.
“An kok kamu belum hamil hamil juga.” Ucap Mami nya Anneke sambil menatap anak perempuannya dengan prihatin. Sebab dia pun juga sangat berharap mendapatkan cucu dari benih nya Carol pewaris kekayaan Tuan Alfredo.
“Iya Mam, ga tau nih, padahal kata Dokter kondisi kandungan ku baik baik saja segala program hamil juga sudah aku lakukan, segala gaya pun sudah aku lakukan. Sampai kakiku sakit.” Ucap Anneke sambil mengelus elus dengkulnya.
“Apa perlu kamu ajak Carol periksa.” Usul sang mami
“Ah Mami itu aneh, sudah pasti jelas Kak Carol tidak mau.” Ucap Anneke sambil manyun bibir nya.
Akan tetapi saat Mami nya Anneke menekan tombol power pada remot control televisi nya dan setelah layar televisi muncul gambar dan suara siarannya.
“Eh Mam.. Mam...” suara Anneke tampak kaget.
“Mam itu Isomah ngapain dia muncul di televisi.” Ucap Anneke saat melihat sosok Isomah muncul di layar televisi.
“Pasti acara dia menang lomba, acara ga mutu.” Ucap Anneke Lalu merebut remot control dan memindah chanel.
“Hah? Kok semua acara televisi ada dia?” ucap Anneke saat memindah mindah chanel.
__ADS_1
“Kok ada Tuan Alfredo dan Tuan William?” ucap Anneke dan Mami nya heran. Karena penasaran mereka pun terus memperhatikan siaran konferensi pers itu.
“Ma.mm..” teriak Anneke saat seluruh make down di wajah Ixora telah hilang dan tampak wajah cantik alami Ixora.
“Mam ternyata gembel itu Ixora Mam.” Ucap Anneke dengan ekspresi tampak kaget.
“Dia akan menjadi primadona kampus dan hiks .. hiks.. Tuan Alfredo sudah mengatakan ke publik kalau Ixora calon menantunya ” Ucap Anneke yang mulai khawatir dan sedih
“Tenang saja An, bukannya kamu sudah menjadi istrinya Carol.” Ucap Maminya Anneke berusaha menghibur anaknya.
“Kenapa aku tidak hamil hamil Mammmm?” tanya Anneke dengan suara melengking.
“Apa aku perempuan mandul Mam hua... hua... hua...” ucap Anneke yang mulai khawatir dia tidak bisa hamil dan pupus sudah harapan untuk memiliki anak dari benih Carol Alfredo. Anneke pun mulai menangis karena perasaan sedih dan kecewa campur aduk.
“Dokter mungkin bohong ke aku bilang kandungan ku baik baik padahal aku mandul hua.. hua...” teriak Anneke yang menangis histeris sambil memukul mukul perutnya sendiri. Mami Anneke hanya bisa mengelus elus pundak Anneke.
Sementara itu di lain tempat di kantor pengacara Carol.
“Semua orang dihubungi kok tidak diangkat. Telepon kantor pun berdering juga tidak diangkat.” Ucap Carol yang berkali kali menghubungi sekretaris nya tidak diangkat. Menghubungi semua karyawan lainnya pun tidak ada yang mengangkat.
Sesaat mata nya melotot karena banyak tempat duduk kosong, sedang kan orang yang masih ada dan duduk tampak serius menatap layar hand phone nya. Dia melihat acara konferensi pers Ixora lewat hand phone nya.
“Ke mana orang orang?” tanya Carol dengan lantang.
“Di ruang loby Tuan.” Jawab nya dengan pandangan mata tanpa lepas dari layar hand phone nya.
“Kurang ajar semua.” Umpat Carol sambil berjalan dengan langkah lebarnya menuju ke ruang lobby.
Dannn..
Saat Carol sudah berada di ruang lobby tampak banyak orang sedang serius menatap layar televisi yang menempel di dinding.
__ADS_1
Pandangan mata Carol pun tertuju ke arah layar televisi itu.
“Gembel itu mau apa?” tanya Carol pada diri nya sendiri di dalam hati, saat melihat di layar televisi tampak wajah Isomah yang sedang mulai menghapus make down nya.
Mata dan telinga Carol terus memperhatikan siaran televisi itu, jantung Carol pun semakin berdetak kencang seiring make down Isomah semakin terkikis habis.
Dan beberapa saat kemudian.
“Wow Nona Ixora benar benar cantik natural.” Teriak mereka semua para karyawan Carol yang melihat kecantikan Ixora setelah make down di wajah nya hilang.
Dan tiba tiba..
BRUUUUKKK
Bunyi suara benda jatuh. Semua orang menoleh ke arah suara benda jatuh itu.
“Tuan Carol!” teriak mereka semua saat melihat tubuh Carol tergeletak di lantai. Mereka pun segera bangkit dan berlari menuju ke tempat di mana Carol roboh.
“Tuan Carol kenapa?” teriak salah satu dari mereka
“Dia pingsan.” Jawab beberapa karyawan yang jongkok di dekat tubuh Carol. Mereka pun segera menggotong tubuh Carol.
“Bawa ke rumah sakit saja, dari pada kita kesalahan jika kenapa napa.” Perintah sang sekretaris yang tahu jika Carol ada masalah dengan Isomah dan ternyata Isomah adalah gadis pujaan hati nya. Sang Sekretaris pun khawatir jika Carol terkena serangan jantung atau penyakit lain nya bukan pingsan biasa.
Para karyawan itu pun segera membawa tubuh Carol ke mobil dan akan dibawa segera ke rumah sakit.
“Semoga saja Tuan Carol baik baik saja.” Gumam Sang Sekretaris sexy itu lalu dia pun mengambil hand phone nya untuk menghubungi orang tua Bos nya itu.
Nyonya Alfredo yang sedang di dalam ruang keluarga yang baru saja melihat acara konferensi pers dengan dua orang pelayan nya. Tampak kaget mendengar suara dering hand phone yang berbunyi secara terus menerus, menganggu nya karena dia pun berharap masih ada wawancara tentang besanan nya dengan keluarga William.
Dengan malas Nyonya Alfredo meraih hand phone nya yang berada di atas meja.
__ADS_1
“Sekretaris Carol, ada apa.” Gumam Nyonya Alfredo saat melihat di layar hand phone nya ada nama kontak sekretaris Carol melakukan panggilan suara. Nyonya Alfredo pun lalu menggeser tombol hijau.
“Carol pingsan?” tanya Nyonya Alfredo saat sang sekretaris Carol sudah memberi kabar keadaan Carol. Dan setelah diberi tahu Carol sudah di bawa ke rumah sakit. Nyonya Alfredo pun segera bersiap siap menuju ke rumah sakit. Dia akan menghubungi suaminya saat di dalam mobil nanti.