
Isomah hatinya teramat sangat bahagia, karena diberi tawaran oleh Ibu Dosen nya untuk ikut lomba penelitian dan juga ada kesempatan untuk lomba tingkat Internasional. Setelah keluar dari ruangan Ibu Dosen itu dia melihat jam dinding yang tertempel di dinding yang dia lewati.
“Masih ada waktu, aku ke perpustakaan sebentar sebelum kuliah, untuk pinjam buku buku yang aku butuhkah." gumam Isomah, lalu dia segera melangkah menuju ke gedung perpustakaan sebelum dia mengikuti kuliah sore hari.
Karena begitu bahagia dan sibuk nya, sampai sampai Ixora lupa untuk menghubungi balik pada Bang Bule.
Berbeda dengan Ixora yang tengah bahagia dan sibuk, sedangkan Bang Bule semakin gundah gulana dan gelisah hati nya. Dia belum menyusul Papa nya ke lokasi peternakan. Sejak tadi masih berbaring di sofa sambil sesekali mengecek hand phone nya menunggu panggilan dari Ixora.
“Vin, sudah semakin siang kamu juga belum menyusul Papa.” Ucap Sang Mama yang berjalan mendekati Bang Bule Vincent.
“Cepat sana pergi. Mama kok pusing lihat orang hanya terkapar tapi tidak sakit.” Ucap Nyonya Jansen yang kini dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke arah Bang Bule Vincent, lalu Nyonya Jansen geleng geleng kepala melihat anak laki laki nya itu.
“Salah siapa yang membawa aku ke sini.” Ucap Bang Bule Vincent sambil terus memegangi hand phone nya.
“Hmmm maka Mama nya Ixora tidak mau punya mantu macam kamu. Orang hanya tidur makan saja.” Ucap Nyonya Jansen masih menatap anak laki laki nya.
“Ma, aku kemarin rajin kerja, bisa menghidupi banyak orang tuh!” ucap Bang Bule yang sensi, karena dibilang Mama nya hanya makan tidur saja. Bang Bule lalu bangkit dari tidurnya.
“Aku begini kan gara gara dibawa paksa oleh Mama.” Ucap Bang Bule lagi lalu dia melangkah untuk keluar dari rumah nya.
Bang Bule lalu menaruh hand phone nya ke dalam saku celana cargonya. Dia masih berharap Ixora segera menghubungi nya. Bang Bule terus melangkah menuju ke garasi. Sesampai di garasi dia segera membuka pintu jeep yang ada di garasi itu. Bang Bule terpaksa harus segera meninggalkan rumah untuk menuju ke lokasi peternakan dari pada mendapat omelan dari Mama nya.
Dengan cepat Bang Bule masuk ke dalam mobil jeep nya. Bang Bule segera menjalan kan mobilnya meninggalkan garasi dan selanjutnya meninggalkan halaman rumah nya. Perjalanan dari rumah ke lokasi peternakan memakan waktu kira kira setengah jam dengan laju kecepatan sedang.
__ADS_1
“Ixora sibuk apa sih? Bukannya harus nya tadi dia waktu nya istirahat.” Gumam Bang Bule sambil fokus pada kemudi mobilnya. Dia menambah laju kecepatan laju mobil nya agar bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki kawasan peternakan milik keluarga Jansen. Bang Bule membelokkan mobilnya memasuki pintu pagar. Bang Bule terus menjalankan mobilnya memasuki halaman peternakan yang sangat luas itu.
Sesaat mata Bang Bule melihat ada mobil mobil lain yang terparkir di samping mobil Papanya. Bang Bule mengira itu mobil mobil karyawan atau mobil relasi kerja Papa nya.
