Ixora Gadisnya Bang Bule

Ixora Gadisnya Bang Bule
Bab. 89. Hinaan dan Umpatan


__ADS_3

Keesokan paginya. Kantong mata Ixora terlihat menghitam karena semalaman tidak bisa tidur.


“Aku ke rumah Ibu Dosen saja, untuk melihat bukti yang sudah discreen shot itu.” Gumam Ixora lalu dia pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.


Beberapa menit kemudian Ixora sudah keluar dari kamar mandi lalu dia melakukan make down seperti yang biasa dia lakukan saat tampil sebagai Isomah.


Saat dia sudah selesai make down terdengar bunyi dering di hand phone nya, juga banyak notifikasi masuk.


Ixora segera melangkah menuju ke tempat tidurnya untuk mengambil hand phone nya yang masih tergeletak di sana. Saat dia melihat layar hand phone nya tertera nama kontak Sang Mama sedang melakukan panggilan suara.


“Sayang kamu sudah bangun. Sebentar Pak Wagiman datang untuk menjemputmu. Kita akan merayakan kemenangan kamu itu. Mama sangat bangga pada diri mu Nak.” Suara Nyonya William saat Ixora sudah menggeser tombol hijau.


“Tapi Ma....”


“Tidak ada tapi tapi. “ saut Nyonya William sebelum Ixora menyelesaikan kalimatnya. Nyonya William langsung memutus sambungan teleponnya. Padahal Ixora tadi akan mengatakan dia akan ke rumah Ibu Dosen karena ada hal yang harus diselesaikan. Ixora belum mengatakan pada keluarganya dan Bang Bule kalau dia dituduh sebagai plagiat. Ixora pun lalu melanjutkan untuk bersiap diri.


Ixora kemudian menghubungi Ibu Dosen nya kalau dia akan menemui Ibu Dosen di rumah nya. Ibu Dosen yang juga gelisah pun mengizinkan Isomah untuk datang ke rumahnya.


Ixora yang sudah selesai berkemas pun lalu melihat pesan pesan chat yang masuk di aplikasi chatting nya. Entah mengapa banyak sekali nomor asing masuk.


Saat Ixora membuka salah satu pesan chat dari nomor asing itu. Isi pesannya hanya umpatan yang intinya tidak terima dia sebagai juara karena dia hanya plagiat penelitian orang lain.


Ixora lalu menaruh hand phone nya ke dalam tote bag nya dia tidak melanjutkan untuk membuka yang lain nya dari pada agar semakin menebalkan energi negatif yang masuk ke dalam tubuh nya.


Sesaat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar kost nya dengan keras. Ixora melangkah cepat menuju ke arah pintu kamar kost nya.


Dengan cepat Ixora membuka daun pintu itu sebab ketukan pintu itu sangat keras sehingga membuat Ixora ingin tahu siapa dan ada perlu apa.


“Nak, ini siapa yang nempel nempel seperti ini.” Suara Pak Wagiman setelah pintu terbuka. Ekspresi Pak Wagiman tampak tegang wajahnya pun memerah menahan marah. Telunjuk jari nya pun menunjuk nunjuk daun pintu kamar Isomah bagian luar.


Ixora yang sudah berpenampilan sebagai Isomah pun segera melangkahkan kaki nya keluar dari pintu untuk melihat apa yang sudah ditunjukkan oleh Pak Wagiman.


Sesaat mata Isomah yang sudah memakai kacamata itu melotot karena kaget di pintu dan dinding banyak tempelan kertas kertas. Isomah membaca kertas kertas yang ditempel itu.

__ADS_1


“SOK LUGU TAPI PENIPU"


“JUARA PLAGIAT.”


“JUARA ODONG ODONG.”


“JUARA TOLOL.”


Dan masih banyak lagi tulisan di kertas kertas yang ditempel di pintu dan di dinding kamar luar Isomah yang isinya hinaan dan umpatan.


“Mungkin penghuni kost yang lain Pak.” Jawab Isomah sambil melepas kertas kertas yang ditempel di daun pintu dan di dinding luar kamar nya. Memang masih ada beberapa penghuni kost yang kemarin masih ada di rumah kost nya.


“Mungkin tadi malam atau pagi pagi mereka yang menempel.” Ucap Isomah selanjutnya dan Pak Wagiman pun ikut membantu Isomah melepas tempelan kertas kertas itu.


“Kenapa mereka melakukan hal itu Nak?” tanya Pak Wagiman sambil tangannya masih melepas kertas yang ditempel di dinding.


