
Keesokan paginya di mansion Alfredo. Carol sudah berpakaian rapi dia akan berangkat ke kantor lebih awal karena beberapa hari dia sudah izin tidak masuk. Kemarin dia seharian istirahat di kamarnya. Meskipun dia melakukan program vasektomi yang terbaik yang promosi nya tanpa rasa sakit setelahnya, akan tetapi tetap saja dia merasakan sedikit sakit.
Dia tidak mau diganggu oleh Anneke. Hand phone dia off sejak pulang dari Mansion William. Apalagi sesampai di Mansion Alfredo dia mendapatkan laporan Anneke mencarinya.
Carol melangkah keluar dari kamar mewahnya berjalan menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama keluarganya. Tampak kedua orang tuanya Tuan dan Nyonya Alfredo juga Caroline adiknya sudah duduk di kursi makan.
Carol menyapa dan memberi ucapan selamat pagi pada orang tua dan adiknya. Lalu dia duduk di kursi di samping Caroline.
“Kamu kemarin sudah bertemu dengan Ixora?” tanya Tuan Alfredo saat Carol sudah mendudukkan pantatnya.
“Iya Pa tidak sengaja bertemu di bandara. Nyonya William juga meminta aku untuk datang ke mansion William tiap week end.” Jawab Carol sambil tersenyum lebar lalu dia menceritakan kejadiannya kemarin saat bertemu dengan Ixora dan Tuan William di bandara.
“Syukurlah, aku berharap pernikahan kalian segera terlaksana.” Ucap Tuan Alfredo sambil tersenyum. Carol pun terlihat mulai memakan sarapan nya.
“Kamu mulai sekarang jauhi perempuan perempuan yang selama ini kamu pacari itu..” ucap Tuan Alfredo sambil menatap wajah Carol
“Iya Pa.” Ucap Carol singkat lalu melanjutkan sarapannya akan tetapi dalam hati dia masih berpikir bagaimana caranya menyembunyikan hubungannya dengan Anneke.
Tuan Alfredo tampak bibirnya tersenyum senang, impiannya memiliki menantu puteri Tuan William pemilik perusahaan besar tempat saham nya bersemayam akan segera menjadi kenyataan. Sedangkan Nyonya Alfredo dan Caroline hanya diam saja sambi meneruskan sarapannya.
Setelah Carol menyelesaikan sarapan nya Carol pamit meninggalkan meja makan terlebih dahulu.
Carol berjalan meninggalkan ruang makan menuju ke pintu utama Mansion. Dia dengan cepat membuka pintu itu dengan cepat pula dia berjalan menuju ke mobilnya yang sudah disiapkan oleh sopir pribadi keluarga Alfredo, mobil sudah berada tidak jauh dari pintu utama Mansion Alfredo.
__ADS_1
Saat sudah masuk di dalam mobilnya Carol mengaktifkan hand phone nya. Carol menaruh hand phone nya pada holder yang terpasang di dash board mobil nya. Carol lalu memasang sabuk pengaman. Sesaat kemudian banyak notifikasi masuk ke dalam hand phone nya. Dan tidak lama kemudian terdengar suara dering di hand phone nya.
“Anneke.” Gumam Carol yang melihat di layar hand phone nya tertera nama kontak Anneke melakukan panggilan suara. Carol pun lalu meraih hand phone nya.
“Kok baru diaktifkan hand phone nya? Sembunyi ya? Tidak mau diganggu yang sedang berduaan dengan Ixora ya?" Suara Anneke dengan keras dan nada tinggi penuh emosi saat Carol sudah menggeser tombol hijau, sampai sampai Carol dengan cepat menjauhkan hand phone nya.
“An bukan begitu...” potong Carol selanjutnya dengan suara keras pula.
“Kak Carol bohong ya? Akan meninggalkan aku kan? Aku sudah menjaga rahasia itu tetapi Kak Carol tidak menepati janji.” Suara Anneke lagi tidak kalah kerasnya dari suara Carol.