Bang Bule lalu menghentikan mobil di antara mobil mobil yang sudah lebih dulu terparkir. Bang Bule segera turun dari mobilnya. Bang Bule terus berjalan untuk mencari Papa nya berada. Beberapa karyawan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Bang Bule menyapa beberapa karyawan yang ditemuinya, dan dia terus melangkah menuju ke suatu bangunan. Bang Bule segera masuk ke dalam bangunan itu, di situ ada berpuluh puluh ekor sapi perah yang sudah terpasang oleh alat perah di tubuh masing masing sapi itu. Para karyawan mengambil wadah yang sudah terisi penuh oleh susu sapi.
Sesaat mata Bang Bule menatap sosok Papa nya yang sedang berdiri dengan dua gadis bule yang cantik cantik. Bang Bule terus melangkah mendekati Papa nya berdiri.
“Itu dia orang nya sudah datang.” Ucap Tuan Jansen sambil menatap Bang Bule yang berjalan menuju ke arah nya.
“Makin macho saja kamu.” Puji salah satu dari mereka sambil tersenyum lebar.
“Apa kabar Vin?” tanya salah satu dari mereka. Lalu mereka berdua menjabat tangan Bang Bule dan dilanjutkan dengan cipika cipiki. Bang Bule hanya datar datar saja menanggapi mereka berdua.
“Kita ke sini mau ikut sayembara yang diadakan oleh Tuan Jansen.” Ucap salah satu dari mereka sambil menatap kagum pada sosok Bang Bule. Meskipun wajah Bang Bule tidak terurus mereka berdua malah suka karena menurutnya malah terkesan macho.
“Sayembara apa? Memerah susu sapi? Bukannya sekarang sudah modern pakai alat pemerah.” Tanya Bang Bule dengan heran sambil menatap Sang Papa.
“Bukan memerah susu sapi. Tapi memerah hati mu itu agar mengalir cintanya kepada ku ha... ha...” jawab salah satu dari kedua gadis cantik itu sambil tertawa.
__ADS_1
“Pa, sayembara apa?” tanya Bang Bule lagi sambil menatap tajam ke arah Papa nya.
“Iya, aku buat sayembara siapa gadis yang bisa mendapatkan hatimu itu akan aku jadi kan menantuku.” jawab Sang Papa dengan santai sambil tersenyum.
“Lumayan baru aku buka, tadi pagi sudah ada beberapa yang daftar.” Ucap Sang Papa lagi.
“Pa, hentikan segera. Atau aku kembali ke Indonesia sekarang juga.” Teriak Bang Bule dengan nada tinggi.
“Okey okey, aku hentikan tapi urus sapi sapi itu!” suara Tuan Jansen juga dengan nada tinggi sambil menatap anak laki lakinya itu.
“Dan jangan kamu teriak teriak, sapi sapi itu bisa stres tidak keluar susu nya.” Ucap Tuan Jansen selanjutnya setelah sadar sapi sapi nya bisa stres jika mendengar keributan
“Itu Papa tadi juga teriak.” Ucap Bang Bule sambil menatap Sang Papa
“Ini gara gara kamu.” Ucap Tuan Jansen yang kini dengan suara pelan.
“Tuan, terus bagaimana dengan kami?” tanya dua orang gadis cantik itu.
“Kalian tetap peserta sayembara. Bukannya Vincent hanya meminta dihentikan bukan dibatalkan.” Ucap Tuan Jansen lalu melangkah meninggalkan Bang Bule dan kedua gadis cantik itu.
“Vin, sekarang kamu urus sapi sapi dan kedua gadis itu. Aku mau pulang.” Ucap Tuan Jansen selanjut nya sambil menoleh dan tersenyum ke arah Bang Bule Vincent.
Bang Bule Vincent menggaruk garuk kepalanya yang rambutnya semakin gondrong. Dua gadis cantik itu terlihat tersenyum sambil menatap Bang Bule.
__ADS_1
“Ayo Vin, kita lanjutkan pekerjaan Tuan Jansen.” Ucap salah satu gadis cantik itu sambil menarik tangan Bang Bule Vincent.