Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 110.


__ADS_3

“Yeeeeea.” Teriak Isomah sambil loncat loncat kegirangan. Richardo yang masih mengelus ngelus dada nya tampak kaget dan jantungnya yang tadi sudah sedikit mereda debar debar nya kembali kencang lagi detak nya.


Richardo pun berjalan satu langkah ke depan untuk melihat papan sasaran tembak yang tadi tertutupi oleh tubuh Isomah. Richardo mengira Isomah bisa menembak tepat pada sasaran. Akan tetapi saat mata Richardo melihat papan sasaran tembak semua gambaran lingkaran masih mulus.


“Nona apa yang membuat Nona girang?” tanya Richardo dengan ekspresi bingung dan khawatir. Dia khawatir jika Isomah melihat diri nya yang sedang mengelus ngelus dada.


“Bagaimana tidak girang, bukannya itu sudah mengenai papan.” Jawab Isomah dengan senyuman lebar nya memperlihatkan gigi nya yang putih bersih dan tersusun rapi.


“Tapi belum mengenai lingkaran Nona. Lingkaran paling luar pun belum. Hanya menyerempet pada papan itu.” Ucap Richardo sambil menatap wajah Isomah.


“Ahhh tidak apa yang penting kan sudah mengenai papan meskipun hanya nyerempet he.. he.... dari pada tadi mengenai saja tidak malah melesat jauh mengenai dinding he... he....” Ucap Isomah sambil tertawa kecil lalu nyengir. Dan itu membuat Richardo semakin gemas dan secara spontan tangan kanan Richardo mengacak acak rambut puncak kepala Isomah sambil tersenyum.


Isomah yang tangannya sudah kembali pada posisi siap siap akan menembak tampak kaget dengan perlakuan Richardo itu. Isomah pun menjauhkan kepala nya dari tangan Richardo.


“Maaf Nona. Silahkan dilanjutkan latihannya.” Ucap Richardo lalu berjalan menjauh dari Isomah.


“Tuan jangan pergi saya takut sendirian di ruang ini.” Teriak Isomah sambil menoleh ke arah Richardo yang masih berjalan.


Richardo terus berjalan dia terus melangkah menjauhi Isomah yang masih berdiri di tempat posisi latihan tembak.


“Apa aku suruh Nona Eveline saja yang melatih Nona Ixora, namun Nona Eveline sudah sejak lama suka dengan Bang Bule. Aku tidak tega pada Nona Ixora jika mereka hanya berdua di dalam ruang rahasia ini. Tidak tahu apa isi hati Nona Eveline pada Nona Ixora apa ada perasan iri dan benci.” Gumam Richardo mulai gelisah hati nya

__ADS_1


Richardo lalu melangkah menuju ke tempat kursi lipat yang ditaruh dan disandarkan pada dinding ruangan itu. Dia mengambil dua buah kursi itu lalu dia kembali melangkah menuju ke tempat Isomah yang masih berlatih.


“Saya mengambil kursi ini Nona.” Ucap Richardo lalu menaruh kursi itu tidak jauh dari tempat Isomah berdiri. Richardo lalu mengambil tote bag Isomah yang tergeletak di lantai dan ditaruhnya di atas kursi. Sedang satu kursi lainnya dia taruh agak jauh dari tempat Isomah berdiri. Lalu dia duduk di kursi itu di depannya agak jauh juga ada papan tembak yang bisa diatur jarak jauh dekat nya dari dia tempat berada. Richardo lalu mengambil senjata api nya dari saku pakaiannya. Dia pun mengarahkan posisi pucuk senjata nya pada papan tembak sambil duduk di kursi. Dan ....


DOR


Peluru tepat mengenai pusat lingkaran.


“Tuan keren sekali, tembak sambil duduk langsung kena di tengah. Kenapa saya belum bisa.” Teriak Isomah sambil menatap papan tembak milik Richardo yang sudah bolong di pusat nya. Sedangkan papan tembak miliknya masih mulus mulus saja lingkaran nya, hanya bagian luar lingkaran saja yang terluka.


“Nona kan baru pertama memegang senjata. Coba terus.” Ucap Richardo memberi motivasi.