“Ada yang memfitnah saya Pak.” Jawab Isomah sambil membuang kertas kertas itu di tempat sampah


“Haduh Nak bagaimana bisa terjadi apa kamu memang menipu?” tanya Pak Wagiman sambil menatap Isomah.


“Pak sekarang antar saya ke rumah Ibu Dosen, biar Ibu Dosen yang menjelaskan.” Ucap Isomah lalu dia melangkah akan masuk ke dalam kamar nya


“Apa Ibu Dosen yang menipu, yang tolol. Kalau Bapak yakin kamu anak pintar.” Ucap Pak Wagiman dan Isomah yang mendengar semakin pusing, sebab jika nanti Pak Wagiman cerita ke Mama nya pasti akan salah paham lagi.


Tidak lama kemudian Isomah sudah keluar sambil membawa tote bag nya. Isomah dan Pak Wagiman pamit pada Bunda Naura. Bunda Naura yang baru sajs diberi tahu Isomah sangat sedih mendengar berita itu. Dan berdoa semoga masalah segera terselesaikan. Bunda Naura yang belum keluar dari rumah induk juga tidak tahu jika ada tempelan kertas kertas umpatan di kamar Isomah.


Isomah pun segera diantar oleh Pak Wagiman dengan motor nya untuk melaju menuju ke rumah Ibu Dosen.


Beberapa menit kemudian motor Pak Wagiman sudah memasuki gerbang perumahan khusus untuk dosen dosen universitas Mahardhika.


“Rumah nya yang mana Nak?” tanya Pak Wagiman yang bingung karena semua rumah hampir sama.


“Nomor 72 Pak diurutkan saja. Aku juga belum pernah ke sini.” Jawab Isomah sambil kepala menoleh melihat lihat nomor rumah.

__ADS_1


“Pak itu Pak depan sana, ini sudah nomor 64. Empat rumah lagi.” Teriak Isomah saat di kiri jalan yang mereka lewati deretan nomor rumah genap.


Beberapa saat kemudian motor Pak Wagiman berhenti di depan rumah bernomor 72. Rumah Ibu Retno. Isomah turun dari boncengan motor Pak Wagiman.


“Nak, Bapak tunggu di luar saja ya.” Pinta Pak Wagiman dan Isomah pun mengangguk, dia juga kuatir jika Pak Wagiman masuk malah heboh dan salah paham.


Isomah segera menekan bel tamu. Dan tidak lama kemudian Ibu Dosen sendiri yang keluar dari pintu rumah.


“Ayo masuk Is pintu pagar tidak dikunci. Kamu diantar siapa?” tanya Ibu Dosen sambil berjalan mendekati pintu pagar.


“Bapak Bu.” Jawab Isomah sambil membuka pintu pagar dan melangkah masuk. Pak Wagiman pun menganggukkan kepalanya. Dan Ibu Dosen menyuruh Pak Wagiman turut masuk ke dalam.


“Pak, diam saja loh.” Bisik Isomah saat Pak Wagiman ikut masuk ke dalam.


Se saat kemudian mereka bertiga sudah masuk ke dalam ruang tamu rumah Ibu Dosen. Terlihat di atas meja ada lap top yang masih aktif juga buku buku journal penelitian kampus berserakan di atas meja bahkan ada yang di lantai.


“Is, aku sudah check di data komputer penelitian kampus tidak ada dua judul hanya satu judul itu nama peneliti nya kamu Isomah Wagiman.” Ucap Ibu Dosen sambil duduk di kursi tamu.


Tampak Pak Wagiman tersenyum bangga karena namanya ikut disebut. Lalu dia juga turut duduk di salah satu kursi tidak jauh dari tempat duduk Isomah.


“Terus ini semua journal penelitian juga tidak ada.” Ucap Ibu Dosen selanjutnya sambil menatap buku buku journal penelitian kampus yang berserakan.


“Di journal penelitian digital juga tidak ada.” Ucap Ibu Dosen lagi dan ekspresi wajah nya tampak frustrasi.


“Apa bukti itu hasil editan ya Bu?” tanya Isomah yang mulai curiga.


“Terus siapa orang yang nama nya sebagai peneliti yang ada discreen shot itu Bu?” tanya Isomah lagi.


“Di data juga tidak aku temukan nama orang itu baik di penelitian mahasiswa atau penelitian dosen.” Jawab Ibu Dosen


“Coba kamu check lagi. Yang cetak juga yang digital.” Perintah Ibu Dosen selanjutnya pada Isomah sambil menyodorkan lap top nya.


“Aku coba amati foto bukti itu.” Ucap Ibu Dosen lagi dan dia terlihat mengusap usap layar hand phone nya.

__ADS_1


__ADS_2