“Aku akan datangi Ixora sekarang juga. Akan aku katakan pada keluarga William kalau aku adalah teman tidur Kak Carol.” Ancam Anneke penuh emosi
“An jangan lakukan itu!” teriak Carol dengan keras dia sangat khawatir Anneke nekat melakukan hal itu.
“Tunggu sebentar aku akan datang ke rumahmu. Aku jelaskan semua nya nanti. Aku kemarin benar benar sakit.” Ucap Carol lalu dia segera memutus sambungan teleponnya. Carol menaruh hand phone nya lagi pada holder yang terpasang di dash board mobil nya.
“Hmmm aku ke rumah Anneke dulu, sebelum dia berbuat nekat.” Gumam Carol lalu dia menambah laju kecepatan mobilnya saat sudah memasuki jalan raya.
“Kalau Bule itu sudah pergi sudah sedikit ringan hanya perlu energi untuk meluluhkan hati Ixora dan mengatasi Anneke.” Gumam Carol sambil tersenyum karena rivalnya sudah menyingkir dengan sendirinya.
Carol terus melajukan mobilnya dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Anneke agar tidak membuat ulah di keluarga William.
Beberapa menit kemudian mobil Carol sudah memasuki halaman rumah Anneke. Setelah turun dari mobilnya Carol langsung mencari Anneke.
__ADS_1
“Ayo sekarang kita lakukan pernikahan itu. Papiku masih di rumah biar dia yang menikahkan.” Ucap Anneke setelah membukakan pintu untuk Carol.
“An jangan sekarang.” Ucap Carol lalu dia melangkah masuk dan berjalan menuju ke ruang tamu.
“Apa? Menunda lagi? Yakin dech Kak Carol akan mengingkari janji!” Ucap Anneke dengan nada tinggi dan wajahnya memerah karena emosi.
“Jangan menyesal ya kalau perjodohan Kak Carol dengan Ixora batal.” Ucap Anneke lagi yang dia masih saja berdiri.
“An, aku tidak akan mengingkari janji tapi ingat jangan kamu buat perjodohanku dengan Ixora batal. Kamu tahu kan siapa Tuan Alfredo kalau kamu orang yang membatalkan impiannya bisa habis kamu.” Ucap Carol yang sudah duduk di kursi panjang di ruang tamu itu sambil menatap tajam ke arah Anneke
“Iya iya tapi cepat.” Ucap Anneke Lalu dia juga mendudukkan pantatnya di kursi di samping Carol.
“Satu minggu lagi.” Ucap Carol kemudian dan dia tampak berpikir keras karena dia masih harus test uji air mani yang dia keluarkan untuk memastikan sudah benar benar steril dari kecebongnya.
“Mundur terus kayak orang ditagih pinjaman uang saja.” Ucap Anneke dengan bibir cemberut.
“Cuma mau dikasih enak enak saja susahnya minta ampun.” Ucap Anneke selanjutnya sambil dengan gestur tubuh menggoda
“Please An, satu minggu lagi kamu siapkan keperluan nya semua tagihan aku yang bayar semua.” Ucap Carol dengan suara melemah sebab dia mulai tergoda pada gerakan tubuh Anneke.
“Harus dong. Dan antar juga sekarang kita beli semua keperluan pernikahan kita.” Ucap Anneke dengan senyuman merekah dan tangannya menggandeng lengan Carol sambil semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Carol.
“Nanti aku kasih yang enak enak.” Ucap nya lagi sambil terus mepet mepet.
__ADS_1
“An kamu pergi sendiri ya, enak enaknya besok saja.” Ucap Carol sambil sedikit menjauhkan tubuhnya berusaha menghindar agar tidak dekat dekat dengan Anneke sebab dia masih belum boleh melakukan enak enak.
“Apa Kak Carol sudah tidak menyukai aku karena sudah enak enakan dengan Ixora ya. Hmmm harus cepat cepat aku hamil dari benihnya. Sebelum dia mencampakkan aku karena sudah ada Ixora.” Gumam Anneke sambil berpikir pikir mencari cara agar tujuan nya cepat terlaksana.