“Mari Nona kita akhiri latihan hari ini, nanti Nona terlalu sore hari sampai kost.” Ucap Richardo saat Isomah sudah bisa melukai lingkaran sasaran tembak dengan tiga pelurunya. Dan dia kini masih berlatih dengan posisi duduk ikut ikut pada cara Richardo.


“Tidak apa apa, Tuan kan sudah tahu kalau aku adalah Ixora, kalau aku sudah sampai kost pasti dijemput Pak Wagiman dan aku harus ke mansion untuk bertemu dengan Kak Carol, aku tidak suka pada diri nya.” Ucap Isomah dengan nada kesal dan....


Isomah menekan pelatuk senjata api dengan kesal pula. Akan tetapi Peluru dari senjata Isomah tepat mengenai pusat lingkaran. Isomah dan Richardo pun kaget sampai melotot mata mereka. Lalu Richardo bangkit berdiri dan memberi aplaus..


“Kok, bisa ya?” tanya Isomah yang heran pada diri nya sendiri sedangkan Richardo masih memberi applaus sambil tersenyum bahagia.


“Harus diabadikan nih dan dikirim ke Kak Alexa dan Bang Bule.” Ucap Isomah selanjutnya lalu mengambil hand phone nya yang berada di dalam tote bag nya yang sudah kembali tergeletak di atas lantai. Isomah pun segera mengaktifkan hand phone nya yang mulai memotret papan sasaran tembak nya yang lingkaran pusat nya sudah terkena tembakan peluru nya. Dia akan mengirim pada Alexandria dan Bang Bule namun dia batalkan sebab tidak ada jaringan di ruang rahasia itu.

__ADS_1


“Mari Nona, besok kita latihan lagi.” Ucap Richardo sambil menatap Isomah yang masih duduk di kursi.


“Aku sebenarnya ingin bertanya pada Nona Ixora bagaimana jika Bang Bule tidak kembali lagi ke Indonesia. Tapi moment sudah tidak pas, gara gara tembakan nya tepat pada sasaran. “ gumam Richardo dalam hati sambil masih menatap wajah Ixora yang masih dalam wujud Isomah.


“Ayo, aku akan mengirim foto ini pada Kak Alexa dan Bang Bule.“ ucap Isomah lalu dia segera bangkit berdiri dan tidak lupa memasang lagi kaca mata nya dan menyerahkan lagi senjata api kepada Richardo.


Mereka berdua lalu melangkah meninggalkan lokasi latihan tembak. Richardo pun melangkah menuju ke lemari senjata dan menyimpannya lagi di sana.


Dengan sopan Richardo mempersilahkan Isomah untuk menaiki anak tangga lebih dahulu, sebab dia akan mematikan lampu ruang bawah tanah itu.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah keluar dari pintu ruang rahasia itu. Richardo tidak lupa mengunci dan mengembok pintu kuat dan kokoh itu.


Di saat mereka melangkah ada satu sosok yang melihat mereka dari jarak agak jauh dan


“Hah? Mereka berdua keluar dari pintu terlarang itu?” gumam sosok yang melihat Richardo dan Isomah dari sela sela pohon pohonan. Sosok itu yang tidak lain adalah Nency yang sedang bertugas menyapu halaman.


“Apa yang sudah mereka lakukan? Apa mereka melakukan suatu hal terlarang. Kedua nya tampak capek tapi tersenyum bahagia.” Gumam Nency lagi sambil terus melihat Richardo dan Isomah yang masih berjalan menuju ke mobilnya.


“Ah pasti lah gituan mau apa lagi dua orang manusia laki laki dan perempuan berdua dua di dalam ruang yang tidak ada orang boleh masuk ke sana. Tuan Richardo mau bantu gembel yang tidak punya uang buat bayar, paling dibayar dengan tubuhnya.” Ucap Nency masih terus saja berpikir negatif pada Richardo dan Isomah. Akan tetapi tiba tiba


“Haduuuuuuuuh." Teriak Nency yang langsung melempar sapu lidi nya dan dengan spontan tangan kirinya memegang jari telunjuk kanannya yang tiba tiba terasa sakit dan langsung bengkak.

__ADS_1


__ADS_2